Diduga halangi eks SMAP, agensi Johnny’s dapat teguran

Jakarta (ANTARA) –

Johnny & Associates Inc, salah satu agensi bakat terbesar di Jepang, diduga menekan stasiun televisi untuk tidak mengundang tiga mantan anggota grup SMAP dalam acara televisi setelah mereka keluar dari agensi pada 2017, kata seorang sumber seperti dilansir Kyodo.

Antitrust Watchdog Jepang memperingatkan bahwa agensi itu mungkin melanggar hukum anti monopoli, kata sumber itu.

Ini merupakan kasus pertama di mana agensi bakat menerima peringatan dari Fair Trading Commission berdasarkan hukum yang berhubungan dengan seniman yang berganti agensi.

Dalam pernyataan di situs resmi, agensi itu membantah telah menekan stasiun televisi, namun mengakui ada penyelidikan dari komisi.

“Perusahaan kami tidak pernah menekan stasiun TV dan menerima pemeriksaan administratif atau peringatan dari Fair Trading Commission atas pelanggaran hukum antimonopoli. Tapi kami menganggap masalah itu serius dan telah diselidiki oleh komisi dan kami akan berusaha untuk mencegah kesalahpahaman,” demikian pernyataan agensi itu.

Baca juga: Johnny Kitagawa, bos agensi hiburan Jepang meninggal di usia 87 tahun

Goro Inagaki, Tsuyoshi Kusanagi dan Shingo Katori adalah bagian dari SMAP yang bernaung di bawah agensi itu. Grup itu sangat populer sampai ada 370.000 tanda tangan petisi berisi permohonan untuk memikirkan ulang keputusan bubar pada akhir 2016.

Ketiganya keluar dari SMAP dan agensi pada September 2017, membentuk grup bernama “Atarashiichizu” (peta baru).

Sejak itu, penampilan mereka di televisi jauh berkurang, bahkan nyaris nol.

Kusanagi mendeskripsikan masa-masa sejak jadi independen pada episode televisi internet pada 30 April.

Menyadari mungkin ada sesuatu di balik itu, dia berkata, “Jelas ada aspek di mana kami belum bisa mencapai yang ingin kami datangi.”

Sumber itu mengatakan agensi menggunakan taktik untuk menekan seperti menyiratkan mereka takkan mengizinkan artis-artisnya tampil bila tiga mantan anggota SMAP muncul di sana.

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019