Kenaikan Pasokan Susutkan Harga Minyak Dunia

Liputan6.com, New York Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1 persen di tengah tanda-tanda meningkatnya pasokan dan kekhawatiran bahwa pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar akan terdampak besar perang perdagangan Amerika-China.

Melansir laman Reuters, Rabu (31/10/2018), harga minyak mentah berjangka Brent turun USD 1,43, atau 1,9 persen menjadi USD 75,91 per barel. Adapun kontrak minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) di Amerika Serikat (AS) turun 86 sen menjadi USD 66,18 per barel, atau sebesar 1,3 persen.

Pada awal sesi, harga minyak Brent mencapai sesi rendah di USD 75,09 per barel. Ini merupakan posisi terendah sejak 24 Agustus. Sementara WTI merosot ke posisi USD 65,33 per barel, terlemah sejak 17 Agustus.

Harga minyak sedikit berubah selama perdagangan pasca kelompok industri American Petroleum Institute melaporkan, persediaan minyak mentah AS naik 5,7 juta barel pekan lalu. Angka ini lebih dari perkiraan analis sebesar 4,1 juta barel.

Investor akan melihat data resmi pemerintah tentang inventaris minyak AS yang akan dirilis pada Rabu ini.

Adapun harga patokan kedua minyak mentah tersebut telah jatuh sekitar USD 10 per barel. Atau turun dari posisi tertinggi empat tahun yang dicapai pada minggu pertama bulan Oktober. Ini pun berada di jalur kinerja bulanan terburuk mereka sejak Juli 2016.

Harga minyak telah terperangkap dalam kemerosotan pasar keuangan global pada bulan ini, dengan ekuitas di bawah tekanan akibat pertarungan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia.

Amerika Serikat telah mengenakan tarif atas barang-barang Cina senilai USD 250 miliar, dan China kemudian merespons dengan membalas tarif serupa terhadap barang-barang AS senilai USD 110 miliar.

Sementara Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan harga minyak yang tinggi merugikan konsumen dan dapat mengurangi permintaan bahan bakar pada saat kegiatan ekonomi global melambat.

Produksi minyak dari Rusia, Amerika Serikat dan Arab Saudi mencapai 33 juta barel per hari (bpd) untuk pertama kalinya pada September, data Eikon Refinitiv menunjukkan. 

Itu adalah peningkatan 10 juta bpd sejak awal dekade ini. Ini berarti ketiga produsen itu sekarang mampu memenuhi sepertiga permintaan minyak mentah global.

Di sisi lain, Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi baru terhadap minyak mentah Iran mulai pekan depan, dan ekspor dari Republik Islam itu pun sudah mulai turun.

Arab Saudi dan Rusia mengatakan mereka akan memompa pasokan dengan cukup untuk memenuhi permintaan setelah sanksi AS berlaku.

“Fakta bahwa kelemahan harga ini berkembang tepat sebelum kickoff resmi sanksi minyak Iran menunjukkan pasokan yang berlimpah di pasar. Pasokan tambahan dibawa ke pasar sebelum penurunan ekspor Iran terjadi,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, dalam catatannya.