Berinvestasi Saat Ekonomi Tak Kondusif? Siapa Takut!

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus tembus di atas Rp 15.000 per Dollar AS. Hal tersebut tentunya memengaruhi keputusan kita untuk berinvestasi. Melihat nilai tukar yang tak kunjung stabil tersebut tentu Anda sering dihantui rasa bimbang, harus investasi sekarang atau menunggu hingga rupiah membaik?

Tapi ukuran membaik adalah suatu hal yang relatif bagi setiap orang, bagi sebagian orang definisi membaik bisa jadi bila harga dolar berada di kirasan 14.000 tapi sebagian lainnya nilai tukar dibilang membaik bila mampu menyentuh 10.000 per Dolar AS.

Bukan kali pertama ini rupiah terdepresiasi  tapi selalu kembali ke kondisi aman. Tapi, masalahnya tak ada yang bisa memprediksi kapan pastinya rupiah kali ini akan membaik lagi. Ditambah efek dari rupiah yang terdepresiasi harga saham sejak awal tahun hingga pertengahan September turun terus sampai di atas 6%, termasuk Reksa Dana Saham.

Tak hanya itu, suku bunga kredit pun mulai dinaikkan, tentu hal ini membuat Anda berpikir tujuh kali untuk memutuskan ambil kredit. Lalu, apa langkah sebaiknya dilakukan?

Melihat kondisi rupiah sekarang ada baiknya Anda menunda dahulu kegiatan yang melibatkan uang asing, contohnya bepergian dan berbelanja ke luar negeri, pakai uangnya untuk berinvestasi. Dengan menunda kegiatan melibatkan mata uang asing secara tidak langsung Anda juga membantu penguatan rupiah.

Lalu, apa solusi investasi di tengah gonjang-ganjing nilai tukar saat ini? Ini dia.

Beli saham mumpung murah

Saat ini rata-rata harga saham sedang lumayan murah karena sejak awal tahun hingga 14 September lalu, IHSG turun 6,6%. Jadi, pertimbangkan mulai beli Saham lagi mumpung sedang murah. Tapi perlu diingat sebaiknya mmebeli saham dari sektor-sektor yang tetap bagus prospeknya walaupun ekonomi sedang gonjang-ganjing, seperti sektor FMCG, infrastruktur dan perbankan.

Masuk ke produk-produk investasi Pendapatan Tetap

Kenaikan suku bunga biasanya pelan-pelan akan diikuti juga oleh kenaikan suku bunga simpanan seperti Deposito dan obligasi yang besar kemungkinan menawarkan kupon bunga yang juga lebih tinggi, seperti ORI 015 yang menawarkan Kupon Bunga 8,25% per tahun, beda jauh dengan ORI 014 tahun lalu yang menawarkan Kupon Bunga 5,85% per tahun.

Jadi, pertimbangkan untuk masuk ke produk-produk Pendapatan Tetap untuk mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi, seperti Deposito, Obligasi, atau produk Manajemen Investasi yang mengandung Deposito dan Obligasi seperti Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Pendapatan Tetap atau Unit Link Pendapatan Tetap.

Tak hanya Saham, Reksa Dana Saham atau Unit Link Saham juga patut Anda Lirik

Seperti dijelaskan di atas dari awal tahun sampai 14 September IHSG sudah turun 6,6%? Ini berakibat pada koreksi Reksa Dana Saham sebesar -1,03% month on month kemarin. Dengan harga Reksa Dana Saham seperti ini, saatnya untuk Anda masuk. Tapi tentunya, pastikan dulu apa saja isi Saham pada Keranjang Saham mereka.

Apakah sesuai dengan keinginan Anda atau tidak. Bahkan, tak hanya Reksa Daha Saham, Unit Link Saham juga bisa. Disarankan setelah Anda membelinya jangan terlalu pusing untuk lihat turun naik harganya tiap hari.

Percayalah, kalau Anda terus lihat harga Reksa Dana Saham atau Unit Link Saham Anda tiap hari, Anda akan pusing sendiri dan rasanya ingin jual terus. Harga turun Anda mau cepat jual, harga naik Anda juga mau cepat jual.  Jadi, boleh-boleh saja melihat harga Reksa Dana atau Unit Link Anda, tapi tidak usah sampai tiap hari. Lihat sekali seminggu atau sekali per dua minggu juga sudah cukup.

Semoga tips di atas bisa membantu Anda untuk memutuskan tetap berinvestasi di tengah keadaan rupiah seperti sekarang. Berinvestasi sekarang? Siapa takut!

(Adv)