Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Belum Bisa Dimulai 2019

Liputan6.com, Jakarta – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Surabaya belum menunjukkan kemajuan berarti. Sampai saat ini masih belum ada kata sepakat antara pihak pemerintah Indonesia dengan Jepang.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Zulfikri menyebutkan, saat ini proyek tersebut masih berkutat pada proses Pra-Studi Kelayakan. Namun proses yang dilakukan pihak Japan International Cooperation Agency (JICA) tersebut disebut sudah memasuki tahap akhir.

Dia mengungkapkan, saat ini Kemenhub tengah berupaya agar biaya proyek tersebut berada di kisaran Rp 60 triliun.

“Itu kan draft, masih draft, masih kasar. Memang kami minta Rp 60 triliun. Nah sekarang kita detailkan lagi,” kata Dirjen Zulfikri saat ditemui di kawasan Jakarta Kota, Senin (22/10/2018).

Zulfikri optimistis biaya proyek bisa berada di bawah prediksi awal yaitu Rp 60 triliun. “Pak menteri (Budi Karya Sumadi) minta itu biaya paling efisien, paling bisa murah,” ujarnya.

Tim ahli dari pihak Jepang akan datang dan melakukan studi untuk menentukan metodologi teknik pembangunan. Proses tersebut disebut bisa memakan waktu hingga satu tahun ke depan sehingga proyek kereta cepat belum bisa dimulai pada tahun 2019.

“Oh belum, belum (bisa dimulai tahun 2019),” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, masih banyak hal yang perlu didetailkan lagi antar kedua belah pihak. Saat ini ada tiga hal utama yang menjadi pokok bahasan dalam Pra-Studi Kelayakan proyek tersebut.

Yang pertama adalah biaya paling murah atau efisien, yang kedua penggunaa lokal konten maksimal, dan ketiga bisa melibatkan pihak swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

“TKDN tuh lokal kontennya tinggi, bicara lagi komponen-komponen yang bisa di KPBU kan tuh yang mana? ya gitu-gitu ini yang nanti didetailkan di sini,” jelasnya.

Dia menjelaskan proyek kereta cepat tersebut berjalan alot sebab merupakan proyek besar yang tidak sederhana.

“Ya kita kan ini kan bukan pekerjaan yang simpel gitu, ini kan suatu investasi yang demikian besar ya kan,” tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com