Karya komponis muda Indonesia pukau publik Belanda

London (ANTARA) – Karya komponis muda Indonesia Nursalim Yadi yang meraih anugerah, pemenang penghargaan utama “Ereprijst” tahun 2018, tampil memukau publik di Konser akhir “25th Young Composers Meeting”, di Apeldoorn, Belanda.

Tepuk tangan meriah memenuhi ruang utama pusat budaya Gigant mengakhiri lantunan musik yang dibawakan oleh Orkest Ereprijs.

Fungsi Pensosbud KBRI Den Haag – Belanda, Renata Siagian kepada Antara London, Senin menyebutkan Yadi menerima komisi untuk menggubah suatu karya untuk orkestra (ensemble) tanpa vokal dengan durasi 10 menit untuk ditampilkan pada malam final Young Composers Meeting ke-25 tahun.

Gubahan Yadi yang berjudul “Risalah Waktu” menonjolkan nada dan frekuensi dari berbagai jenis gong yang merepresentasikan waktu dan medium manusia untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Tidak hanya karya Yadi yang ditampilkan pada malam final 1 Maret lalu tersebut. “Suling Teu Silung” yang terinspirasi dari musik tradisional suling bamboo Jawa Barat sempat memukau para penonton.

Hilmi Righa Mahardika, sang penggubah, adalah satu dari enam belas peserta yang terpilih dari 174 pendaftar untuk mengikuti 25th Young Composers Meeting yang berlangsung sejak tanggal 24 Februari lalu hingga 1 Maret.

Hilmi mengatakan ia merasa beruntung dapat masuk dalam seleksi dan diberi kesempatan untuk mendapatkan pelatihan bersama lima belas peserta lainnya dari berbagai negara.

Tidak hanya diperkaya dengan pelatihan oleh komponis senior, tetapi juga melalui perbedaan gaya dari masing-masing komponis.

Diharapkannya setelah berpartisipasi dalam YCM ini, ia ingin mendalami musik kontemporer, mengingat masih sangat sedikit komponis musik kontemporer di Indonesia.

Yadi penerima penghargaan utama tahun lalu menyampaikan harapannya agar lebih banyak komponis muda berbakat Indonesia yang dapat mengikuti program.

Baginya, keikutsertaan di tahun 2018 telah membuka wawasan dalam menggubah lagu, utamanya dalam proses latihan dan komunikasi dengan pemain orkestra yang berbeda dari di Indonesia.

Yadi juga berhasil memperluas jejaring di dunia musik kontemporer internasional dan diminta untuk menggubah lagu oleh beberapa pihak.

Yadi mengaku beruntung atas dukungan Barbara Brouwer, istri mendiang Sitor Situmorang dalam partisipasinya tahun lalu.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi komponis muda Indonesia maupun penyair muda Indonesia dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di Belanda,” ucapnya.

Barbara Brouwer mengharapkan dengan adanya penghargaan ini akan membawa kemajuan kedua bangsa Indonesia dan Belanda.

“Young Composers Meeting” adalah kegiatan tahunan Orkest de Ereprijs yang ditujukan untuk memberikan wadah bagi komponis muda untuk menciptakan gubahan musik kontemporer bagi suatu orkestra atau ensemble, sekaligus mengembangkan bakat, pengetahuan, dan jejaring.

Selama seminggu para peserta diberikan tambahan pengetahuan, pelatihan individu oleh komponis senior, serta latihan bersama. Komponis muda Indonesia berhasil lolos seleksi dan berpartipasi dalam program ini sejak tahun 2017.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019