Curhatan Tulus saat konser Monokrom

Jakarta (ANTARA News) – Penyanyi Tulus tak melulu menghibur para penggemarnya (Teman Tulus) melalui alunan suara merdu berbalut lagu-lagu andalannya dalam konser solo bertajuk “Monokrom” di Jakarta, Rabu (6/2) malam. 

Dia juga beberapa kali membuat penggemar berdehem sendu melalui celoteh hingga curahan hatinya usai menyanyikan sebuah atau dua buah lagu. 

“Apa kabar teman-teman? Di detik ini saya berusaha rileks. Debar jantung saya (kencang). Saya deg-degan malam ini. Banyak yang saya persiapkan. Saya berharap semua yang datang malam ini bahagia. Jangan ada yang ditahan-tahan,” ujar Tulus usai menyanyikan lagu “Baru”, Jatuh Cinta” dan “Gajah”. 

Baca juga: Tulus buka konser solo di Jakarta lewat lagu “Baru”

Dia sedikit berkisah soal lagu “Gajah” yang mengingatkannya saat masih kecil, yang bertubuh agak besar dari anak-anak sebayanya. 

Sesaat sebelum Tulus melantukan lagu “Ruang Sendiri”, kembali dia bercerita singkat. Kata dia, lagu itu ditulis saat menyadari bahwa rindu itu penting. 

“Menceritakan betapa pentingnya rasa rindu. Pisah-pisah sebentar enggak apa-apa. Saya selalu rindu ketenu teman-teman semua. Makanya saya enggak bisa buat konser setiap hari,” tutur dia dan disambut teriakan riuh penonton. 

Lagi-lagi Tulus kembali berceloteh sebelum membawakan lagu “Tukar Jiwa” dan “Cahaya”. Lagu “Tukar Jiwa” menurut dia berbicara mengenai rasa empati, sementara satu lagu lainnya bukan sekedar pemanis namun, memiliki makna. 

Dia bahkan sempat bercanda kalau kemampuan berbicara di depan umumnya membaik, seraya tertawa. Tulus juga memuji para penggemar yang hadir malam itu. 
 
“Wow, suara teman-teman keras sekali. Ada 6000 suara. Terima kasih. Ada yang follow Instagram saya? Saya iseng masukin video di Instagram, ternyara mendapat respon. Bercanda malah jadi beban,” kata Tulus sesaat sebelum membawakan lagu “Bumerang”. 

Baca juga: Tiket konser “Monokrom” laris, Tulus senang sekaligus panik

Baca juga: Konser Monokrom Tulus, wujud apresiasi kepada pendengar setia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019