Phutu Parker, penyembuh derita asmara gitar musikus nasional

Jakarta (ANTARA) – Putu Sudarsana sebelumnya tidak pernah menyangka profesi sebagai penjaga toko musik di Blok M, Jakarta Selatan, pada era 1990-an itu akan mengantarkannya menjadi seorang “penyelamat” atau juru servis gitar milik sejumlah musikus nasional.

Pria berjuluk Phutu Parker itu membuka bengkel perbaikan gitar di Condet, Jakarta Timur. Bukan hanya menyelamatkan instrumen musik bersenar yang rusak, ia mahir pula membuat gitar khusus pesanan para musikus kenamaan.

“Seingat saya Rama Satria (gitaris blues), Coki Netral, dan Virgoun paling sering datang ke bengkel saya untuk memodifikasi gitarnya,” kata Putu Sudarsana saat ditemui Antara di Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Rabu (20/3).

Rama Satria, lanjut Phutu, pernah datang demi perbaikan sebuah gitar listrik sebelum manggung pada acara musik televisi swasta pada 2011.

Rama yang pernah tampil sebagai pembuka konser Aerosmith di Boston dan sepanggung bersama Wes Jeans, Lance Lopez, dan band Stevie Ray Vaughan yang bernama Double Trouble itu, merasa puas dengan pekerjaan Putu.

Pada 2013, Rama pun memesan sebuah gitar khusus untuk diberikan kepada Lance Lopez, kata Putu.

Pria kelahiran Nusa Penida, Bali, 45 tahun lalu itu juga pernah diminta Coki Netral untuk memperbaiki gitar. Bukan satu unit, melainkan langsung lima unit gitar yang menjadi koleksi gitaris bernama lengkap Christopher Bollemeyer itu.

Musikus lain yang juga meminta jasa Putu adalah Virgoun Putra Tambunan, vokalis grup musik Last Child. Virgoun memercayakan Putu untuk memodifikasi atau sekadar memperbaiki gitarnya.

Kendati sudah menjadi langganan para musikus, Putu mengaku tidak membeda-bedakan konsumen. Siapapun yang datang akan dilayani. Bahkan dalam sehari, pelanggannya bisa mencapai 15 orang.

“Saya hanya fokus pada derita asmara gitar yang dibawa pelanggan kesini,” katanya.

Baca juga: Gitar batik Solo merambah kota Moskow
  Putu Sudarsana di bengkel miliknya yang berlokasi di Condet, Jakarta Timur. (ANTARA News/M Risyal Hidayat)

Berawal dari jaga toko

Putu tidak menempuh pendidikan khusus untuk menukangi gitar dan hanya menabung pengalaman saat menjadi penjaga toko musik “Pionir Teladan” di Blok M pada 1996.

Kala itu, banyak pelanggan toko yang memintanya menyetem nada, memasang, serta mengganti senar, hingga mengamati lurus atau tidaknya leher (neck) gitar yang akan dibeli pelanggan.

Kebiasaan itu berbuah keterampilan bagi Putu. Ia pun memulai memperbaiki sendiri gitarnya yang rusak.

“Saya belajar dari gitar rusak,” ujarnya yang lantas memberanikan diri mereparasi gitar orang lain dan berujung sebagai profesi.

Ia menegaskan tidak pernah memilih jenis gitar yang akan diperbaiki. Menurutnya, gitar tipe mahal sekalipun akan menjadi gitar biasa apabila suara petikan senar yang dihasilkan terdengar tidak enak.

“Gitar semahal dan semurah apapun kalau dimainkan tidak enak, tetap saja gitar biasa. Kalau gitar biasa dibikin enak rasanya seperti gitar mahal,” katanya.

Biaya servis yang dipatok Putu mulai Rp150 ribu, tergantung jenis “penyakit” yang di-derita gitar konsumennya. “Harga tergantung rasa,” ujarnya.

Putu mengaku lebih senang apabila sang pemilik ikut menyimak saat gitar itu menjalani proses perbaikan. Alasannya, pemilik dapat memahami bagian yang rusak. Putu pun langsung mengganti komponen yang rusak itu atas izin pemilik.

“Penyakit” yang biasa ditangani Putu antara lain mengganti fretboard atau fingerboard yang patah dan meluruskan neck yang bengkok.

Baca juga: “The Tripper”, gitar pintar yang mejeng di Paviliun Indonesia
  Gitar custom Putu Sudarsana (ANTARA News/M Risyal Hidayat)

Gitar khusus

Ia juga memproduksi gitar elektrik sendiri secara khusus sesuai permintaan konsumen. Hanya saja, jumlahnya tidak sebanyak jika dibandingan dengan gitar-gitar yang hharus diperbaiki.

Kemampuannya mengolah kayu menjadi gitar bermula saat membantu temannya bernama Patek yang tinggal di daerah Kramat Jati, untuk mengamplas gitar pesanan.

Putu mengaku kerap memperoleh pujian dari Patek karena bekerja secara tekun dan mampu menghasilkan kayu yang halus untuk sebuah gitar.

Untuk sebuah gitar pesanan khusus, Putu mematok ongkos pembuatan mulai dari Rp3 juta. Tapi, harga itu tergantung bahan kayu yang diminta pelanggan. Durasi pembuatan satu gitar mencapai sekira satu setengah bulan untuk tipe standar.

“Saya memang mengerjakan pesanan gitar berongkos murah supaya pemilik yang akan belajar gitar itu menjadi pintar. Mereka akan mempunyai rasa dan pilihan akan gitar setelah mahir memainkannya,” ujarnya.

Saat ini, Putu mengerjakan seluruh order gitarnya di sebuah bangunan bernuansa hijau seluas 70 meter persegi di Jalan Kayu Manis, Balekambang, Jakarta Timur, yang telah ditempati sejak 2015. Kendati lebih sering mengerjakan sendiri, terkadang ia juga dibantu istri dan anaknya.

Namun, Putu masih menyimpan mimpi yaitu punya sejumlah mesin yang bisa membantunya memproduksi gitar secara massal. Putu bercita-cita menyediakan gitar dengan harga terjangkau untuk masyarakat berekonomi menengah ke bawah.

Baca juga: Fender luncurkan gitar akustik buatan AS

Oleh M Risyal Hidayat
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019