Dolar AS Menguat, Harga Emas Tertekan

Liputan6.com, New York – Harga emas turun ke posisi terendah dalam tiga minggu didorong dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat dan saham tertekan. Namun, sepanjang Oktober 2018, harga emas menguat seiring indeks saham AS yang merosot.

Wakil Presiden Direktur GoldMining Inc, Jeff Wright, menuturkan, rilis data ekonomi AS terutama sektor tenaga kerja ADP menguat pada Oktober menekan harga emas. ADP melaporkan tenaga kerja sektor swasta mencapai 227 ribu pada Oktober. Angka ini di atas harapan ekonom sekitar 178 ribu tenaga kerja baru.

Harga emas untuk pengiriman Desember turun USD 10,30 atau 0,8 persen ke posisi USD 1.215 per ounce. Level harga emas itu terendah sejak 10 Oktober.

Sepanjang Oktober 2018, harga emas naik 1,6 persen berdasarkan kontrak yang aktif. Sementara itu, harga perak untuk pengiriman Desember turun 1,2 persen ke posisi USD 14.282 per ounce. Harga perak susut 2,9 persen.

“Dolar AS yang menguat dan pemulihan nyata di pasar saham global membebani harga emas. Secara teknikal juga harga emas tertekan sehingga membuat investor berorientasi jangka pendek enggan bertaruh untuk harga emas,” tulis analis Commerzbank, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Kamis (1/11/2018).

Seperti diketahui, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street juga jadi sentimen pengaruhi harga emas. Harga emas menguat yang didorong indeks saham Dow Jones dan S&P 500.

Penguatan tersebut mendorong indeks saham acuan itu masing-masing naik 0,97 persen untuk Dow Jones dan S&P 500 bertambah 1,09 persen pada 2018. Namun, sepanjang Oktober indeks saham S&P 500 susut 6,8 persen.