Afgan, Isyana dan Rendy Pandugo rilis single kolaborasi kedua

Jakarta (ANTARA) – Setelah merilis “Heaven”, kolaborasi tiga solois yang tergabung dalam Project AIR yakni Afgan, Isyana Sarasvati dan Rendy Pandugo menyuguhkan karya terbaru berjudul “Feel So Right”.

Lagu ini, berbeda dengan karya mereka sebelumnya yang berkonsep akustik dan berbicara soal cinta. “Feel So Right” menurut AIR lebih menonjolkan hubungan dengan diri sendiri.

Menurut Isyana, “Feel So Right” dibuat khusus untuk menyemangati semua orang agar menjadi lebih percaya diri dan nyaman dengan diri mereka sendiri.

“Ini sebenarnya buat milenial zaman sekarang yang harus survive di era digital yang kejam. Orang bebas berkomentar apapun tanpa mikirin yang dikomentarin, bahkan enggak kenal juga ikut ngomentarin. Jadi ini lagu kayak ngajak bangkit dan mengenal diri sendiri,” ujar Isyana dalam jumpa pers Zilingo #belanjaversigue di Jakarta, Rabu.

“Kalau lagu yang “Heaven” itu kan relationship dengan pasangan dan “Feel So Right” ini lebih ke relationship sama diri sendiri,” kata Afgan menambahkan.

Dari segi musik, “Feel So Right” lebih upbeat dan terkonsep dengan matang. Untuk pengerjaannya pun dilakukan hanya dalam waktu dua hari.

“Kita bertiga emang udah berembuk tema apa yang akan diangkat untuk single ini dan akhirny terbentuklah soal empowerment. Kita juga bekerjasama untuk membikin lirik dan nada, cuma dua kali pertemuan aja dan yang ini enggak serandom “Heaven”,” jelas Rendy.

Baca juga: Pilihan busana Afgan: nyaman dan sesuai kepribadian

Baca juga: Erwin Gutawa mainkan 30 lagu untuk konser Salute

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

YG Entertainment putuskan kontrak eksklusif Seungri BIGBANG

Jakarta (ANTARA) – YG Entertainment telah memutuskan kontrak eksklusif dengan Seungri BIGBANG. Dalam sebuah pernyataannya, YG Entertainment juga meminta maaf atas kontroversi yang terjadi pada artisnya.

Sejak awal Maret, Seungri dituduh terlibat skandal “Burning Sun” dan dugaan mengedarkan sebuah video yang direkam secara tersembunyi seorang perempuan. Kini, dia telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian Seoul dan sedang menjalani penyelidikan.

Sebagai management yang memayungi Seungri, YG Entertainment pun memberikan pertanyaan resminya, seperti dilansir E!, Rabu.

Halo, ini YG Entertainment.

Mulai dari skandal penyerangan klub baru-baru ini, yang melibatkan Seungri, kami ingin meminta maaf atas keprihatinan banyak orang, termasuk para penggemar, karena banyaknya kecurigaan dan kontroversi.

Setelah Seungri mengumumkan pengunduran dirinya pada 12 Maret, YG Entertainment telah menghormati permintaan Seungri untuk mengakhiri kontrak eksklusifnya.

Sebagai perusahaan manajemen artis, kami mengakui bahwa kami belum mengelola artis kami seperti yang seharusnya, dan kami sangat menyesal.

Akhirnya, YG Entertainment menyadari bahwa kami membutuhkan peningkatan besar, dan kami berjanji akan bekerja dengan semua eksekutif dan karyawan kami untuk dapat menerapkan peningkatan tersebut.”

Pada Senin (11/3), Seungri BIGBANG memutuskan pensiun dari dunia hiburan di tengah berbagai tuduhan kriminal yang menerpanya.

“Akan lebih baik bagiku untuk pensiun dari dunia hiburan pada saat ini,” kata dia di akun Instagramnya.

“Karena skandal ini terlalu besar, aku memutuskan untuk pensiun. Adapun penyelidikan yang sedang berlangsung, aku akan menangani penyelidikan dengan serius untuk menghapus semua tuduhan,” ujarnya.

Baca juga: Jung Joon-young akui skandal distribusi video seks

Baca juga: Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dan Bandung”, kolaborasi The Panasdalam Bank dan Danilla

Jakarta (ANTARA) – Solois Danilla Riyadi berkolaborasi dengan The Panasdalam Bank dalam lagu “Dan Bandung” yang jadi soundtrack film “Dilan 1991”.

Warner Music Indonesia dalam siaran pers, Rabu, mengatakan lagu ini menceritakan segala atmosfer Kota Bandung yang menjadi latar film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu.

Lirik yang tersurat di dalamnya bakal mengundang senyum bagi para penonton fil yang diangkat dari novel Pidi Baiq, atau mereka yang memiliki kenangan terhadap kota Bandung.

Sebuah sajak kecil karya Pidi Baiq yang terpampang di sebuah tembok jalan raya yang terletak di dekat alun-alun Bandung turut menjadi bagian dari lirik lagu ini, menguatkan aura kota Bandung yang ada di dalam lagu.

Lagu “Dan Bandung” menyampaikan segala cerita yang tertulis di kota ini, khususnya dalam latar film “Dilan 1991”.

Pendengar yang sekaligus menjadi penonton kisah Dilan dan Milea dapat dengan mudah terhubung dengan lagu ini.

Film “Dilan 1991” sedang tayang di sejumlah bioskop di Tanah Air. Sejak ditayangkan pada 27 Februari 2019, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq itu sudah meraih lebih dari 4,5 juta penonton.

Film pertamanya, Dilan 1990 mampu meraih 6,2 juta penonton.

Baca juga: Inspirasi Danilla saat bermusik

Baca juga: Danilla terjemahkan mimpi buruk ke video musik barunya

Baca juga: Sering jadi sasaran body shaming, ini tanggapan Danilla

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iwa K luncurkan single “Beda”

Jakarta (ANTARA) – Rapper legendaris Indonesia, Iwa K, meluncurkan sebuah single kolaborasi ber-genre hip hop dengan judul “Beda” bersama label rekaman Manna Records.

Iwa mengatakan single ini berisi tentang pentingnya bersikap yang didasari oleh cinta dan juga jati diri nusantara untuk memanusiakan manusia dalam menjalani keberagaman.

“Saya pribadi merasakan bahwa keberagaman adalah harta yang luar biasa yang diberikan oleh yang Maha Kuasa. Beda itu menjadi indah bila kita sanggup memahaminya,” ujar Iwa dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

“Beda” disebutnya berbeda dari lagu-lagu Iwa sebelumnya karena musik dan beat lagu tersebut berada di luar gaya rap Iwa K.

Tantangan itu tetap membuatnya menikmati proses pembuatan lagu “Beda”.

Manna Records memilih seorang rapper muda Mario Zwinkle untuk berduet bersama Iwa K dalam single tersebut.

Bona Palma, salah satu pendiri label rekaman itu, mengatakan, “Kami melihat kehadiran Mario Z dalam lagu ini dapat memproyeksikan semangat lagu “Beda” sendiri, yaitu seorang rapper yang berbeda dari Kang Iwa, berbeda generasi, berbeda style, tetapi dengan kualitas dan kemampuan rap yang hebat. Kami yakin Mario Z adalah the next big thing di dunia rap Indonesia”.

Mario Zwinkle merasa bangga dapat berkolaborasi dengan Iwa K yang merupakan idolanya, meski ada beberapa tantangan yang harus dihadapi selama proses pembuatan lagu.

“Instrumental dan ketukan musik dalam lagu ‘Beda’ berbeda dengan apa yang biasa saya kerjakan, dan ini merupakan projek pertama saya dengan semua pihak termasuk Iwa K,” ujar Mario, berharap musiknya dapat diterima pendengar.

Single “Beda” dirilis pada 11 Maret karena pada tanggal itu pernah terbit dokumen SUPERSEMAR. Manna Records dan Iwa K hendak memberikan makna baru terhadap kata SUPERSEMAR menjadi Surat Persatuan Sebelas Maret.

Manna Records merupakan anak perusahaan dari MannaInc, sebuah perusahaan audio post-house yang fokus pada music scoring untuk iklan TV, digital, Radio dan film. Label ini didirikan oleh Bona Palma, Panji Ekaputra, Adi Siagian, dan Haruchika Setiadi.

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Baca juga: Iwa K akan buat konser 25 tahun berkarya

Baca juga: Daftar para artis yang tersangkut narkoba baru-baru ini

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rahasia SORE tampil konsisten

Jakarta (ANTARA) – Grup band SORE tetap tampil konsisten selama 17 tahun berkarya berkat kecintaan terhadap musik dan diramu ide-ide spontanitas yang mengalir.

“Ide muncul dan mengalir begitu saja. Tiba-tiba, kami ciptakan lagu. Ide itu seakan tidak bisa dicegah, muncul di kepala dan langsung direkam. Kami akan terus begitu, kecuali jika nanti bosan. Kami tidak tahu,” ujar gitaris SORE Reza “Echa” Dwi Putranto saat berkunjung ke redaksi Antara, Senin (11/3).
 
Kelompok musik yang terdiri dari Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Reza Dwi Putranto (gitar), dan Bembi Gusti (drum) itu mengaku tidak bisa lepas dari ide untuk selalu membuat musik, setiap hari.

“Kami terus progres. Kami konsisten tentu karena senang musik meskipun tidak menentukan konsep,” kata Echa tentang ide lagu yang mengalir.

Ade mengatakan lagu-lagu mereka tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan jika lebih dahulu menentukan konsep. “Kepikirannya nanti tiba-tiba. Konsep datang dengan cepat. Dulu mau bikin EP (mini album) “Sorealis Semprulisasi”, lantas batal. Lalu, muncul ide dengan penyanyi semua perempuan, malah jadi album “Mevrouw”,” ujar Ade.

Selama 17 tahun, SORE juga merasa perbedaan pendapat yang muncul sebagai hal wajar karena terkait ide.

“Kami tidak pernah bertengkar. Tapi, beda pendapat iya. Beda pendapat karena ide musik yang saling bertubrukan. Itu biasa lah, standard. Jika kami tidak  beda pendapat, justru itu tidak sehat,” kata Ade tentang warna 17 tahun grup SORE.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Senja bersama SORE

Jakarta (ANTARA) – “It’s been so long, it’s been so lonely so…” demikian lirik “Rubber Song”, lagu baru band SORE, mengalun di Wisma Antara, Senin (11/3) petang.

Usai membawakan lagu yang aslinya dibawakan bersama Vira Talisa, para personel SORE Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Reza “Echa” Dwi Putranto (gitar) dan Bembi Gusti (drum) membawakan tiga lagu lain dengan latar belakang langit sore Jakarta berhiaskan Monumen Nasional di kejauhan.

Lewat beberapa menit dari pukul lima sore, Awan sekilas melihat jam, lalu memutuskan saat yang tepat untuk menampilkan “Setengah Lima” dari album “Ports of Lima” yang rilis lebih dari satu dekade lalu itu.

Single teranyar “Woo Woo” yang berkolaborasi dengan penyanyi California Leanna Rachel juga turut mengalun. Video klip itu baru dirilis pada Selasa, menampilkan film pendek yang disutradarai Ismail Basbeth (“Mencari Hilal”, “Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran”, “Arini”).

Sementara, “Sssst…” jadi lagu pamungkas konser mini SORE saat berkunjung ke Antara.

Tujuh belas tahun sudah para personil SORE bermain musik bersama. Dimulai dari album “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombreros Kiddos” (2010), “Los Skut Leboys” (2015) hingga album mini “Mevrouw” yang rencananya akan dirilis tahun ini.

Tidak ada perjalanan yang selamanya mulus, perbedaan pendapat pun tak terelakkan selama belasan tahun mereka berkarya. Tapi, perbedaan pandangan bukan jadi pemicu untuk bertengkar.

“Biasanya karena ide musik yang bertubrukan. Biasa lah kayak gitu mah, standard. Kalau enggak beda pendapat juga malah enggak sehat. Kalau enggak kayak begitu, enggak mungkin 17 tahun bersama,” ujar Ade.

Semakin dewasa, mereka berusaha saling memahami satu sama lain. Karena sudah saling mengenal lama, mereka sudah bisa “membaca” tindak-tanduk rekannya tanpa banyak berkata-kata. “Saling mengerti,” imbuh Echa.

Kecintaan pada musik jadi bahan bakar SORE untuk selalu konsisten berkarya. Tanpa bisa dicegah, ide-ide secara spontan mengalir di kepala mereka, kemudian dituangkan menjadi lagu yang akan dimainkan kepada para pendengar musik yang terdiri dari berbagai kalangan usia.

Spontanitas itu juga berlaku dalam membuat karya. Dalam album mini “Mevrouw”, SORE menggandeng para penyanyi perempuan dalam lagu-lagunya.

Apakah konsep-konsep khusus akan terus diterapkan dalam album-album SORE berikutnya? SORE memilih untuk tidak merancang konsep itu dari jauh-jauh hari. Semua tergantung pada gagasan yang tercetus saat itu serta proses meramu ide yang dinamis.

Yang pasti, SORE berharap semua karya mereka dapat diterima dengan baik oleh para pencinta musik.

“Lempar ke udara moga-moga dihembus angin dan mudah-mudahan menclok di tempat yang benar,” ujar Ade.

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SORE: RUU Tata Kelola Permusikan lebih mendesak

Jakarta (ANTARA) – Tata kelola permusikan yang menekankan sertifikasi pemusik jauh lebih mendesak dibanding pembatasan karya musisi dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan, demikian disampaikan grup musik SORE.

“RUU Permusikan jelas-jelas akan membabat kreativitas anak bangsa. Kalau sertifikasi perlu, tapi dalam konteks tata kelola musik. RUU permusikannya sendiri, pada pasal 5, sebenarnya tidak perlu ada,” ujar vokalis grup SORE Ade Firza Paloh saat berkunjung ke redaksi Antara, Senin (11/3).

SORE menjadi salah satu grup musik yang pertama kali menolak RUU Permusikan dan lebih mengampanyekan penerapan sertifikasi para pemusik dalam tata kelola musik.

Sertifikasi musik, menurut Ade, penting bagi pemusik yang yang telah mengenyam pendidikan musik karena akan mempengaruhi pendapatan mereka.

“Pendidikan musik untuk mendapatkan sertifikasi itu penting misalnya bagi penyanyi kafe. Para penyanyi itu bisa mendapatkan upah yang layak dan bukan karena dimainkan para pengatur acara (event organizer),” ujar pelantun Rubber Song itu.

Ade mengatakan sertifikasi musik menjadi bentuk penghargaan bagi para pemusik yang telah belajar secara khusus soal musik. “Atau seperti string section, home section boleh ada sertifikasi tapi tidak masuk di RUU Permusikan,” ujarnya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SORE tak punya formula untuk gaet pendengar muda

Jakarta (ANTARA) – Grup band SORE memiliki pendengar dengan usia yang beragam. Untuk menyatukan semuanya, mereka mengaku tidak pernah membuat formula khusus pada musiknya.

Eksistensi SORE di panggung musik Indonesia sudah berlangsung selama 17 tahun. Sepanjang perjalanannya, pendengar datang dan pergi. Bahkan, penggemar SORE kini lebih banyak yang berusia muda.

Echa, gitaris SORE menyadari adanya perubahan dari pendengar mereka, khususnya ketika sedang manggung. Biasanya, dia melihat penonton yang usianya tidak jauh mereka. Kini, penampakan yang ada di depan panggung lebih banyak anak mudanya.

“Pas main pertama, kita lihat yang nonton sepantaran. Makin ke sini, makin muda-muda. Berarti musik kita nyampe ke mereka,” ujar Echa saat kunjungan ke kantor redaksi Antara, Senin (11/3).

“Akhirnya kita suka mikir, ini yang gen lagu “Sssst” mungkin ya. Dengerin “Sssst” dulu baru ke album-album ke belakang. Dari sepantaran, makin muda-muda dan berbaur dari tua-muda, seru aja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ade Firza Paloh, sang vokalis mengatakan bahwa SORE tidak pernah meramu musik tertentu dengan tujuan menggaet anak muda.

“Kita enggak pernah ada upaya untuk menggaet pendengar muda. Kita lempar flow aja, lempar ke udara moga-moga dihembus angin dan mudah-mudahan menclok di tempat yang benar,” jelas Ade.

Baca juga: Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Baca juga: Angkat tema pemberdayaan perempuan, SORE akan rilis album “Mevrouw”

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Band Sore gandeng musisi perempuan di album baru

376 Views

(Antara) – Band Sore siap kembali meramaikan musik tanah air. Mereka segera melaunching mini album berisikan enam lagu. Album berjudul ‘Mevrou’ yang menggandeng sejumlah musisi wanita itu, rencananya akan resmi rilis setelah lebaran 2019.

Angkat tema pemberdayaan perempuan, SORE akan rilis album “Mevrouw”

Jakarta (ANTARA) – Dalam waktu dekat, grup band SORE akan merilis mini album berjudul “Mevrouw”. Di sini, mereka berkolaborasi dengan para penyanyi perempuan untuk setiap lagunya.

Band yang terdiri dari Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Echa (gitar) dan Bembi Gusti (drum) ini mengatakan bahwa mereka ingin menunjukan sisi women empowerment. “Mevrouw” sendiri dalam bahasa Belanda memiliki arti sebagai nyonya.

“Kita memang punya keinginan untuk mengangkat tema female, women empowerment yang menyatakan bahwa wanita adalah makhluk yang sangat kuat. Kalau kita kan (laki-laki) kayak bocah sedangkan wanita lebih dewasa, along the way pengin angkat itu,” ujar Ade dalam kunjungannya ke Antara, Senin (11/3).

Untuk perkenalan, SORE telah merilis dua lagu yakni “Rubber Song” bersama Vira Talisa. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang mencoba keluar dari rasa kesepian dan apa yang ingin dilakukan karena hidup seperti karet.

Lalu yang kedua adalah “Woo Woo” yang berkolaborasi dengan penyanyi asal California, Leana Rachel menceritakan tentang kehidupan yang harus dicapai, namun dalam perjalanannya manusia juga penuh dengan kesalahan.

“Vira Talisa itu satu genre sama kita yang musiknya warm tapi di lagu ini lebih keras, biasanya kan soft. Terus Leana Rachel orang California, kita pengin tahu nih dia nyanyi bahasa Indonesia gimana, ternyata fasih banget bahasa Indonesia-nya. Nanti ada juga Angita, dia background-nya rock, sekarang musiknya lebih manis, paradox,” jelas Ade.

Album terakhir yang dirilis SORE adalah “Los Skut Leboys” pada 2015. Mereka berharap album “Mevrouw” mendatang bisa menjadi jembatan untuk full album SORE.

“Kita kalau mau bikin full album takut terlalu lama. Kalau ngumpulin lagi takutnya makan waktu yang kita sendiri enggak bisa kontrol. Keluarin sekarang aja dulu, enggak apa-apa kita pirit-pirit sedikit-sedikit tapi tetap berkarya,” kata Ade.

“Insya Allah jembatan menuju full album,” ujar Awan menambahkan.

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Baca juga: Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Baca juga: Menikmti “Sore” di Java Rockin’ Land

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Respon YG soal pensiunnya Seungri BIGBANG

Jakarta (ANTARA) – Pihak YG Entertainment mengungkapkan bahwa keputusan Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan adalah ide penyanyi itu sendiri.

“Pengumuman pensiun Seungri bukan keputusan yang dibuat setelah berkonsultasi dengan YG, tetapi keputusan yang dibuat sendiri,” kata seorang sumber kepada YTN, seperti dilansir Soompi, Senin (11/3).

Sumber itu mengatakan kalau Seungri merasa lebih tertekan karena rentetan kasus yang menimpanya sebelum masa wajib militernya.

“Sejujurnya, tidak ada rincian pasti tentang Seungri selama satu setengah bulan terakhir penyelidikan polisi. Seungri merasa lebih bersalah karena menyebabkan masalah pada orang-orang di sekitarnya,” kata sumber itu.

“Saat ini, tidak ada pernyataan tambahan yang dapat dibuat dari perusahaan terkait dengan ini. Belum ada yang diputuskan sehubungan dengan pemutusan kontrak eksklusifnya,” sambung dia.

Seungri beberapa waktu terakhir terkena tuduhan memberikan layanan pendamping seksual kepada investor asing hingga berbagi rekaman dan foto yang diambil secara ilegal di ruang obrolan dengan rekan-rekannya.

Baca juga: YG bantah tuduhan Seungri Bigbang sediakan PSK untuk investor

Baca juga: Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan

Baca juga: Seungri Bigbang mulai wajib militer akhir Maret

Baca juga: Konser Seungri BIGBANG di Jakarta batal

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RUU Permusikan harus direvisi dan libatkan pekerja seni

Nanti ketika budaya kita diklaim sama orang (negara) lain baru deh marah, padahal orang-orang yang melestarikan budaya sendiri kurang diperhatikan

Jakarta (ANTARA) – Politisi Partai NasDem Wanda Hamidah menyatakan Rancangan Undang-Undang Permusikan harus direvisi dengan melibatkan para pekerja seni dan budaya.

Partai NasDem meminta agar RUU Permusikan direvisi untuk melindungi seni musik dan budaya di Indonesia mengingat hal itu modal sosial untuk memperkuat kekayaan dan identitas bangsa, kata Wanda Hamidah dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan draf RUU Permusikan yang dibahas saat ini menjadi polemik karena sejumlah pasal yang dianggap janggal. RUU tersebut, kata dia, membatasi dan menghambat proses kreasi serta justru merepresi para pekerja musik.

“Karena itu perlu direvisi agar sesuai semangat dalam melestarikan serta mengembangkan seni dan budaya,” kata Wanda.

Caleg NasDem Dapil DKI 1 itu menilai pada pasal 5 yang berisi tujuh ayat berpotensi menjadi pasal karet.

“Salah satu ayat misalnya, dalam proses kreasi musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, dilarang membuat konten pornografi, dilarang memprovokasi pertentangan antarkelompok, dilarang menodai agama, dilarang membawa pengaruh negatif budaya asing dan dilarang merendahkan harkat serta martabat manusia,” katanya.

Pasal itu, menurut Wanda, bisa dipelintir sesuai keingingan pelapor atau penegak hukum. Apalagi ada hukuman pidana bagi musisi yang melanggar aturan itu yang diatur pada pasal 50, meski belum ada keterangan berapa lama penjara atau berapa banyak denda uangnya.

“Pasal itu juga berpeluang membelenggu kebebasan berekspresi musisi. Jika pembuat lagu-lagu bernada kritik, yang mungkin berpotensi mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum maka semua bisa dipidanakan dan tentu ada pasal lainnya yang berpotensi membonsai pekerja seni,” katanya.

Pasal-pasal semacam ini lah menurutnya perlu direvisi dengan melibatkan para pekerja seni dan budayawan. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan DPR karena RUU saat ini sudah ditunda.

“Sekali lagi menurut saya, RUU permusikan perlu didorong agar bisa menciptakan iklim kondusif bagi pekerja seni dan budaya di Tanah Air,” tambahnya.

Sementara politisi NasDem lainnya, Intan Azizah menilai, Indonesia sebagai negara berbudaya timur memang tidak bisa dibatasi terkait kreasi seni.

“Kalau bicara pembatasan bermusik, memang tidak bisa. Perkembangan teknologi dalam berkesenian, apalagi musik, sangat pesat, baik dalam hal sumber daya manusianya dan teknologi,” ujar Intan.

Wanita yang dikenal berkat industri musik dan film itu melanjutkan, ada hal-hal lebih penting yang perlu dibahas, seperti royalti dan penghargaan terhadap lagu-lagu, terutama lagu tradisional.

Intan menambahkan, jangan sampai para penyanyi lagu daerah atau lagu tradisional enggan menyanyi lagi karena kurang perhatian pemerintah.

“Nanti ketika budaya kita diklaim sama orang (negara) lain baru deh marah, padahal orang-orang yang melestarikan budaya sendiri kurang diperhatikan,” katanya.

Pewarta: Suryanto
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Jakarta (ANTARA) – Setelah menghabiskan belasan tahun bersama di dunia musik, para anggota grup band Sore masih punya keinginan yang belum terwujud.

“Naik haji bareng,” ungkap Ade Firza sang vokalis saat Sore berkunjung ke Antara, di Jakarta, Senin.

Mimpi itu belum kunjung jadi kenyataan karena jadwal belum pas.

Band yang terdiri dari Ade Firza Paloh (gitar, vokal), Awan Garnida (bass, vokal), Reza Dwi Putranto (gitar, vokal), dan Bemby Gusti Pramudya (drum, perkusi, vokal) itu baru meluncurkan lagu “Woo Woo” yang dibawakan bersama Leanna Rachel, musisi California yang berdomisili di Bali.

Sebelumnya, Sore juga berkolaborasi dengan Vira Talisa dalam lagu “Rubber Song” yang dirilis pada akhir 2018 silam.

Dua lagu baru tersebut dibawakan oleh Sore dalam penampilan khusus di Antara.

Grup yang baru tampil di Java Jazz Festival 2019 itu telah merilis beberapa album seperti “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombredos Kiddos” (2010), hingga “Los Skut Leboys” (2015).

Lagu-lagu Sore juga kerap dijadikan soundtrack film-film Indonesia seperti “Funk The Hole” di film “Janji Joni”, “No Fruits For Today” di film “Berbagi Suami” dan “Nancy Bird” untuk film “Pintu Terlarang”.

Baca juga: Sore ini, SORE menyambangi ANTARA

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sore ini, SORE menyambangi ANTARA

Jakarta (ANTARA) – Petang ini, grup musik Sore akan menyambangi Antara untuk berbincang tentang karya terbaru mereka.

Ade Firza Paloh (gitar, vokal), Awan Garnida (bass, vokal), Reza Dwi Putranto (gitar, vokal), Bemby Gusti Pramudya (drum, perkusi, vokal) baru meluncurkan lagu “Woo Woo” yang dibawakan bersama Leanna Rachel, musisi California yang berdomisili di Bali.

Sebelumnya, Sore juga berkolaborasi dengan Vira Talisa dalam single “Rubber Song” yang dirilis pada akhir 2018 silam.

Grup yang baru tampil di Java Jazz Festival 2019 itu telah merilis beberapa album seperti “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombredos Kiddos” (2010), hingga “Los Skut Leboys” (2015).

Lagu-lagu Sore juga kerap dijadikan soundtrack film-film Indonesia seperti “Funk The Hole” di film “Janji Joni”, lagu “No Fruits For Today”d i film “Berbagi Suami” dan “Nancy Bird” untuk film “Pintu Terlarang”.

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

White Shoes and The Couples Company buka Festival Satu Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Band White Shoes and The Couples Company menjadi penampil pertama di konser indoor Festival Satu Indonesia, yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

Selama sekitar 30 menit, mereka menghibur ribuan penonton yang berasal dari rentang usia beragam, tak cuma penonton muda yang jadi sasaran penyelenggaraan festival.

Lagu “Roman Ketiga”, “Masa Remadja”, “Selangkah ke Seberang” dari Fariz RM, “Vakansi”, lagu daerah “Lembe Lembe” dan “Senandung Maaf” bergaung di ruangan yang dipenuhi pendukung calon presiden Joko Widodo itu.

“Aksi Kucing” menjadi penutup dari penampilan White Shoes and The Couples Company.

Festival Satu Indonesia sudah dimulai di area outdoor Istora sejak siang lewat pertunjukan dari Elephant Kind, Polka Wars hingga Brisia Jodie.

Festival ini juga bakal diramaikan dengan penampilan musik dari Sandhy Sondoro, Dira Sugandi hingga Afgan Syahreza.

Komika Ernest Prakasa dan Ge Pamungkas akan memeriahkan sesi Inspiration Talks bersama capres Joko Widodo dan Erick Thohir.

Baca juga: Festival Satu Indonesia ajak kenali politik lewat musik
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemprov DKI persiapkan 25 tahun sister city Jakarta-Berlin

London (ANTARA) – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta selain mempromosikan obyek wisata di ibukota dalam event pameran pariwisata terbesar Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin 2019 juga mempersiapkan acara Peringatan 25 Tahun Hu bungan Kerjasama Sister City Jakarta – Berlin yang diadakan pada Juni mendatang. Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pemprov DKI Jakarta, Hari Wibowo kepada Antara London, Minggu mengatakan selain berpartisipasi dalam ITB Berlin, Pemprov DKI Jakarta menampilkan kesenian di paviliun Indonesia selama dua hari terakhir pelaksanaan pameran pariwisata terbesar di dunia yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 10 Maret 2019.

Delegasi Pemda DKI Jakarta ke ITB Berlin yang dipimpin Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran, Hari Wibowo itu terdiri dari sembilan orang serta Abang dan None Jakarta.

Sementara itu Misi kesenian dari DKI Jakarta yang menampilkan tarian Kembang Tugu serta tari Lenggok Gonjreng dan tari Yapong Betawi, berasal dari sanggar tari D’Jakfaro Entertainment terdiri dari M.Syaiful Mujab (Abang Jakarta) dan Athalla (None Jakarta) serta enam penari yaitu Adhi, Donnie Istiawan, Siti Fatimah, Oktaviani, Adira Putri, Donnie Istiawan, Adhi Ristyawab,Oktaviani Siti Fatimah Aldira Putri, didampingi Sherly Yuliana, Kasie Promosi Luar Negeri Pemda DKI Jakarta.

Abang Jakarta Muh Syaiful Mujab dan None Jakarta Atala Hardian menjadi pembawa acara selama dua hari terakhir pameran pariwisata ITB Berlin yang khusus ditujukan untuk masyarakat Jerman yang akan merencanakan liburan musim panas.

Abang dan None Jakarta selain menjadi Juru penerang tentang Jakarta di information counter juga sekaligus menjadi pembawa acara pada saat penampilan tim kesenian di panggung paviliun Indonesia.

Hari Wibowo mengatakan dalam kunjungan kerja nya ke Berlin, delegasi Pemprov DKI Jakarta juga mengadakan beberapa pertemuan untuk mempersiapkan kegiatan Peringatan 25 Tahun Hubungan Kerja sama Sister City Jakarta-Berlin yang akan dilaksanakan di Berlin pada bulan Juni mendatang.

Beberapa pertemuan antaranya dengan jajaran Walikota Berlin, pengelola venue, pihak media, dan berbagai pihak lainnya, demikian Hari Wibowo.

Baca juga: Jakarta-New South Wales bahas peluang kerja sama
Baca juga: Paviliun Indonesia di ITB Berlin tarik minat wisatawan mancanegara
Baca juga: Indonesia harapkan Rp10 triliun dari ITB Berlin

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Satu Indonesia ajak kenali politik lewat musik

Jakarta (ANTARA) – Festival Satu Indonesia, yang menghadirkan sejumlah musisi kenamaan tanah air, digelar untuk mengajak anak-anak muda mengenal politik lewat musik.

Tidak hanya itu, menurut Co-Founder Festival Satu Indonesia Amalia Ayuningtyas, acara itu juga bertujuan membangkitkan optimisme dalam memandang masa depan bangsa.

“Besarnya populasi anak muda khususnya yang akan menjadi pemilih pemula mendorong kami untuk menggelar sebuah acara yang dapat menumbuhkan optimisme agar anak-anak muda sadar betapa pentingnya peran mereka dalam menentukan arah bangsa kita ke depan,” kata Amalia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

White Shoes and The Couples Company, Elephant Kind, Polka Wars, Brisia Jodie, Sandhy Sondoro, Dira Sugandi dan Afgan Syahreza, adalah sederet nama musisi yang dijadwalkan tampil di festival yang digelar di Istora Senayan itu.

Juga turut hadir komika Ernest Prakasa dan Ge Pamungkas yang akan memeriahkan sesi Inspiration Talks bersama Erick Thohir serta Presiden Joko Widodo.

“Dengan menghadirkan performance dari berbagai musisi lintas genre, kami ingin anak muda bisa mengetahui politik melalui musik, bahasa yang sangat universal dan bisa diterima oleh semua orang. Musisi dan narasumber di sesi Inspiration Talks yang kami pilih adalah bagian dari upaya kami agar anak-anak muda mendapat inspirasi sehingga terus menjaga optimismenya,” tutur Amalia.

Amalia juga menyampaikan Festival Satu Indonesia ingin mencoba memberikan pengalaman kepada anak muda bagaimana “kampanye” yang positif, kreatif dan menyenangkan.

“Selama ini selalu ada alasan anak muda nggak mau milih. Tapi melalui acara ini anak muda bisa kenal dengan calon presidennya dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan,” ujarnya

Salah satu pengisi sesi Inspirasi Talks dalam acara ini, Erick Thohir, menganggap pentingnya gerakan-gerakan positif seperti Festival Satu Indonesia ini untuk berpartisipasi membangun bangsa ke depan.

“Dengan terlibat dalam gerakan sosial-politik yang positif, Indonesia akan maju secara progresif,” ujar Erick, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Festival Satu Indonesia diramaikan bazar produk-produk lokal, panggung seni, sesi Inspirasi Talks, Jokowi Bicara, dan akan ada juga diskusi santai bersama Jokowi.

Acara tersebut diprakarsai oleh Amalia dan Singgih Widiyastono. Keduanya adalah pendiri eks Teman Ahok.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Soal RUU Permusikan, jangan atur musiknya tapi tata kelolanya

RUU tujuannya mulia, melindungi musisi, tapi kenapa isinya mengekang?

Jakarta (ANTARA) – Musisi Viky Sianipar berpendapat undang-undang seharusnya mengatur tata kelola musik, bukan tentang musiknya.

Jika memang akan ada undang-undang yang mengatur industri musik di Indonesia, dia ingin pelaksanaannya harus membuat para musisi sejahtera, bukan justru membatasi kreativitas.

“RUU tujuannya mulia, melindungi musisi, tapi kenapa isinya mengekang?” ujar Viky dalam diskusi terkait RUU Permusikan di Galeri Foto Jurnalistik Antara di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Sabtu.

Pada kesempatan yang sama, musisi Kartika Jahja menyatakan RUU Permusikan memang diperlukan, namun rancangan yang saat ini jadi polemik tidak menyediakan solusi atas tantangan yang dihadapi musisi.

Baca juga: Tujuan tidak jelas, Marcell tolak RUU Permusikan

“Kalau permusikan sendiri itu, menurut saya pihak yang terkait tidak hanya industri musik saja. RUU ini mereduksi musik sebagai industri musik saja,” ujar Kartika.

Menurut dia, RUU Permusikan sudah salah sejak awal dirumuskan karena tidak melibatkan pemangku kepentingan secara luas.

Senada dengan Viky, dia mengatakan proses berkarya musisi tidak akan bisa diatur. Jika memang perlu aturan dari negara, bentuknya tidak harus berupa undang-undang.

Pada Kamis (7/3), anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah resmi menarik usulan RUU Permusikan di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.

Namun, penarikan itu masih bersifat personal karena RUU tersebut masih ada dalam prioritas tahunan Badan Legislasi.

Baca juga: Anang Hermansyah tarik usulan RUU Permusikan

Ketua Baleg DPR RI Supratman Andi Atgas mengatakan RUU ini secara resmi dapat dicabut namun harus melewati evaluasi rapat kerja kembali, karena prioritas tahunan ditentukan oleh tiga lembaga yaitu pemerintah dalam hal ini Menkum HAM, bersama legislatif yakni DPR dan DPD.

Di luar RUU Permusikan, sebenarnya sudah ada peraturan-peraturan yang mengakomodasi kepentingan para musisi Indonesia. Sayangnya, penegakan hukum belum diterapkan secara maksimal.

“(Butuh) Penegakan hukum. Sudah ada instrumennya seperti UU Hak Cipta, tapi sampai sejauh ini belum optimal. Royalti belum didistribusikan merata,” kata Wendi Putranto, dari Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan.

Wendi juga menyebut soal penerapan UU Serah Simpan dan Serah Cetak mengenai pengarsipan musik yang beredar di Indonesia. Saat ini, di Indonesia musisi yang harus mengirimkan ke Perpustakaan Nasional sebagai penyimpan arsip.

“Saat ini kita belum tahu musik sudah beredar sampai mana saja, tapi kalau ada UU itu, lembaga yang menaungi itu yang akan membeli rilisan musik di Indonesia.”

Penting juga untuk membuat peraturan terkait tantangan musisi di era digital, yang terkait dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Saat ini, ujar Wendi, fokusnya adalah mengawal hingga RUU Permusikan betul-betul dibatalkan.

Setelah RUU Permusikan resmi dicabut, akan diadakan musyawarah musik nasional untuk mendengarkan aspirasi dari pemangku kepentingan yang berkaitan dengan industri musik dari seluruh daerah di Tanah Air.

Jika nanti dari hasil musyawarah didapatkan keputusan RUU tetap dibutuhkan, proses perumusannya harus diulang dari awal, melibatkan semua pihak agar seluruh kepentingan terwakili.

“Kalau yang terjadi sekarang, RUU ini sangat Jakarta-sentris, semua yang ada di Jakarta saja. Mereka tidak melihat atau mendengar aspirasi dari berbagai macam daerah.”

Baca juga: Pengamat sebut dua alasan RUU Permusikan perlu dicabut

Baca juga: RUU Permusikan masih bergulir di Badan Legislasi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kartika Jahja: masih ada bias gender di dunia musik

Jakarta (ANTARA) – Musikus sekaligus pegiat kesetaraan gender Kartika Jahja mengatakan masih ada bias gender di dalam dunia musik, meski sudah banyak pencapaian kaum perempuandi di bidang tersebut.

“Jumlah musisi perempuan semakin banyak dan itu mesti diapresiasi, namun di balik itu semua masih ada musisi yang berhenti di umur tertentu karena perempuan diharapkan mengambil peran rumah tangga,” kata perempuan yang disapa Tika saat dijumpai di Galeri Foto Jurnalistik Antara,  Jakarta, Sabtu.

Menurut dia masih ada pandangan publik yabg membedakan antara musikus laki-laki dan perempuan. Apa yang dihasilkan musikus laki-laki cenderung dilihat dari gagasan dan karyanya, sementara perempuan lebih dipandang dari citra dan tampilannya.

Meski demikian dia menilai perempuan-perempuan memiliki banyak cara untuk mendobrak nilai-nilai yang tidak relevan dengan kesetaraan.

Namun, katanya, secara umum pasar arus utama masih melihat perempuan sebagai dekorasi. Padahal perempuan sangat penting untuk memberikan pandangan yang berbeda kepada masyarakat.

“Musik adalah kendaraan untuk membuka wawasan publik. Saya sendiri belajar politik dan pergerakan dari musik. ApaboAp narasi yang disampaikan hanya dari sudut pandang maskulin maka masyarakat akan menerima informasi yang homogen,” kata dia.

Untuk mendobrak nilai-nilai tersebut, menurut Tika, tidaklah semudah megatakan harus percaya diri dan berani, butuh kerja sama baik antara perempuan dan laki-laki untuk membuat dunia musik menjadi setara.

Selain itu edukasi yang komprehensif dan membuat literasi melek tentang isu gender kepada publik akan berdampak pada semakin setaranya ndustri musik. (*)

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pikiran dan Perjalanan”, karya terbaru dari Barasuara

Jakarta (ANTARA) – Hampir empat tahun setelah album perdana “Taifun”, Barasuara kembali dengan mempersembahkan karya baru bertajuk “Pikiran dan Perjalanan”.

Album kedua Barasuara itu mewakili semua perubahan yang terjadi pada band tersebut selama proses pembuatan album, yang diisi sembilan lagu dengan beragam cerita.

“‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir tentang kompleksitas perasaan, ekspektasi, kebahagiaan, kekecewaan dan naik turunnya kondisi mental manusia,” kata Iga Massardi sang vokalis dalam siaran pers, yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Iga mengatakan album itu bisa jadi penguat untuk orang-orang yang mendengarkan. Kumpulan lagu di dalam “Pikiran dan Perjalanan” adalah gambaran bahwa pemikiran dan jalan hidup orang akan menjadi sebuah proses belajar tanpa henti.

“Pikiran dan Perjalanan adalah kalut dan harapan yang dibungkus dalam bentuk musikal,” ujarnya.

Barasuara akan merayakan peluncuran album terbaru itu pada 13 Maret 2019. Mereka bakal membawakan seluruh materi dalam album secara langsung untuk pertama kalinya.

Barasuara yang terdiri dari Iga Massardi, Gerald Situmorang (bass), TJ Kusuma (gitar), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal) dan Marco Steffiano (drum) itu merilis album studio pertama pada 2015.

Tur pertama mereka diadakan pada 2016 di kota-kota besar di Indonesia.

Baca juga: Barasuara rilis video musik “Guna Manusia”, memotret lanskap Antartika
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nick Jonas akui sebagai orang yang memecah Jonas Brothers

Jakarta (ANTARA) – Nick Jonas mengaku sebagai orang yang telah memecah belah grup Jonas Brothers. Hal tersebut diungkapnya saat mengikuti tes pendeteksi kebohongan.

Pelantun “Jealous” ini belum lama bersatu kembali dengan saudara-saudaranya Joe Jonas dan Kevin Jonas untuk merilis musik sebagai Jonas Brothers. Grup tersebut telah vakum selama hampir enam tahun.

Dalam acara “Carpool Karaoke” di The Late Late Show with James Corden, Nick mengatakan bertanggung jawab atas perpecahan awal Jonas Brothers.

“Aku yang memecahkan band, tetapi aku mendapatkannya kembali,” ujar Nick dilansir Aceshowbiz, Sabtu.

“Itu benar, itu adalah kisah penebusan kesalahan,” kata Kevin menambahkan.

Jonas bersaudara kemudian menjalani serangkaian tes pendeteksi kebohongan, di mana mereka ditanyai pertanyaan yang sulit tentang persaudaraan mereka.

Nick sekali lagi ditanya perihal siapa yang menyebabkan band tersebut bubar. Suami Priyanka Chopra ini langsung menjawab “iya” dan terungkap jika dia mengatakan yang sebenarnya.

Namun Kevin mengatakan jika dirinya tidak pernah berpikir bahwa Nick adalah orang yang telah memecah Jonas Brothers. Sayangnya, hal tersebut terdeteksi bohong.

Nick sendiri sebelumnya pernah mengaku bahwa dia adalah orang yang memulai pembicaraan untuk membubarkan Jonas Brothers.
  Baca juga: Jonas Brothers bubar

Baca juga: Gunakan hewan untuk pernikahan, Priyanka Chopra dikecam PETA

Baca juga: Priyanka Chopra didesak mundur jadi Duta Kebaikan UNICEF

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Takeuchi Miyu eks AKB48 gabung ke label Korea

Jakarta (ANTARA) – Takeuchi Miyu, mantan anggota grup idola Jepang AKB48, melebarkan sayap ke dunia hiburan di Korea Selatan dengan bergabung ke dalam label Mystic Entertainment.

Agensi itu mengonfirmasi rumor yang selama ini beredar bahwa Takeuchi Miyu memiliki kontrak eksklusif dengan label tersebut.

“Takeuchi Miyu adalah penyanyi yang sudah terbukti di bidang tarik suara, juga menulis dan membuat komposisi lagu. Kami akan mendukung dia sepenuhnya agar bisa menampilkan sinergi yang baik dengan warna unik Mystic,” kata agensi itu seperti dilansir AllKpop, Jumat.

Takeuchi Miyu mulai dikenal publik Korea saat mengikuti acara kompetisi Produce 48 yang melibatkan partisipasi trainee agensi hiburan dari Korea Selatan serta anggota-anggota AKB48.

Takeuchi Miyu yang bergabung dengan AKB48 sejak 2009 itu menempati peringkat ke-17 di babak final Produce 48, di mana para kontestan yang masuk ke dalam 12 besar debut sebagai IZONE.

Baca juga: Diserang dua pria, Maho Yamaguchi NGT48 justru minta maaf

Baca juga: Oguri Yui AKB48 ingin jadi idol sejak kecil

Baca juga: Atsuko Maeda eks AKB48 menikah dengan aktor Ryo Katsuji

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan tahun pertama, Stray Kids siapkan EP baru

Jakarta (ANTARA) – Grup K-pop Stray Kids akan kembali dengan EP baru bulan ini untuk merayakan setahun pertama sejak debut, kata agensi JYP Entertainment seperti dilansir Yonhap, Kamis (7/3).

EP berjudul “Cle 1: MIROH” itu akan mewarnai industri K-pop mulai 25 Maret, bertepatan dengan tanggal debut mereka tahun lalu.

Anggota-anggota Stray Kids terpilih berdasarkan acara kompetisi idola pada Oktober 2017. Grup yang pernah menyambangi Jakarta ini sudah merilis EP pertama berjudul “I am NOT” tahun lalu.

Pada awal debut, mereka sudah mengeluarkan dua EP lain, yakni “I am WHO” and “I am YOU” yang semuanya diproduksi sendiri oleh anggota Stray Kids.

Mereka meraih gelar Rookie of the Year tahun lalu, membuka jalan menuju puncak di industri K-pop.

Stray Kids terdiri atas sembilan anggota: Bang Chan, Woojin, Lee Know, Changbin, Hyunjin, HAN, Felix, Seungmin and I.N.

Setelah tampil di konser Spotify on Stage 2018, JI Expo Kemayoran, Jakarta, mereka menggelar konser solo di ICE BSD, Tangerang pada Januari lalu.

Baca juga: Chang-bin Stray Kids pakai blangkon hingga I.N. push up di panggung

Baca juga: Stray Kids : STAY mantul!

Baca juga: Stray Kids tepati janjinya pada konser solo perdana di Indonesia

Penerjemah:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anang Hermansyah tarik usulan RUU permusikan

Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah resmi menarik usulan RUU Permusikan di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.

Anang mengatakan dalam keterangan pers, Kamis, bahwa usulan itu ditarik setelah menimbang berbagai saran. Selain itu, ada rencana dari komunitas musik untuk mengadakan musyawarah besar.

Penarikan ini adalah tindak lanjut dari tanggapan seluruh stakeholder ekosistem musik Indonesia.

“Agar terjadi kondusifitas di seluruh stakeholder ekosistem musik di Indonesia,” ujar Anang.

RUU Permusikan memang menimbulkan polemik di Indonesia. Oleh karena itu, Anang sebagai wakil rakyat yang berasal dari dunia musik juga akan meneruskan aspirasi dari para pemangku kepentingan.

“Sama halnya saat mengusulkan RUU Permusikan juga berpijak pada aspirasi dan masukan dari stakeholder. Ini proses konstitusional yang lazim dan biasa saja,” tambah Anang.

Musisi 49 tahun ini berharap situasi di ekosistem musik kembali kondusif dan semua persoalan bisa dihadapi dengan kepala dingin.

“Persoalan yang terjadi di sektor musik di Indonesia mari kita rembuk dengan baik melalui musyawarah besar ekosistem musik di Indonesia,” tambah Anang.

Musisi asal Jember ini berharap, penyelenggaraan musyawarah besar dapat dilakukan tak lama setelah Pemilu 2019.

“Kita berembuk bersama, kita beber persoalan yang ada di sektor musik dan bagaimana jalan keluarnya,” katanya.

Menurut suami penyanyi Ashanty itu,
tantangan di industri musik Indonesia dari waktu ke waktu semakin rumit. Buah pikiran dan pendapat dari orang-orang di dalam ekosistem musik dinilai penting untuk mencari solusi dari segala tantangan yang dihadapi.

“Seperti konstruksi hukum di sektor musik kita masih 2.0, padahal saat ini eranya sudah 4.0. Di Amerika, pada 11 Oktober 2018 lalu baru disahkan Music Modernization Act (MMA), regulasi terkait dengan hak cipta untuk rekaman audiao melalui teknologi berupa streaming digital. Bagaimana dengan kita di Indonesia?” kata Anang.

Terkait hal itu, dia mengatakan belum ada aturan tentang pajak di sektor musik yang saat ini banyak memanfaatkan medium digital.

Anang juga menyoroti pentingnya keberadaan data besar (big data) untuk memuat seluruh daftar musik di Indonesia.

Anang berkata, keberadaan UU Serah Simpan Karya Rekam Karya Cetak (SSKRKC) yang mengamanatkan seluruh karya rekam diserahkan ke perpustakaan nasional, masih menimbulkan pertanyaan.

“Pertanyaannya, apakah seluruh lagu di Indonesia didata oleh perpustakaan nasional? Apakah hal tersebut telah menjawab kebutuhan di sektor musik.”

Dia juga menyinggung soal pendidikan musik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta. Dia mempertanyakan soal keselarasan kurikulum pendidikan musik dengan kurikulum vokasi di Indonesia.

Pada 2016, Badan Ekonomi Kreatif menyebut terdapat 33.482 badan usaha musik di Indonesia yang mengungkapkan standar pendapatan minimum pelaku musik sebesar di atas Rp3 juta.

“Apakah angka tersebut terkait dengan eksistensi profesi musisi? Meski kalau dilihat data Bekraf tahun 2016, kontribusi sektor musik ke Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 0,48 persen,” papar Anang.

Namun, subsektor lainnya seperti kuliner dan televisi yang merupakan penyumbang terbesar PDB banyak memanfaatkan sektor musik, tapi tidak terefleksikan dari kontribusi PDB dari sektor musik.

“Ada disparitas tajam antara subsektor televisi dan radio (8,27 persen) dan kuliner (41,40 persen) dengan subsektor musik.”

Sebagian persoalan tersebut, kata Anang, dijawab secara bersama-sama oleh pemangku kepentingan dalam musyawarah.

Baca juga: Anang menyangkal jadi perumus draft RUU Permusikan

Baca juga: Tanggapan Anang Hermansyah soal kritikan Jerinx

Baca juga: Iqbaal Ramadhan optimistis RUU Permusikan dibuat untuk kebaikan musisi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Radio Australia, Kanada, Selandia Baru tak putar lagu Michael Jackson

Jakarta (ANTARA) – Stasiun radio di Australia, Kanada dan Selandia Baru menolak memutarkan lagu Michael Jackson atas tuduhan pelecehan seksual pada anak yang baru-baru ini kembali mengemuka.

Nova Entertainment di Sydney, Kamis, jadi grup radio terbaru yang mengumumkan mereka tidak akan memperdengarkan lagu Michael Jackson atas respons terhadap opini publik.

Keputusan itu dibuat setelah pemutaran dokumenter “Leaving Neverland” di AS yang menampilkan dua pria yang mengklaim jadi korban pelecehan seksual Raja Pop itu selama bertahun-tahun.

“Atas apa yang baru terjadi, SmoothFM saat ini tidak memutar lagu Michael Jackson,” kata media lokal mengutip direktur program Nova Paul Jackson.

Tayangan dokumenter itu belum diputar di Australia. ARN, jaringan radio terbesar kedua di Australia, mengatakan mereka “memantau sentimen pendengar pada hubungan terhadap individu artis.”

Di Selandia Baru, lagu-lagu Michael Jackson juga tidak terdengar di radio, setelah ditarik oleh dua jaringan radio terbesar di negara tersebut, MediaWorks dan NZME.

Dua perusahaan itu mendominasi radio komersial.

“Kami tidak memutuskan apakah Michael Jackson bersalah atas pedofilia, kami hanya memastikan stasiun radio kami memutarkan musik yang ingin orang dengar, ” ujar direktur konten MediaWorks Leon Wratt pada Magic FM.

Dia mengatakan keputusan itu mewakili pendengar dan keinginan mereka.

Direktur hiburan grup NZME, Dean Buchanan, mengonfirmasi bahwa lagu Michael Jackson tidak diputar di radio, meski dia menghindari bicara soal pelarangan.

Sementara itu, Radio NZ mengatakan lagu-lagu Jackson memang tidak ada di daftar lagu mereka.

Dokumenter HBO yang tayang di AS, Minggu, membuat orang kembali bertanya-tanya tentang hubungan Jackson dengan anak-anak.

Dua pria, James Safechuck dan Wade Robson, mengatakan Jackson melakukan pelecehan seksual saat mereka berusia 10 dan 7 tahun.

Sepanjang hidupnya, desas-desus itu selalu terdengar, namun tidak ada tuduhan yang terbukti.

Dokumenter yang terbagi jadi dua tayangan dengan total durasi empat jam, yang tayang perdana di Festival Film Sundance tahun ini, membuat tuduhan itu terus berlanjut satu dekade setelah sang penyanyi tewas akibat overdosis.

Jackson Estate membantah tuduhan tersebut dan menggugat 100 juta dolar AS pada HBO.

Keputusan untuk tidak memutar musik Jackson tak diragukan lagi akan semakin menodai citranya dan mengakibatkan berkurangnya royalti radio.

Tetapi belum diketahui apakah pendengar di platform digital juga bakal meninggalkan musik sang penyanyi, dan “The Essential Michael Jackson” masih merupakan album ke-65 yang paling banyak diunduh di Australia.

Sebelumnya, belasan stasiun radio Kanada mengatakan mereka tidak akan memainkan lagu ternama Jackson seperti “Billie Jean” dan “Bad” untuk saat ini.

“Kami memperhatikan komentar-komentar para pendengar, dan film dokumenter yang dirilis pada Minggu malam membuat mereka bereaksi,” kata Christine Dicaire dari Cogeco – yang mengoperasikan stasiun radio di Quebec dan Ontario – dalam sebuah pernyataan.

“Untuk saat ini, kami lebih suka mengamati situasi dengan menghapus lagu dari stasiun kami.”

Di Inggris, di mana “Leaving Neverland” akan dirilis pada hari Rabu dan Kamis, berbagai laporan mengatakan BBC juga menangguhkan musik Jackson.

Baca juga: Film dokumenter Michael Jackson “Leaving Neverland” hebohkan Sundance

Baca juga: Keluarga Michael Jackson sebut “Leaving Neverland” ibarat hukuman mati

Baca juga: Michael Jackson Estate tuntut HBO Rp1,4 triliun

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Red Velvet akan rilis versi Korea “Sayonara”

Grup K-pop Red Velvet pekan ini akan merilis versi Korea dari single digital terbaru “Sayonara” yang diluncurkan di Jepang bulan lalu.

SM Entertainment, seperti dilansir Yonhap, mengatakan single itu diluncurkan di Jepang pada 20 Februari sebagai lagu musim dingin yang liriknya mengisahkan kenangan dan kebahagiaan dari cinta yang lalu.

Red Velvet akan merilis versi bahasa Korea dari lagu itu pada Jumat (8/3) pukul 12 siang waktu Korea Selatan melalui toko musik online, seperti Melon dan Genie.

Lagu Februari itu diluncurkan menyusul kesuksesan konser Red Velvet di kota-kota Negeri Sakura, termasuk Fukuoka dan Kobe.

Bulan lalu, tiket konser Red Velvet di Amerika Utara laris terjual.

Baca juga: Konser Red Velvet rampung di AS, berlanjut ke Kanada

Baca juga: “Power Up” Red Velvet masuk 50 video klip terbaik Billboard

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan album baru, The Adams gelar pertunjukan eksperimental

Jakarta (ANTARA) – Untuk merayakan peluncuran album ketiganya yang berjudul “Agterplaas”, The Adams menggelar sebuah showcase. Uniknya, para personel tidak berada dalam satu panggung, melainkan terpisah di lima tempat yang berbeda.

Setelah 13 tahun absen dari industri musik, The Adams akhirnya menelurkan album ketiga. Karena ini adalah momen yang istimewa, mereka juga pun ingin pertunjukannya juga digarap dengan konsep yang berbeda.

“Konsepnya sebenarnya sederhana sih, kayak kita lagi di tempat latihan di studio saja. Kan kalau di ruangan gitu kan, gue berdiri di mana, Ale (Saleh) dirinya di mana, kita pasti punya tempat masing-masing. Nah, tempat-tempat ini ditarik mundur, jadi kita kayak sendiri-sendiri padahal kalo dijadiin satu sama aja. Cukup eksperimental ya, ya mumpung 13 tahun lah,” jelas Ario dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Benar saja, saat showcase di mulai, penggemar The Adams akhirnya terpencar dengan tempat idolanya masing-masing. Awalnya, penonton sempat kebingungan. Namun akhirnya, mereka tetap bisa menikmati pertunjukan dari The Adams.

Para personel The Adams pun saling bersautan ketika berbicara dengan penonton dan mengundang gelak tawa. Pasalnya, hal tersebut memang menjadi pemandangan yang lucu karena mereka tidak saling melihat satu sama lain.

“Bingung ya mau nontonnya di mana. Kita mau eksperimen aja bikin pertunjukan kayak gini yang di luar kebiasaan kita,” celetuk Saleh Husein, vokalis dan gitaris The Adams.

The Adams mengenalkan lagu-lagu baru mereka seperti “Esok”, “Lingkar Luar”, “Gelap Malam”, “Sendiri Sepi”, “Sinar Jiwa”, “Pesona Persona” serta “Agterplaas”.

“Lagu berikutnya, ini lagu sangat sentimentil buat gue. Jadi gimana rasanya kalau lo kangen sama seseorang yang sudah enggak ada,” kata Saleh, sebelum memulai lagu “Dalam Doa”.

Tak hanya lagu baru, The Adams pun memuaskan kerinduan penggemarnya dengan memainkan lagu-lagu lama seperti “Waiting”, “Hello Benny” dan “Hanya Kau”. Lalu, penampilan mereka ditutup dengan hits “Konservatif” yang dinyanyikan oleh semua penonton yang hadir di Studio Palem, Kemang, Jakarta.

Baca juga: Alasan The Adams “hilang” selama 13 tahun

Baca juga: Setelah 13 tahun, The Adams akhirnya rilis album ketiga

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan The Adams “hilang” selama 13 tahun

Jakarta (ANTARA) – 13 tahun absen dari industri musik bukanlah waktu yang sebentar. The Adams mengaku jika selama ini mereka memang terlalu santai untuk membuat album.

Band yang terdiri dari Ario Hendarwan (vokal, gitar), Saleh Husein (vokal, gitar), Gigih Suryoprayogo (vokal, drum) dan Pandu Fathoni (vokal, bass) ini mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar hilang dari panggung musik. Sesekali The Adams masih suka tampil di sebuah acara.

“Sebenarnya sih waktu kita cukup santai, semua kita kerjain sendiri. Kita cukup lama menghilang juga, manggung juga cuma setahun sekali. Tapi sebenarnya kita juga ada rencana bikin-bikin album dari 2009,” kata Saleh dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Para personel The Adams memang tidak semuanya murni terjun di dunia musik. Di antara mereka pun ada yang bekerja dibidang lain. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu kendala untuk berkumpul.

Namun, band yang mempopulerkan lagu “Konservatif” ini sadar sudah cukup lama hilang. Akhirnya mereka pun bertekad harus membuat album dengan serius.

Gue pikir energinya kita emang lagi ke situ. Ya sudah kita bikin album saja deh. Keinginan bikin album baru itu ada dari 2009 tapi ya terus hilang begitu saja. Sampai akhirnya kita kayak ada reminder-nya bahwa kita sudah hilang cukup lama, sampai ada yang nanya The Adams itu masih ada apa enggak,” jelas Ario.

Album ketiga The Adams yang berjudul “Agterplaas” bisa dibilang sebagai bukti bahwa mereka masih eksis. The Adams pun banyak bereksperimen dalam musik yang dimainkan.

“Kita bikin aja sih, enggak ada ekspektasi apa-apa. Ini jadi kayak pecah telor juga sih. Kita pakai demo yang dari 2009 juga tapi cuma beberapa aja. Kelemahan ngerjain semuanya sendiri itu, waktunya jadi enggak berbatas. Jadi cost yang paling mahal adalah di makan dan waktu,” ujar Ario.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akhiri karir, Boyzone persembahkan konser perpisahan untuk Stephen Gately

Jakarta (ANTARA) – Boyzone, boyband yang terkenal di era 90-an akan menggelar konser perpisahan di Tenis Indoor, Senayan, pada 24 Maret, yang bertajuk “Thank You and Goodnight Farewell Tour 2019”.

Konser ini akan mengakhiri perjalanam bermusik Boyband asal Irlandia itu. Mereka pun menyiapkan penampilan spesial karena penampilan itu akan dipersembahkan untuk mendiang Stephen Gately yang meninggal pada 2009 akibat kelainan jantung.

Managing Director Fullcolor Entertainment, David Ananda Marten mengatakan, “kami sangat bergembira sekali saat Boyzone bersedia konser di Indonesia dalam perjalanan yang bersejarah ini.”

“Ini akan menjadi konser yang spektakuler, karena konser ini rangkaian konser terahir mereka sebelum mereka benar-benar membubarkan diri,” ujar David kepada awak media di Jakarta, Rabu.

Dalam kesempatan yang sama, Isyana yang terpilih sebagai penyanyi pembuka dalam konser nanti mengungkapkan, bahwa ia memang mengagumi Boyzone sejak kecil karena diperdengarkan lagu-lagu tersebut oleh Ibu dan Bapaknya.

“Sejak saya masih SD kelas 2-3 kalau tidak salah dan saya bersama orang tua saya sering banget nyanyi bersama di mobil. Itu yang aku ingat sampai hari ini,” ungkapnya.

Isyana diperkirakan akan menyanyikan dua sampai empat lagu dari hitsnya sendiri untuk membuka pagelaran konser yang bersejarah bagi fans Boyzone di Indonesia.

“Aku akan kasih performance yang terbaik karena ini kesempatan enggak akan datang lagi dan aku dipercaya jadi pembuka boyband legendaris yang ikonik banget,” lanjutnya.

Perwakilan Official promotor Super Sonic, Rendy menambahkan pada konser terakhirnya ini, Boyzone meminta kepada pihak penyelenggara untuk memilih tempat yang mempunyai kapasitas yang tidak terlalu luas karena mereka ingin berada sedekat mungkin dengan penggemarnya.

“Dari pihak mereka memang mintanya lokasi yang tidak terlalu besar yang berkapsitas sekitar 5.000 dan juga sama halnya dengan penjualan tiket yang hanya terbatas agar mereka bisa lebih dekat dengan penonton, maka dari itu kita pilih Tenis Indoor, Senayan, Jakarta,” tambah Rendy.

Penjualan tiket akan dilakukan secara eksklusif melalui Traveloka, yang juga menyediakan tiket terbatas untuk Meet & Greet bagi para penggemar yang ingin berfoto dan mengucapkan selamat tinggal kepada Boyband kesayangannya.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Setelah 13 tahun, The Adams akhirnya rilis album ketiga

Jakarta (ANTARA) – Setelah hampir 13 tahun, akhirnya The Adams meluncurkam album baru. Album ketiganya ini diberi judul “Agterplaas”.

Agterplaas merupakan bahasa Afrika Selatan yang berarti teras belakang. Pemilihan nama tersebut memang disengaja, sebab menurut Ario Hendarwan (vokal, gitar), Saleh Husein (vokal, gitar), Gigih Suryoprayogo (vokal, drum) dan Pandu Fathoni (vokal, bass), semua proses pengerjaan album tersebut dilakukan di teras belakang rumah.

Secara garis besar, “Agterplaas” bercerita tentang fase hidup para personel The Adams selama 13 tahun absen dari industri musik. Kalau dulu bercerita tentang pulang jam 9 malam dan berwisata, kini mereka lebih banyak tentang mengenang masa muda atau merindukan mereka yang sudah tiada.

“Tema besarnya perjalanan waktu dari masa ke masa, tentang transportasi, kangen pada sesuatu atau mau ngedoain orang yang udah enggak ada,” ujar Saleh dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Untuk musik, mereka mengaku kini bermain lebih “liar” dan tanpa batasan tersebut. The Adams juga mengatakan jika konsepnya kali ini membuat mereka merasa lebih nyaman.

“Kita sekarang lebih banyak twist-nya aja. Ada part yang lo enggak percaya pada tempo yang udah cukup nyaman. Enggak ada formula khusus di sini, yang pasti kita berdistorsi aja, belaga mau metal, mau rock tapi enggak jadi. Kita senang main di situ aja,” jelas Saleh.

Album “Agterplaas” berisi 11 lagu yakni “Agterplaas”, “Masa-Masa”, “Pelantur”, “Lingkar Luar”, “Esok”, “Dalam Doa”, “Gelap Malam”, “Sinar Jiwa”, “Sendiri Sepi”, “Pesona Persona” dan “Timur”.

Album baru The Adams saat ini hanya tersedia dalam bentuk box set yang berisi CD album “Agterplaas” dan DVD film “Masa-Masa: Sebuah Dokumenter Pembuatan Agterplaas” arahan Cakti Prawirabishma. Box set ini dijual dengan harga Rp450 ribu.

Baca juga: Slank segera rilis album baru

Baca juga: Park Bom segera rilis album baru, diproduseri Brave Brothers

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tinggalkan Java Jazz, Michael Manson ingin lagi rasakan macet Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Bassis Michael Manson sudah berkali-kali tampil di Java Jazz mendampingi musisi-musisi ternama, tapi kali ini lampu sorot utama selalu mengarah kepadanya pada perhelatan musik jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Minggu (3/3).

“Suatu kehormatan bagi saya untuk tampil di Java Jazz pertama kali dengan band saya sendiri, sebelumnya saya sudah sering bermain dengan musisi lain,” Michael menyapa ratusan penonton sebelum membawakan “Just One Touch”.

Michael yang karya terbarunya “Up Front” berupa paduan jazz kontemporer, R&B dan gospel itu juga membawakan “Outer Drive” dan “Lovely Day” yang menghangatkan suasana karena penonton juga diajak untuk ikut menyanyi dengan dua suara seperti paduan suara. “Funk Medley” menjadi penutup pertunjukan malam itu.

“Terima kasih! Saya ingin kembali lagi… dan mencoba merasakan lagi kemacetan di sini,” ujar Michael sambil memasang ekspresi terkejut. “Oh, my God!” dia menambahkan.

Hadir di tengah pertunjukan, penyanyi muda Indonesia Nima Ilayla yang merupakan putri bungsu Menteri Perikanan dan Kelautan era presiden  Susilo Bambang Yudhoyono, Sharif Cicip Sutardjo. Nima yang sudah mengeluarkan single bahasa Inggris “Don’t Give a What” dan “I Can Do It All” ciptaan produser Tom Weir menyanyikan dua lagu, “Thank you, next” dari Ariana Grande dan “Killing Me Softly”.

Baca juga: Motown persembahan Harvey Malaihollo dan penyanyi milenial

Baca juga: Kolaborasi 6 musisi muda di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

TOTO tutup pertunjukan istimewa Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Penampilan grup musik legendaris TOTO di jadi penutup panggung istimewa Java Jazz 2019 yang sebelumnya diisi oleh musisi muda H.E.R dan Raveena.

Dikutip dari siaran pers Java Jazz, Senin, TOTO membawakan 16 lagu, dimulai dengan “Devil’s Tower”, kemudian “Hold the Line” yang membuat para penonton histeris dan bernyanyi bersama.

Konser berlanjut dengan lagu-lagu yang tidak asing di telinga para penggemarnya yaitu “Lovers in the Night”, “Alone” dan “Rosanna”.

Teriakan histeris juga terdengar saat lagu Georgy Porgy dinyanyikan. Penampilan Band Toto asal Los Angeles dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3/3/2019).ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama

Steve Lukather, sang gitaris menyapa penonton dengan berkata “Ready to sing along?” setelah itu mereka memainkan lagu “Human Nature” yang di populerkan oleh Michael Jackson.

Tanpa aba-aba, penonton yang berada di belakang langsung maju ke depan, sementara mereka yang duduk sontak berdiri.

Band rock Amerika Serikat yang dibentuk sejak 1977 itu juga membawakan lagu yang sudah dinantikan, “Africa”.

Pertunjukan ditutup dengan encore “Home of the Brave”, mengakhiri special show yang ekslusif di Java Jazz 2019.

Hari sebelumnya, penyanyi soul Amerika-India Raveena membuat panggung jadi warna-warni dengan sentuhan bunga di sana-sini menghibur penonton yang didominasi usia muda, sementara H.E.R yang baru memenangi piala Grammy jadi penampil hari pertama.

Baca juga: Konser musisi dunia yang patut ditunggu di tahun 2019

Baca juga: Tinggalkan Java Jazz, Michael Manson ingin lagi rasakan macet Jakarta

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karya komponis muda Indonesia pukau publik Belanda

London (ANTARA) – Karya komponis muda Indonesia Nursalim Yadi yang meraih anugerah, pemenang penghargaan utama “Ereprijst” tahun 2018, tampil memukau publik di Konser akhir “25th Young Composers Meeting”, di Apeldoorn, Belanda.

Tepuk tangan meriah memenuhi ruang utama pusat budaya Gigant mengakhiri lantunan musik yang dibawakan oleh Orkest Ereprijs.

Fungsi Pensosbud KBRI Den Haag – Belanda, Renata Siagian kepada Antara London, Senin menyebutkan Yadi menerima komisi untuk menggubah suatu karya untuk orkestra (ensemble) tanpa vokal dengan durasi 10 menit untuk ditampilkan pada malam final Young Composers Meeting ke-25 tahun.

Gubahan Yadi yang berjudul “Risalah Waktu” menonjolkan nada dan frekuensi dari berbagai jenis gong yang merepresentasikan waktu dan medium manusia untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Tidak hanya karya Yadi yang ditampilkan pada malam final 1 Maret lalu tersebut. “Suling Teu Silung” yang terinspirasi dari musik tradisional suling bamboo Jawa Barat sempat memukau para penonton.

Hilmi Righa Mahardika, sang penggubah, adalah satu dari enam belas peserta yang terpilih dari 174 pendaftar untuk mengikuti 25th Young Composers Meeting yang berlangsung sejak tanggal 24 Februari lalu hingga 1 Maret.

Hilmi mengatakan ia merasa beruntung dapat masuk dalam seleksi dan diberi kesempatan untuk mendapatkan pelatihan bersama lima belas peserta lainnya dari berbagai negara.

Tidak hanya diperkaya dengan pelatihan oleh komponis senior, tetapi juga melalui perbedaan gaya dari masing-masing komponis.

Diharapkannya setelah berpartisipasi dalam YCM ini, ia ingin mendalami musik kontemporer, mengingat masih sangat sedikit komponis musik kontemporer di Indonesia.

Yadi penerima penghargaan utama tahun lalu menyampaikan harapannya agar lebih banyak komponis muda berbakat Indonesia yang dapat mengikuti program.

Baginya, keikutsertaan di tahun 2018 telah membuka wawasan dalam menggubah lagu, utamanya dalam proses latihan dan komunikasi dengan pemain orkestra yang berbeda dari di Indonesia.

Yadi juga berhasil memperluas jejaring di dunia musik kontemporer internasional dan diminta untuk menggubah lagu oleh beberapa pihak.

Yadi mengaku beruntung atas dukungan Barbara Brouwer, istri mendiang Sitor Situmorang dalam partisipasinya tahun lalu.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi komponis muda Indonesia maupun penyair muda Indonesia dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di Belanda,” ucapnya.

Barbara Brouwer mengharapkan dengan adanya penghargaan ini akan membawa kemajuan kedua bangsa Indonesia dan Belanda.

“Young Composers Meeting” adalah kegiatan tahunan Orkest de Ereprijs yang ditujukan untuk memberikan wadah bagi komponis muda untuk menciptakan gubahan musik kontemporer bagi suatu orkestra atau ensemble, sekaligus mengembangkan bakat, pengetahuan, dan jejaring.

Selama seminggu para peserta diberikan tambahan pengetahuan, pelatihan individu oleh komponis senior, serta latihan bersama. Komponis muda Indonesia berhasil lolos seleksi dan berpartipasi dalam program ini sejak tahun 2017.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Motown persembahan Harvey Malaihollo dan penyanyi milenial

Jakarta (ANTARA) – Musik Motown yang banyak mempengaruhi musisi seperti Stevie Wonder, Jackson 5 hingga Diana Ross dipersembahkan di Java Jazz 2019 oleh penyanyi kawakan Harvey Malaihollo bersama dua penerusnya, Ashira Zamita dan Yotari Kezia, Minggu (3/3).

Mikha Tambayong, keponakan Harvey, awalnya dijadwalkan ikut tampil, namun mendadak batal karena sang ibu, Deva Malaihollo, meninggal dunia hari ini.

Pertunjukan dibuka dengan “Could It Be I’m Falling in Love” yang dipopulerkan The Spinners.

Harvey kemudian memuji para musisi muda yang mau mempelajari lagu-lagu zaman dulu yang didengarkan generasi-generasi di atas mereka.

Pujian Harvey terbukti dari penampilan Yotari Kezia, penyanyi 21 tahun yang menang ajang JOOX Karaoke Superstar, saat membawakan “Signed Sealed Delivered” dari Stevie Wonder.

Yotari yang tidak terbiasa membawakan lagu Motown menantang kemampuan dirinya sendiri untuk menyajikan musik di luar zona nyamannya.

“Ini hal baru buatku di industri musik Indonesia, aku belajar bareng sama om Harvey. (Motown) bukan aku banget, tapi aku akan coba menyanyikannya,” ujar Yotari.

Setelah itu, giliran Ashira Zamita yang paling belia untuk beraksi. Remaja 16 tahun yang jadi bagian Generasi Z itu menyanyikan “Truly” dari Lionel Richie yang dirilis jauh sebelum Ashira lahir, tepatnya 1982.

Usai lagu “Truly”, Ashira mengajak penonton untuk berdoa sejenak agar Mikha Tambayong – yang seharusnya berduet dengannya malam ini – diberi kesabaran atas kabar duka yang diterimanya hari ini.

“Harusnya aku kolaborasi sama Mikha, tapi ibunya meninggal hari ini jadi dia harus pulang…. Lagu ini aku dedikasikan untuk Mikha,” ujar Ashira yang kemudian membawakan “I’ll Be There” dari The Jackson 5 yang dirilis Motown Records pada 1970.

Ashira lalu ditemani oleh Yotari, keduanya berinteraksi dengan penuh semangat, kemudian berduet “Can’t Hurry Love” dari Phil Collins.

Tindak-tanduk dua remaja yang bertolak belakang dengan pembawaan Harvey yang tenang sempat dikomentari dengan gaya kocak oleh sang penyanyi senior.

“Sudah jam segini masih saja jejeritan,” seloroh Harvey ketika dua penyanyi muda itu kembali ke belakang panggung.

Penyanyi 56 tahun itu kemudian memanjakan telinga ratusan penonton lewat lagu-lagu seperti “Neither One of Us” dari Gladys Knight & the Pips yang baru kali ini dia nyanyikan di hadapan penonton, juga deretan lagu “Stevie Wonder” seperti “For Once in My Life”, “Sunshine of My Life”, “My Cherie Amor” dan ditutup dengan “Isn’t She Lovely”.

Pertunjukan ditutup dengan kemunculan kembali Yotari dan Ashira, dan ketiganya melantunkan “Let’s Stay Together” dari Al Green.

Pewarta: N011
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kolaborasi 6 musisi muda di panggung Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Hanin Dhiya, Andini, Rahmania Astrimi dan Trisouls berkolaborasi dalam panggung Warner Music Project di hari terakhir Java Jazz Festival 2019.

Ketiganya membawakan lagu “That’s What I Like” milik Bruno Mars sebagai pembuka pertunjukan. Setelah itu, para musisi muda berbakat tersebut pun saling menunjukkan kebolehan masing-masing.

“Minta tepuk tangan lebih meriah boleh. Kalian apa kabar? Perkenalkan nama saya Andini. Pertama aku ucapkan terimakasih buat Java Jazz Festival 2019 dan Warner Music. Ini adalah kesempatan yang langka ya,” kata Andini.

Andini menyanyikan dua lagu, yang pertama adalah single-nya sendiri “Done With You” dan “Love” milik Keyshia Cole dengan suara yang powerfull.

Lalu giliran Rahmania Astrimi yang unjuk gigi. Dia menyanyikan “Karenamu” dan “No One” yang dipopulerkan oleh Alicia Keys.

Hanin Dhiya pun tak mau ketinggalan, dia langsung menyanyikan “Save The Last Dance” milik Michael Buble. Sedangkan untuk lagu kedua, Hanin membawakan “Kau yang Sembunyi”.

Terakhir adalah giliran Trisoul yang membawakan “Menarilah”. Lalu pada lagu kedua, mereka memanggil Andini untuk medley lagu Ariana Grande. Trisoul yang enerjik dan memiliki gaya yang asyik bersatu dengan Andini yang tak kalah seru dari mereka menjadi tontonan menarik bagi pengunjung Java Jazz.

Kolaborasi Warner Music Project pun diakhiri dengan penampilan semua artis membawakan medley dari lagu-lagu James Ingram.

Pewarta: KR-MAR
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ibunda meninggal, Mikha Tambayong batal manggung di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Mikha Tambayong batal tampil di hari terakhir Java Jazz Festival 2019, Minggu, karena sang ibunda Deva Malaihollo meninggal dunia.

Mikha dijadwalkan tampil bersama Harvey Malaihollo & The Millennials Sing Motown.

Harvey Malaihollo yang tidak lain adalah kakak kandung ibu Mikha mengatakan bahwa adiknya menderita penyakit autoimun sejak setahun belakangan. Deva telah mendapat perawatan di rumah sakit, sebelumnya.

Kabar duka itu datang ketika Mikha sudah berada di JIExpo Kemayoran, Jakarta, lokasi JJF 2019 digelar. Dia pun langsung meninggalkan tempat acara.

Absennya Mikha membuat personel The Millennials tak lengkap, hanya Utari Keisha dan Shiren.

Meski demikian, Harvey tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya, ini adalah sebuah pembelajaran untuk bersikap profesional.

“Ini kita belajar professionalism. Bahwa things happen. Bahwa ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita dan saya disamping sedih dan kehilangan adik saya, notabene ibunya Mikha, saya juga belajar di sini buat profesional dan saya harap anak-anak di sini belajar profesional,” ujar Harvey.

The show must go on, kita harus lalukan apa yang sudah digariskan pada kita dan saya yakin bisa mengatasinya. Saya yakin anak-anak ini generasi penerus profesional, jadi mereka tahu what to do di atas panggung,” tambah Harvey.

Harvey Malaihollo & The Millennials Sing Motown tampil dengan membawakan lagu-lagu era motown yang dinyanyikan Stevie Wonder, Diana Rose, The Spinners dan lainnya.

Baca juga: Kahitna buat penonton Java Jazz 2019 galau
Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kahitna buat penonton Java Jazz 2019 galau

Jakarta (ANTARA) – Kahitna membuat para penonton Java Jazz Festival 2019 galau lewat lagu-lagu cinta yang dinyanyikan oleh Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario Ginanjar.

Penonton sudah memadati BNI Hall, JI Expo, Jakarta, Minggu, tempat Kahitna manggung, 15 menit sebelum acara dimulai.

Ketika para personel Kahitna muncul, semua langsung berdiri dan bersorak. Tanpa menunggu lama, lagu “Menanti” dimainkan dan semua yang hadir ikut bernyanyi.

“Terima kasih sudah menanti Kahitna di sini,” kata Mario.

Penampilan Kahitna, dilanjutkan dengan lagu “Soulmate”, “Tentang Diriku”, “Cerita Cinta”, “Andai Dia Tahu” dan “Aku Punya Hati”.

“Lagu yang ini tentang cinta yang sudah lewat. Karena kita waktunya enggak banyak, kita langsung saja,” ujar Yovie Widianto, pentolan Kahitna.

“Cinta Sudah Lewat” dan “Aku, Dirimu, Dirinya” dibawakan secara medley. Seolah tahu jika penonton tidak puas dengan lagu galau yang disajikan, Yovie akhirnya menambahkan lagi.

“Lagu yang berikut ini sebenarnya lagu sedih. Tapi saya enggak tahu kenapa, orang pada senyum-senyum kalau dengar lagu ini,” kata Yovie.

“Mantan Terindah” dinyanyikan dan penonton histeris. Karoke massal pun terjadi.

Hedi Yunus meminta penonton untuk menyalakan lampu flash ponsel yang membuat suasana semakin sendu.

“Terima kasih telah datang menunggu pertunjukan kami. Tapi kami harus memberikan kesempatan pada musisi jazz di luar sana yang hebat-hebat untuk disaksikan kalian semua,” ucap Yovie sebelum undur diri.

Baca juga: Cerita persahabatan Sheila Majid dan Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penampilan Band Toto pada BNI Java Jazz 2019

Penampilan Vokalis Band Toto Joseph Williams (kanan) dan Gitaris Steve Lukather dalam ajang BNI Java Jazz Festival di Jakarta, Minggu (3/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 yang ke -15 menghadirkan sederet musisi kondang dari dalam dan luar negeri. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama.

TKI pentaskan angklung di tengah komunitas pekerja Filipina

Jarang-jarang kami tampil di tengah komunitas mereka

Hong Kong (ANTARA) – Para tenaga kerja Indonesia (TKI) mementaskan alat musik tradisional angklung di panggung hiburan yang dipadati komunitas para pekerja asing asal Filipina di Hong Kong, Minggu.

“Ini kesempatan langka sekali. Jarang-jarang kami tampil di tengah komunitas mereka,” kata Iswindarti selaku pembimbing Saung Angklung Hong Kong saat ditemui Antara di kawasan Central Hong Kong, Minggu.

Dalam pergelaran itu, kelompok pekerja Indonesia mengenakan kebaya dan memainkan dua lagu, yakni “Butet” dan “Shanghai Bun”.

Sebanyak 23 anggota Saung Angklung tersebut sama sekali tidak terlihat canggung tampil di depan ribuan pasang mata karena mereka rutin melakukan latihan sekali dalam sepekan.

“Kami latihan setiap hari Minggu di gedung Imigrasi Hong Kong di kawasan Admiralty,” kata Iswindarti.

Saung Angklung juga mendapatkan kesempatan tampil di Hong Kong Flower Show pada 24 Maret 2019 bersama sembilan kelompok kesenian yang sama-sama beranggotakan para TKI.

“Ada sepuluh kelompok seni yang dipilih oleh KJRI (Konsulat Jenderal RI) Hong Kong untuk tampil dalam acara tahunan tersebut,” ujarnya bangga.

Setiap Minggu, para TKI lebih banyak menghabiskan waktu liburnya di Taman Victoria yang berjarak beberapa meter dari KJRI Hong Kong, sedangkan para pekerja Filipina di kawasan Central.

Filipina dan Indonesia merupakan dua negara penyumbang tenaga kerja asing sektor informal di Hong Kong.

Baca juga: Tari Jaipong jadi ekstrakurikuler SMA di Beijing
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita persahabatan Sheila Majid dan Tohpati di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Malaysia Sheila Majid menjadi bintang tamu istimewa pada penampilan Tohpati di Java Jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu.

Hadir belakangan setelah Tohpati membawakan lima lagu instrumental, penyanyi legendaris yang namanya dikenal luas di Indonesia itu mendapat sambutan meriah dan hangat dari penonton.

Di sela pertunjukan, Sheila berkisah mengenai persahabatannya dengan Tohpati yang dimulai sejak 1996.

Tohpati menjadi music director untuk konser Sheila pada 2016 silam, juga produser untuk albumnya.

“Dia memproduseri 10 lagu di album saya, delapan di antaranya ditulis Tohpati. Jadi faktanya itu adalah album Tohpati,” seloroh Sheila dalam bahasa Inggris.

Sheila membawakan empat lagu yang sudah familier di telinga pendengar Indonesia.

“Selamanya” dari album “Gemilang” yang rilis pada 1993, dan “Antara Anyer dan Jakarta” yang dinyanyikan secara massal oleh penonton meski tanpa aba-aba.

Lalu, “Kerinduan” yang ditemani petikan gitar akustik Tohpati, juga “Sinaran” yang bertempo cepat dan dinamis, membuat penonton ramai bergoyang.

Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Musisi Tohpati tak cuma menghibur penonton Java Jazz 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu, lewat petikan gitarnya yang asyik dinikmati, tetapi juga lewat gurauannya di sela-sela lagu.

Hujan deras yang turun di Kemayoran menjadi bahan lelucon Tohpati saat menyapa penonton.

“Hujan di luar ya? Jadi masuk sini buat berteduh apa nonton saya?” ujar dia seraya tersenyum.

Gitaris jazz itu lalu membawakan lagu pertama, “Cendrawasih” dari album solo ketiganya “It’s Time” yang nada-nadanya membuat pendengar langsung merasa berada di tanah Papua.

“Tadi itu lagu ‘Cendrawasih’ semoga bisa bayangin burung Cendrawasih ya, jangan yang lain,” seloroh dia.

Dari “Cendrawasih”, Tohpati mengubah suasana dengan lagu “Barongsai” yang kental dengan nuansa musik China.

Setelah membawakan lagu dari album “Serampang Samba” (2002), Tohpati memainkan “Kahyangan”, “Dewata” dan “Mahabarata”.

Sesekali dia mengungkapkan cerita singkat di balik lagu yang dibawakan malam ini. “Dewata”, kata Tohpati, diambil dari album ketiga yang rilis sebelas tahun lalu.

“Saya berusaha tiap tahun mengeluarkan album, walau…enggak laku,” katanya, disambut tawa penonton yang bergemuruh.

“Tapi di Instagram (lagunya) di-cover dari Sabang sampai Merauke, bangga juga. Tepuk tangan buat saya!” ujar Tohpati penuh canda, dan ratusan penonton pun sontak bertepuk kencang.

Pertunjukan Tohpati diramaikan dengan kehadiran penyanyi Malaysia Sheila Majid yang membawakan lagu-lagunya yang terkenal, seperti “Selamanya”, “Antara Anyer dan Jakarta” serta “Sinaran”.

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019
Baca juga: Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Isyana Sarasvati mengajak sang kakak Rara Sekar untuk tampil bersamanya di panggung Java Jazz Festival 2019, Jakarta, Minggu.

Kakak adik itu pun membawakan lagu “Luruh” yang merupakan soundtrack film “Milly & Mamet” di panggung Teh Botol Sosro.

Isyana dan Rara memainkan piano bersamaan. Suara lembut dan penghayatan keduanya membuat penonton terhipnotis.

“Ini pertama kalinya kita live dengan lagu ini. Kalau kepleset dikit aja bisa bahaya,” kata Isyana di panggung.

“Mumpung ada Rara, enggak mungkin kalau dia cuma nyanyiin satu lagu. Jadi kita minta dia nyanyi lagi,” lanjutnya.

Lagu “Keep Being You” dilantunkan dengan iringan band. Keduanya lalu mengajarkan sedikit koreografi ala girlband Korea kepada penonton dan langsung disambut tawa.

Selain dua lagu itu, Isyana juga memainkan beberapa lagu lain di antaranya “Kau Adalah”, “Heaven”, “Winter Song” dan “Tetap dalam Jiwa”.

“Kita lumayan deg-degan karena dapat manggungnya sore, eh ternyata full house. Terima kasih atas energi positifnya,” ujar Isyana.

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019
Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Hari ketiga Java Jazz 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, masih diisi oleh sederet bintang tamu ternama dari Indonesia dan mancanegara.

Special stage malam ini akan diisi oleh TOTO, yang hanya bisa disaksikan pemegang tiket khusus.

Penonton yang datang sejak petang bisa menikmati penampilan The Soulful yang baru merilis single bersama aktor “Gading Marten”, duo Yance Manusama dan Otti Jamalus, Elfa Zulham & The Beatz Messengers, ZAD (Zendhy Kusuma, Andra Ramadhan, Denny Chasmala) serta Delia yang sudah merintis karir di dunia tarik suara sejak jadi penyanyi cilik.

Band jazz dan soul Maliq & D’Essentials akan berkolaborasi dengan Lala Karmela nyaris bersamaan dengan pertunjukan Isyana Sarasvati juga Endah N Rhesa Extended.

Menjelang malam, penonton bisa mendengarkan Kahitna, Sinead Harnett dari London, Tony Monaco Trio, Knower, Teddy Adhitya, Gretchen Parlato hingga Petra Sihombing.

Gitaris Tohpati yang merupakan salah satu musisi jazz ternama Indonesia akan manggung bersama Sheila Majid malam ini.

Suara merdu Monita Tahalea dan Danilla Riyadi juga dapat didengarkan di perhelatan festival jazz yang sudah berlangsung selama 15 kali ini.

Selain itu bakal hadir pula Zsolt Botos, Masego, Harvey Malaihollo, JMSN hingga Indro Hardjodikoro bersama Sruti Respati.

Baca juga: GoGo Penguin bicara lewat musik di Java Jazz 2019

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiket ludes dalam 90 menit, BTS tambah pertunjukan di London

Jakarta (ANTARA) – BTS menambahkan jumlah pertunjukan di Stadioun Wembley, London setelah tiket konser pertamanya terjual habis hanya dalam waktu 90 menit.

Baru-baru ini BTS mengumumkan akan menggelar pertunjukan besar pada musim panas di Inggris. Konser tersebut dilaksanakan pada 1 Juni 2019. Namun karena permintaannya begitu besar, akhirnya BTS memutuskan untuk melanjutkan konsernya pada 2 Juni, dilansir NME, Minggu.

Keputusan untuk menambah jumlah pertunjukan diduga karena ada agen yang menjual kembali tiket konser tersebut dengan harga mencapai yang ribuan poundsterling.

Menurut situs Wembley Guest Support Portal, tiket pertunjukan kedua akan mulai 8 Maret 2019.

Boyband yang terdiri dari Jimin, V, RM, J-Hope, Jungkook, Suga dan Jin tahun lalu juga mengadakan dua pertunjukan di O2 Arena, London. Konser tersebut merupakan bagian dari promosi album keenam mereka yakni “Love Yourself: Tear”.

BTS membuat sejarah baru pada tahun 2018 dengan menjadi grup K-pop pertama yang masuk nominasi Grammy. Setelah melihat penampilan mereka pada acara tersebut, Dolly Parton menyatakan minatnya untuk kolaborasi dengan BTS.

“Mungkin #Jolene kolab saya berikutnya adalah dengan @BTS_twt? Bagaimana menurut kalian?,” kata Dolly beberapa waktu lalu.

Baca juga: BTS hadirkan “Armypedia” untuk menjangkau penggemar

Baca juga: BTS gagal bawa pulang piala Grammy

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Mantan vokalis band Payung Teduh, Is Pustaka tampil di panggung Java Jazz Festival 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu.

Suara merdunya rupanya dinanti-natikan oleh para penonton di panggung yang ada di area Teh Botol Sosro itu.

Is yang mengenakan kaos hitam, blazer hitam dan celana hitam ini, tampil setelah Rinni Wulandari.

Sebelum Is muncul ke panggung, intro “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” terlebih dahulu dimainkan.

Seolah sudah tahu siapa yang akan tampil selanjutnya, area sekitar panggung langsung bergemuruh.

Saat Is muncul, sontak penonton langsung bersorak dan bernyanyi bersama.

Suasana area Teh Botol Sosro Stage pun menjadi layaknya arena paduan suara massal.

Musik yang dibawakan oleh Is tidak terlalu berbeda dengan versi aslinya. Hanya terdengar lebih “ramai” dari biasanya. Meski begitu, penonton tetap menikmatinya.

“Saya sudah empat kali tampil dengan Yamaha Music Project. Saya belajar banyak dari orang-orang hebat seperti yang ada di sini. Bermusik buat saya bukan sekadar mencari kehidupan tapi saya sangat belajar dari orang-orang yang saya temui,” ujar Is di Jakarta, Sabtu.

“Lagu berikutnya, saya ingin kalian semua ikut bernyanyi,” tambah Is.

“Akad” pun dimainkan melengkapi pertunjukan solonya. Setelah itu, Is berduet dengan Rossa membawakan lagu “Sakura”.

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Baca juga: Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Java 2019

Jakarta (ANTARA) – Mantan vokalis band Payung Teduh, Is Pustaka tampil di panggung Java Jazz Festival 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu.

Suara merdunya rupanya dinanti-natikan oleh para penonton di panggung yang ada di area Teh Botol Sosro itu.

Is yang mengenakan kaos hitam, blazer hitam dan celana hitam ini, tampil setelah Rinni Wulandari.

Sebelum Is muncul ke panggung, intro “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” terlebih dahulu dimainkan.

Seolah sudah tahu siapa yang akan tampil selanjutnya, area sekitar panggung langsung bergemuruh.

Saat Is muncul, sontak penonton langsung bersorak dan bernyanyi bersama.

Suasana area Teh Botol Sosro Stage pun menjadi layaknya arena paduan suara massal.

Musik yang dibawakan oleh Is tidak terlalu berbeda dengan versi aslinya. Hanya terdengar lebih “ramai” dari biasanya. Meski begitu, penonton tetap menikmatinya.

“Saya sudah empat kali tampil dengan Yamaha Music Project. Saya belajar banyak dari orang-orang hebat seperti yang ada di sini. Bermusik buat saya bukan sekadar mencari kehidupan tapi saya sangat belajar dari orang-orang yang saya temui,” ujar Is di Jakarta, Sabtu.

“Lagu berikutnya, saya ingin kalian semua ikut bernyanyi,” tambah Is.

“Akad” pun dimainkan melengkapi pertunjukan solonya. Setelah itu, Is berduet dengan Rossa membawakan lagu “Sakura”.

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Baca juga: Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Jakarta (ANTARA) – Java Jazz 2019 mengenang kepergian musisi Aretha Franklin, penyanyi Amerika Serikat yang kerap dijuluki “Ratu Musik Soul”, lewat penampilan kolaborasi antara Dira Sugandi dan Harvey Mason di JI Expo Kemayoran, Sabtu.

Ruangan penuh sesak oleh orang-orang yang ingin mendengarkan lagu-lagu Aretha Franklin yang dihidupkan lagi oleh Dira dan Harvey.

Dira yang mengenakan kostum pink gradasi ungu dihiasi rumbai-rumbai tampil atraktif dan memukau. Lagu-lagu terkenal Aretha dinyanyikannya, termasuk “Respect”, “Until You Come Back” dan “Freeway of Love” yang membuat penonton ikut bergoyang.

“Terima kasih Java Jazz untuk mewujudkan kolaborasi ini!” kata Dira sebelum menutup pertunjukan.

Aretha Franklin semasa hidupnya menyabet 18 Grammy dan membukukan sekitar 25 album emas.

Suaranya, yang unik, kuat dan penuh perasaan, menempatkannya sebagai penyanyi “soul” terkemuka pada 1960-an bersama Otis Redding, Sam Cooke dan Wilson Pickett.

Pada 1987, Aretha Franklin menjadi perempuan pertama yang diabadikan pada “Rock and Roll Hall of Fame” dan pada 2010 Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai penyanyi nomor satu era musik rock.

Penampilan terakhir Aretha Franklin adalah pada 7 November 2017. Saat itu, ia menyanyi di acara Yayasan AIDS Elton John.

Java Jazz 2019 hari kedua juga diramaikan oleh penampilan dari Sore dan Ron King Horn Section yang berkolaborasi dengan Aqi Singgih, Audrey Singgih, Andien, Radhini, Teddy Adhitya dan Rendy Pandugo.

Bob James Trio juga tampil memikat dengan lagu-lagu yang asyik didengarkan sembari duduk santai, sementara penampilan penuh energi dari Adrian Khalif, Adikara Fardy dan Iwa K “membakar” semangat penonton yang ikut serta menyanyikan lagu-lagu terkenal seperti “24K”, “That’s What I Like” dan “Uptown Funk”.

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Dira Sugandi tak sabar saksikan H.E.R di Java Jazz

Baca juga: R-E-S-P-E-C-T: Penghormatan terakhir untuk Aretha Franklin

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – Raveena membuat penonton seakan berpindah tempat ke taman bunga yang cerah penuh warna di special show Java Jazz 2019, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu.

Bunga-bunga menghiasi berbagai titik di panggung; di sekitar drum, bahkan bunga-bunga matahari pun mekar dan merambat di tiang pelantang.

Penyanyi soul berdarah Amerika-India itu tampil tak kalah ceria dan lincah, membuat penampilan ini tak cuma menyenangkan di telinga, tapi asyik dilihat.

“Aku baru belajar sedikit bahasa Indonesia,” katanya dalam bahasa Inggris di sela lagu. “Aku cinta kamu!” ujarnya, yang langsung disambut teriakan gemuruh ratusan penonton.

Mengenakan gaun jingga mencolok dengan bahan ringan melambai-lambai, Raveena menari ke sana-sini, menyusuri sisi panggung.

Lagu-lagu dan suaranya yang terdengar manis membuat penonton bergoyang santai mengikuti irama.

“Johnny It’s The Last Time”, “You Give Me That”, “Temptation”, “American Boy”, “No Better”, “I Won’t Mind”, “If Only” adalah sebagian sajian yang disuguhkan malam ini.

Di setiap perpindahan lagu, Raveena selalu memuji antusiasme penonton, atau menjelaskan secara singkat lagu yang akan dinyanyikannya.

Pertunjukan malam ini adalah kali pertamanya manggung di Asia, yang disebut Raveena sebuah hal yang patut disyukuri sebagai seorang musisi karena bisa melancong ke sana-sini memperdengarkan musiknya untuk orang dari penjuru dunia.

“Suatu hal yang patut disyukuri bisa bermain musik untuk orang-orang dan ini tidak akan terwujud kalau kalian tidak mendengarkan laguku,” kata penyanyi yang sudah meluncurkan album debut EP “Shanti” pada 2017. “Thank you so much! Terima kasih banyak! Aku cinta kamu!”

Baca juga: Sore mainkan lagu-lagu “langka” di panggung Java Jazz Festival 2019

Baca juga: Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sore mainkan lagu-lagu “langka” di panggung Java Jazz Festival 2019

Jakarta (ANTARA) – Grup band Sore membawakan lagu-lagu “langka” yang mereka jarang mainkan saat manggung.

Sore membawakan “Rubber Song” sebagai pembuka aksinya di hari kedua Java Jazz Festival 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu malam.

“Untuk selanjutnya, kita mau bawain lagu yang hampir enggak pernah kita bawain,” kata Awan Garnida sang vokalis sekaligus basis. “Map Biru” lalu dimainkan.

Menurut Awan, lagu tersebut diciptakan saat Ade Firza Paloh berencana untuk kerja kantoran dibandingkan dengan ngeband.

Meski tampil di panggung kecil, yakni Bus Stage, penonton yang menyaksikan aksi dari Ade Firza Paloh, Awan Garnida, Reza Putranto dan Bemby Gusti cukup banyak. Karena tampil di panggung outdoor, mereka pun terlihat lebih santai.

“Baru kali ini nih, kita main rasa kebab. Panas dan berasep,” ujar Awan disambut tawa.

Kemudian Sore masih memainkan lagu yang diambil dari album “Los Skut Leboys” yakni “Tatap Berkalam”. Lagu tersebut bisa dibilang cukup jarang dibawakan oleh Sore saat manggung. Meski demikian, cukup hafal untuk ikut bernyanyi.

“Kalau jazz mah gitu de (Ade) enggak pakai latihan dulu. Apa yang ada di panggung langsung mainin aja,” kata Awan.

Beralih ke album “Ports of Lima”, Sore lalu membawakan “Senyum dari Selatan” dan “Karolina”. Penggemar Sore sepertinya memang sangat menantikan lagu tersebut, sebab semua ikut bernyanyi tanpa perlu menunggu aba-aba. Belum lagi ketika “Pergi Tanpa Pesan” juga dimainkan, suasana syahdu langsung menyelimuti, sangat pas dengan nuansa lagunya.

“Dengan demikian, tibalah kami mengundurkan diri. Terimakasih atas kebersamaannya malam ini. Sebagai persembahan terakhir, kami akan membawakan lagu ini,” ujar Awan dan “Sssst…” dilantunkan sebagai penutup pertunjukan.

Baca juga: Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – BNI Project with Ron King Horn Section menjadi salah satu program dalam Java Jazz Festival 2019 hari kedua di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Sabtu.

Ron King Horn Section berkolaborasi dengan para musisi seperti Aqi Singgih, Audrey Singgih, Andien, Radhini, Teddy Adhitya dan Rendy Pandugo.

Keenam musisi tersebut membawakan lagu-lagu dari musisi internasional yang pernah tampil di Java Jazz tahun sebelumnya seperti Aqi yang membawakan lagu “Mind Trick” milik Jamie Cullum dan Andien membawakan “Throught The Fire” milik Chaka Khan.

“Dari tadi saya dengar belum ada yang tepuk tangan nih. Kali ini tepuk tangan yuk bersama saya,” ujar Andien di BNI Hall, Java Jazz 2019.

Andien kemudian menyanyikan “Breakout” milik Swing Out Sister. Andien yang saat itu mengenakan terusan putih, mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersamanya.

Selain Andien, Aqi bersama istrinya, Audrey Singgih duet menyanyikan “Lucky” yang pernah dibawakan oleh Jason Mraz.

“Untuk aku nyanyiinnya sama kamu, bukan Teddy Adhitya,” kata Aqi sambil memeluk Audrey.

Sementara itu, Teddy Aditya membawakan “I Feel Good” milik James Brown, Audrey dengan “Iris” milik The Goo Goo Dolls serta Radhini dengan “Breathe Again” milik Toni Braxton.

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Kemarin, Kodaline kolaborasi dengan Abdul hingga H.E.R yang memukau

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Jakarta (ANTARA) – Perhelatan musik Java Jazz 2019 sudah memasuki hari kedua, menampilkan 100 musisi Indonesia dan luar negeri. Mereka tampil solo atau saling berkolaborasi dalam 11 panggung yang tersebar di JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Hari ini, penonton yang sudah membeli tiket special show dapat menyaksikan penampilan musisi India-Amerika Raveena.

Selain special show, masih banyak pertunjukan lain yang bisa dinikmati, seperti Adie Unyiel and The Bawor, gitaris Allen Hinds dan L.A. Super Soul, solois Andien, Arini Kumara and Friends juga Arsy Widianto yang merupakan putra musisi Yovie Widianto.

Penonton juga bisa menyaksikan Ron King Horn Section yang berkolaborasi dengan Andien, Aqi Alexa, Audrey Singgih, Radhini, Rendy Pandugo dan Teddy Adhitya.

Ada pula Bob James Trio, Christabel Annora, Donny McCaslin, GoGo Penguin, Gretchen Parlato dan kolaborasi Dira Sugandi dengan Harvey Mason.

Musisi Indra Aziz, J-Newbies dari Jepang, James Vickery, Mac Ayres dan kolaborasi Adrian Khalif Adikara Fardy serta Iwa K bersama MLDJAZZPROJECT juga bisa ditonton.

Masih ada Moonchild, Nathan East Band of Brothers, simakDIalog, Sore, Sinéad Harnett, The Melodrama, The Suffers, Yura Yunita, Yuri Mahatma juga Yamaha Music Project feat. Is Pusakata, Rossa, Rini Wulandari.

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Baca juga: Gelang TapCash alat transaksi pengunjung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi jazz Dira Sugandi akan tampil bersama Harvey Mason dalam penampilan “A Tribute to Aretha” di Java Jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Sabtu.

Dira dan pemain jazz drum asal Amerika Harvey Mason akan memainkan lagu-lagu Aretha Franklin yang wafat pada 16 Agustus silam.

Tak sabar, bersemangat sekaligus deg-degan campur aduk di hati Dira menjelang penampilan nanti malam.

“Tahun ini spesial karena sama Harvey akan membawakan show tribute Aretha Franklin, Harvey kan pernah main juga dengan Aretha,” ujar Dira di Java Jazz 2019, Jumat (1/3) petang.

Berhadapan dengan penonton yang merupakan penggemar berat Aretha jadi salah satu alasan kegugupan Dira yang ingin bisa melampaui ekspektasi mereka.

“Tapi alhamdulillah teman-teman musisi luar sangat support, mengapresiasi dan kooperatif, membuat enggak gugup dari sejak latihan,” imbuh Dira.

Dari perhelatan Java Jazz yang sudah berlangsung 15 kali, Dira hanya absen dua kali, yakni saat mengandung dan melahirkan.

Penyanyi 39 tahun itu berpendapat Java Jazz semakin bagus dari tahun ke tahun, dan menarik lebih banyak orang dari seluruh dunia.

“Yang sangat menonjol tahun ini, line up-nya bagus banget, aku bingung mau nonton yang mana karena harus perform juga,” imbuh dia.

Java Jazz 2019 menghadirkan 100 musisi dari dalam dan luar negeri di sebelas panggung yang akan berlangsung hingga 3 Maret 2019.

Baca juga: Dengarkan Whitney Houston, Dira Sugandi masih sering menangis

Baca juga: Soimah nge-jazz bareng Dewa Budjana di JJF 2019

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aksi Dewa Budjana di Java Jazz

Gitaris Dewa Budjana (tengah) bersama penyanyi Soimah Pancawati (kiri) dan basist Mohini Dey (kanan) beraksi dalam BNI Java Jazz Festival 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 menghadirkan sederet musisi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan mulai Jumat (1/3) hingga Minggu (3/3). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Kolaborasi Kodaline dan Abdul Idol

Aksi panggung grup musik Kodaline saat tampil menghibur penggemarnya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (1/3/2019). Dalam konser bertajuk “Politics of Living Tour 2019” grup musik asal Irlandia tersebut membawakan 17 lagu hits mereka. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

Soimah nge-jazz bareng Dewa Budjana di JJF 2019

Jam 12 (malam). Sanggulan dari jam dua, enggak dipanggil-panggil…

Jakarta (ANTARA) – Rasanya seperti menempuh perjalanan penuh dinamika saat menyaksikan kolaborasi gitaris Dewa Budjana, bassist muda berbakat India Mohini Dey dan pesinden Soimah Pancawati di Java Jazz Festival (JJF) 2019, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3).

Pertunjukan yang dimulai menjelang tengah malam itu awalnya terasa santai ketika “Joged Kahyangan” dimainkan oleh Budjana yang pembawaannya tenang.

Kehadiran bassist muda asal India, Mohini Dey, semakin menyemarakkan suasana. Mohini yang tampak mungil bila dibandingkan dengan alat musik yang dimainkannya tampil ekspresif.

Tangannya menari-nari lincah membetot senar bass, mengiringi lagu “Mahandini” dan “Queen Kanya” dari album terbaru Budjana yang rilis akhir 2018 silam.

Penonton sibuk bertepuk tangan saat melihat kemampuan musisi yang pertama kali mengenal gitar pada usia tiga tahun dari ayahnya yang juga seorang bassist itu.

Penonton semakin riuh ketika Soimah Pancawati, sinden yang aktif sebagai pembawa acara penuh humor, bergabung di panggung.

Pertunjukan jadi lebih hidup karena penonton menantikan bumbu-bumbu komedi yang bakal dihadirkan Soimah di panggung.

Tawa sudah terdengar di sana-sini saat Soimah, yang mengenakan kebaya hitam dipadu rok batik mengembang, berjalan ke arah pelantang tanpa menghiraukan Budjana yang sudah siap mengajaknya untuk tos.

“Jam 12 (malam). Sanggulan dari jam dua, enggak dipanggil-panggil,” seloroh Soimah, membuat ratusan penonton terbahak.

Dengan ekspresi takjub seakan tak percaya dirinya jadi bintang tamu di perhelatan musik jazz yang sudah berlangsung 15 kali, Soimah melanjutkan, “Hebat, Soimah nge-jazz!”

Ekspresi penuh canda Soimah langsung berganti jadi serius ketika lagu “Hyang Giri” mulai mengalun, di mana sang sinden didapuk sebagai pengisi vokal.

Suaranya yang merdu terdengar harmonis dengan instrumental dalam lagu yang menceritakan kekuasaan penguasa gunung dan pencipta dunia itu.

“Sudah keren belum aku? Nge-jazz kan aku?” ujar pesinden 38 tahun itu setelah “Hyang Giri” selesai dinyanyikan.

Penampilan Dewa Budjana adalah salah satu pertunjukan paling larut di hari pertama Java Jazz 2019.

Perhelatan musik yang menampilkan 100 musisi dari dalam dan luar negeri itu masih akan berlangsung hingga 3 Maret 2019.

Para penampil yang memeriahkan Java Jazz 2019 meliputi Afgan, Andien, Isyana Sarasvati, Kunto Aji, Hanin Dhiya, Radhini, Rendy Pandugo, Endah n Rhesa Extend, Idang Rasjidi & The Syndicate, Parkdrive serta Barry Likumahuwa Tribute to Roy Hargrove.

Dari luar Indonesia, ada GoGo Penguin, Bob James Trio, Donny McCaslin, James Vickery, Louis Cole, R+R = NOW juga tiga musisi dalam special show, yakni band legendaris TOTO, pendatang baru Raveena dan peraih lima nominasi Grammy Awards tahun ini, H.E.R.

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Baca juga: Addie MS – Lea Simanjuntak bawa nuansa Broadway ke Java Jazz

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kodaline nyanyikan 16 lagu, ajak penonton “karaoke” selama konser

Jakarta (ANTARA) – Lantunan lirik “I remember you and me/ Back when we were seventeen/Drinking, kissing in the street,” langsung bergema di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (1/3), ketika Kodaline membuka konsernya, sekaligus menjawab penantian penggemar yang sudah menanti sejak sore.

“Follow Your Fire” membuka pertunjukan dengan sangat manis. Tanpa perlu diminta, penonton dengan sukarela bernyanyi dengan sekeras-kerasnya layaknya berkaraoke bersama di arena konser.

“Indonesia, senang bisa berjumpa lagi dengan kalian,” sapa Steve Garrigan, sang vokalis sebelum menyanyikan “Brand New Day”.

Nama Kodaline tidaklah asing bagi penikmat musik tanah air. Malah band asal Irlandia ini memiliki cukup banyak penggemar. Hal tersebut juga terlihat dalam konsernya yang bertajuk “The Politics of Living Tour”, sebab hampir seluruh area dipadati oleh penonton.

Tak hanya itu, lagu-lagu milik Kodaline juga begitu akrab di telinga penonton. Semua lagu dinyanyikan oleh Kodaline bersama penonton tanpa jeda. Hal ini sampai membuat mereka terkejut sekaligus senang.

“Lagu berikutnya lagu romantis, ini lagunya untuk teman saya di hari pernikahannya. Ini adalah lagu yang romantis. Bisa minta cahaya kayak gini (menggunakan flash dari ponsel). Jakarta kalian sangat indah. Kalau ada yang tahu lagu ini mari kita nyanyi bareng,” kata Steve.

Lagu “The One” pun dilantunkan kemudian menyulap suasana menjadi syahdu seketika.

Steve dan penonton saling bersautan menyanyikan lagu tersebut dan diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah.

Baca juga: Kejutan konser Kodaline, Abdul Idol tampil bawakan “All I Want”

Kodaline tampaknya memang ingin ambil nafas sejenak. Lagu-lagu dengan nuansa mellow kembali dimainkan seperti “Angel” dan “I Wouldn’t Be”.

Setelah masa pendinginan berakhir, Kodaline kembali memainkan lagu yang membuat penonton ikut bergoyang seperti “Love Like This”, “One Day”, “Raging” dan “Love Will Set You Free”.

Kodaline juga memberikan kejutan untuk para penggemarnya dengan mengajak Abdul Idol tampil di panggung membawakan “All I Want”. Lagu tersebut merupakan salah satu yang paling dinantikan oleh penggemarnya.

“Abdul,” ujar Steve mengenalkan Abdul. Penonton pun memberikan dukungannya untuk menyanyikan lagu tersebut.

Konser pun ditutup dengan lagu “High Hopes”. Secara keseluruhan, Kodaline memberikan suguhan yang menarik meski durasi konsernya terasa begitu cepat, yakni kurang lebih satu jam. Wajar saja, sebab mereka memang hanya memainkan 16 lagu saja.

Baca juga: “Follow Your Fire” buka konser Kodaline di Jakarta

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019