Tinggalkan Java Jazz, Michael Manson ingin lagi rasakan macet Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Bassis Michael Manson sudah berkali-kali tampil di Java Jazz mendampingi musisi-musisi ternama, tapi kali ini lampu sorot utama selalu mengarah kepadanya pada perhelatan musik jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Minggu (3/3).

“Suatu kehormatan bagi saya untuk tampil di Java Jazz pertama kali dengan band saya sendiri, sebelumnya saya sudah sering bermain dengan musisi lain,” Michael menyapa ratusan penonton sebelum membawakan “Just One Touch”.

Michael yang karya terbarunya “Up Front” berupa paduan jazz kontemporer, R&B dan gospel itu juga membawakan “Outer Drive” dan “Lovely Day” yang menghangatkan suasana karena penonton juga diajak untuk ikut menyanyi dengan dua suara seperti paduan suara. “Funk Medley” menjadi penutup pertunjukan malam itu.

“Terima kasih! Saya ingin kembali lagi… dan mencoba merasakan lagi kemacetan di sini,” ujar Michael sambil memasang ekspresi terkejut. “Oh, my God!” dia menambahkan.

Hadir di tengah pertunjukan, penyanyi muda Indonesia Nima Ilayla yang merupakan putri bungsu Menteri Perikanan dan Kelautan era presiden  Susilo Bambang Yudhoyono, Sharif Cicip Sutardjo. Nima yang sudah mengeluarkan single bahasa Inggris “Don’t Give a What” dan “I Can Do It All” ciptaan produser Tom Weir menyanyikan dua lagu, “Thank you, next” dari Ariana Grande dan “Killing Me Softly”.

Baca juga: Motown persembahan Harvey Malaihollo dan penyanyi milenial

Baca juga: Kolaborasi 6 musisi muda di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

TOTO tutup pertunjukan istimewa Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Penampilan grup musik legendaris TOTO di jadi penutup panggung istimewa Java Jazz 2019 yang sebelumnya diisi oleh musisi muda H.E.R dan Raveena.

Dikutip dari siaran pers Java Jazz, Senin, TOTO membawakan 16 lagu, dimulai dengan “Devil’s Tower”, kemudian “Hold the Line” yang membuat para penonton histeris dan bernyanyi bersama.

Konser berlanjut dengan lagu-lagu yang tidak asing di telinga para penggemarnya yaitu “Lovers in the Night”, “Alone” dan “Rosanna”.

Teriakan histeris juga terdengar saat lagu Georgy Porgy dinyanyikan. Penampilan Band Toto asal Los Angeles dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3/3/2019).ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama

Steve Lukather, sang gitaris menyapa penonton dengan berkata “Ready to sing along?” setelah itu mereka memainkan lagu “Human Nature” yang di populerkan oleh Michael Jackson.

Tanpa aba-aba, penonton yang berada di belakang langsung maju ke depan, sementara mereka yang duduk sontak berdiri.

Band rock Amerika Serikat yang dibentuk sejak 1977 itu juga membawakan lagu yang sudah dinantikan, “Africa”.

Pertunjukan ditutup dengan encore “Home of the Brave”, mengakhiri special show yang ekslusif di Java Jazz 2019.

Hari sebelumnya, penyanyi soul Amerika-India Raveena membuat panggung jadi warna-warni dengan sentuhan bunga di sana-sini menghibur penonton yang didominasi usia muda, sementara H.E.R yang baru memenangi piala Grammy jadi penampil hari pertama.

Baca juga: Konser musisi dunia yang patut ditunggu di tahun 2019

Baca juga: Tinggalkan Java Jazz, Michael Manson ingin lagi rasakan macet Jakarta

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karya komponis muda Indonesia pukau publik Belanda

London (ANTARA) – Karya komponis muda Indonesia Nursalim Yadi yang meraih anugerah, pemenang penghargaan utama “Ereprijst” tahun 2018, tampil memukau publik di Konser akhir “25th Young Composers Meeting”, di Apeldoorn, Belanda.

Tepuk tangan meriah memenuhi ruang utama pusat budaya Gigant mengakhiri lantunan musik yang dibawakan oleh Orkest Ereprijs.

Fungsi Pensosbud KBRI Den Haag – Belanda, Renata Siagian kepada Antara London, Senin menyebutkan Yadi menerima komisi untuk menggubah suatu karya untuk orkestra (ensemble) tanpa vokal dengan durasi 10 menit untuk ditampilkan pada malam final Young Composers Meeting ke-25 tahun.

Gubahan Yadi yang berjudul “Risalah Waktu” menonjolkan nada dan frekuensi dari berbagai jenis gong yang merepresentasikan waktu dan medium manusia untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Tidak hanya karya Yadi yang ditampilkan pada malam final 1 Maret lalu tersebut. “Suling Teu Silung” yang terinspirasi dari musik tradisional suling bamboo Jawa Barat sempat memukau para penonton.

Hilmi Righa Mahardika, sang penggubah, adalah satu dari enam belas peserta yang terpilih dari 174 pendaftar untuk mengikuti 25th Young Composers Meeting yang berlangsung sejak tanggal 24 Februari lalu hingga 1 Maret.

Hilmi mengatakan ia merasa beruntung dapat masuk dalam seleksi dan diberi kesempatan untuk mendapatkan pelatihan bersama lima belas peserta lainnya dari berbagai negara.

Tidak hanya diperkaya dengan pelatihan oleh komponis senior, tetapi juga melalui perbedaan gaya dari masing-masing komponis.

Diharapkannya setelah berpartisipasi dalam YCM ini, ia ingin mendalami musik kontemporer, mengingat masih sangat sedikit komponis musik kontemporer di Indonesia.

Yadi penerima penghargaan utama tahun lalu menyampaikan harapannya agar lebih banyak komponis muda berbakat Indonesia yang dapat mengikuti program.

Baginya, keikutsertaan di tahun 2018 telah membuka wawasan dalam menggubah lagu, utamanya dalam proses latihan dan komunikasi dengan pemain orkestra yang berbeda dari di Indonesia.

Yadi juga berhasil memperluas jejaring di dunia musik kontemporer internasional dan diminta untuk menggubah lagu oleh beberapa pihak.

Yadi mengaku beruntung atas dukungan Barbara Brouwer, istri mendiang Sitor Situmorang dalam partisipasinya tahun lalu.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi komponis muda Indonesia maupun penyair muda Indonesia dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni dan budaya di Belanda,” ucapnya.

Barbara Brouwer mengharapkan dengan adanya penghargaan ini akan membawa kemajuan kedua bangsa Indonesia dan Belanda.

“Young Composers Meeting” adalah kegiatan tahunan Orkest de Ereprijs yang ditujukan untuk memberikan wadah bagi komponis muda untuk menciptakan gubahan musik kontemporer bagi suatu orkestra atau ensemble, sekaligus mengembangkan bakat, pengetahuan, dan jejaring.

Selama seminggu para peserta diberikan tambahan pengetahuan, pelatihan individu oleh komponis senior, serta latihan bersama. Komponis muda Indonesia berhasil lolos seleksi dan berpartipasi dalam program ini sejak tahun 2017.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Motown persembahan Harvey Malaihollo dan penyanyi milenial

Jakarta (ANTARA) – Musik Motown yang banyak mempengaruhi musisi seperti Stevie Wonder, Jackson 5 hingga Diana Ross dipersembahkan di Java Jazz 2019 oleh penyanyi kawakan Harvey Malaihollo bersama dua penerusnya, Ashira Zamita dan Yotari Kezia, Minggu (3/3).

Mikha Tambayong, keponakan Harvey, awalnya dijadwalkan ikut tampil, namun mendadak batal karena sang ibu, Deva Malaihollo, meninggal dunia hari ini.

Pertunjukan dibuka dengan “Could It Be I’m Falling in Love” yang dipopulerkan The Spinners.

Harvey kemudian memuji para musisi muda yang mau mempelajari lagu-lagu zaman dulu yang didengarkan generasi-generasi di atas mereka.

Pujian Harvey terbukti dari penampilan Yotari Kezia, penyanyi 21 tahun yang menang ajang JOOX Karaoke Superstar, saat membawakan “Signed Sealed Delivered” dari Stevie Wonder.

Yotari yang tidak terbiasa membawakan lagu Motown menantang kemampuan dirinya sendiri untuk menyajikan musik di luar zona nyamannya.

“Ini hal baru buatku di industri musik Indonesia, aku belajar bareng sama om Harvey. (Motown) bukan aku banget, tapi aku akan coba menyanyikannya,” ujar Yotari.

Setelah itu, giliran Ashira Zamita yang paling belia untuk beraksi. Remaja 16 tahun yang jadi bagian Generasi Z itu menyanyikan “Truly” dari Lionel Richie yang dirilis jauh sebelum Ashira lahir, tepatnya 1982.

Usai lagu “Truly”, Ashira mengajak penonton untuk berdoa sejenak agar Mikha Tambayong – yang seharusnya berduet dengannya malam ini – diberi kesabaran atas kabar duka yang diterimanya hari ini.

“Harusnya aku kolaborasi sama Mikha, tapi ibunya meninggal hari ini jadi dia harus pulang…. Lagu ini aku dedikasikan untuk Mikha,” ujar Ashira yang kemudian membawakan “I’ll Be There” dari The Jackson 5 yang dirilis Motown Records pada 1970.

Ashira lalu ditemani oleh Yotari, keduanya berinteraksi dengan penuh semangat, kemudian berduet “Can’t Hurry Love” dari Phil Collins.

Tindak-tanduk dua remaja yang bertolak belakang dengan pembawaan Harvey yang tenang sempat dikomentari dengan gaya kocak oleh sang penyanyi senior.

“Sudah jam segini masih saja jejeritan,” seloroh Harvey ketika dua penyanyi muda itu kembali ke belakang panggung.

Penyanyi 56 tahun itu kemudian memanjakan telinga ratusan penonton lewat lagu-lagu seperti “Neither One of Us” dari Gladys Knight & the Pips yang baru kali ini dia nyanyikan di hadapan penonton, juga deretan lagu “Stevie Wonder” seperti “For Once in My Life”, “Sunshine of My Life”, “My Cherie Amor” dan ditutup dengan “Isn’t She Lovely”.

Pertunjukan ditutup dengan kemunculan kembali Yotari dan Ashira, dan ketiganya melantunkan “Let’s Stay Together” dari Al Green.

Pewarta: N011
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kolaborasi 6 musisi muda di panggung Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Hanin Dhiya, Andini, Rahmania Astrimi dan Trisouls berkolaborasi dalam panggung Warner Music Project di hari terakhir Java Jazz Festival 2019.

Ketiganya membawakan lagu “That’s What I Like” milik Bruno Mars sebagai pembuka pertunjukan. Setelah itu, para musisi muda berbakat tersebut pun saling menunjukkan kebolehan masing-masing.

“Minta tepuk tangan lebih meriah boleh. Kalian apa kabar? Perkenalkan nama saya Andini. Pertama aku ucapkan terimakasih buat Java Jazz Festival 2019 dan Warner Music. Ini adalah kesempatan yang langka ya,” kata Andini.

Andini menyanyikan dua lagu, yang pertama adalah single-nya sendiri “Done With You” dan “Love” milik Keyshia Cole dengan suara yang powerfull.

Lalu giliran Rahmania Astrimi yang unjuk gigi. Dia menyanyikan “Karenamu” dan “No One” yang dipopulerkan oleh Alicia Keys.

Hanin Dhiya pun tak mau ketinggalan, dia langsung menyanyikan “Save The Last Dance” milik Michael Buble. Sedangkan untuk lagu kedua, Hanin membawakan “Kau yang Sembunyi”.

Terakhir adalah giliran Trisoul yang membawakan “Menarilah”. Lalu pada lagu kedua, mereka memanggil Andini untuk medley lagu Ariana Grande. Trisoul yang enerjik dan memiliki gaya yang asyik bersatu dengan Andini yang tak kalah seru dari mereka menjadi tontonan menarik bagi pengunjung Java Jazz.

Kolaborasi Warner Music Project pun diakhiri dengan penampilan semua artis membawakan medley dari lagu-lagu James Ingram.

Pewarta: KR-MAR
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ibunda meninggal, Mikha Tambayong batal manggung di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Mikha Tambayong batal tampil di hari terakhir Java Jazz Festival 2019, Minggu, karena sang ibunda Deva Malaihollo meninggal dunia.

Mikha dijadwalkan tampil bersama Harvey Malaihollo & The Millennials Sing Motown.

Harvey Malaihollo yang tidak lain adalah kakak kandung ibu Mikha mengatakan bahwa adiknya menderita penyakit autoimun sejak setahun belakangan. Deva telah mendapat perawatan di rumah sakit, sebelumnya.

Kabar duka itu datang ketika Mikha sudah berada di JIExpo Kemayoran, Jakarta, lokasi JJF 2019 digelar. Dia pun langsung meninggalkan tempat acara.

Absennya Mikha membuat personel The Millennials tak lengkap, hanya Utari Keisha dan Shiren.

Meski demikian, Harvey tidak mempermasalahkan hal tersebut. Baginya, ini adalah sebuah pembelajaran untuk bersikap profesional.

“Ini kita belajar professionalism. Bahwa things happen. Bahwa ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita dan saya disamping sedih dan kehilangan adik saya, notabene ibunya Mikha, saya juga belajar di sini buat profesional dan saya harap anak-anak di sini belajar profesional,” ujar Harvey.

The show must go on, kita harus lalukan apa yang sudah digariskan pada kita dan saya yakin bisa mengatasinya. Saya yakin anak-anak ini generasi penerus profesional, jadi mereka tahu what to do di atas panggung,” tambah Harvey.

Harvey Malaihollo & The Millennials Sing Motown tampil dengan membawakan lagu-lagu era motown yang dinyanyikan Stevie Wonder, Diana Rose, The Spinners dan lainnya.

Baca juga: Kahitna buat penonton Java Jazz 2019 galau
Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kahitna buat penonton Java Jazz 2019 galau

Jakarta (ANTARA) – Kahitna membuat para penonton Java Jazz Festival 2019 galau lewat lagu-lagu cinta yang dinyanyikan oleh Hedi Yunus, Carlo Saba, dan Mario Ginanjar.

Penonton sudah memadati BNI Hall, JI Expo, Jakarta, Minggu, tempat Kahitna manggung, 15 menit sebelum acara dimulai.

Ketika para personel Kahitna muncul, semua langsung berdiri dan bersorak. Tanpa menunggu lama, lagu “Menanti” dimainkan dan semua yang hadir ikut bernyanyi.

“Terima kasih sudah menanti Kahitna di sini,” kata Mario.

Penampilan Kahitna, dilanjutkan dengan lagu “Soulmate”, “Tentang Diriku”, “Cerita Cinta”, “Andai Dia Tahu” dan “Aku Punya Hati”.

“Lagu yang ini tentang cinta yang sudah lewat. Karena kita waktunya enggak banyak, kita langsung saja,” ujar Yovie Widianto, pentolan Kahitna.

“Cinta Sudah Lewat” dan “Aku, Dirimu, Dirinya” dibawakan secara medley. Seolah tahu jika penonton tidak puas dengan lagu galau yang disajikan, Yovie akhirnya menambahkan lagi.

“Lagu yang berikut ini sebenarnya lagu sedih. Tapi saya enggak tahu kenapa, orang pada senyum-senyum kalau dengar lagu ini,” kata Yovie.

“Mantan Terindah” dinyanyikan dan penonton histeris. Karoke massal pun terjadi.

Hedi Yunus meminta penonton untuk menyalakan lampu flash ponsel yang membuat suasana semakin sendu.

“Terima kasih telah datang menunggu pertunjukan kami. Tapi kami harus memberikan kesempatan pada musisi jazz di luar sana yang hebat-hebat untuk disaksikan kalian semua,” ucap Yovie sebelum undur diri.

Baca juga: Cerita persahabatan Sheila Majid dan Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penampilan Band Toto pada BNI Java Jazz 2019

Penampilan Vokalis Band Toto Joseph Williams (kanan) dan Gitaris Steve Lukather dalam ajang BNI Java Jazz Festival di Jakarta, Minggu (3/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 yang ke -15 menghadirkan sederet musisi kondang dari dalam dan luar negeri. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama.

TKI pentaskan angklung di tengah komunitas pekerja Filipina

Jarang-jarang kami tampil di tengah komunitas mereka

Hong Kong (ANTARA) – Para tenaga kerja Indonesia (TKI) mementaskan alat musik tradisional angklung di panggung hiburan yang dipadati komunitas para pekerja asing asal Filipina di Hong Kong, Minggu.

“Ini kesempatan langka sekali. Jarang-jarang kami tampil di tengah komunitas mereka,” kata Iswindarti selaku pembimbing Saung Angklung Hong Kong saat ditemui Antara di kawasan Central Hong Kong, Minggu.

Dalam pergelaran itu, kelompok pekerja Indonesia mengenakan kebaya dan memainkan dua lagu, yakni “Butet” dan “Shanghai Bun”.

Sebanyak 23 anggota Saung Angklung tersebut sama sekali tidak terlihat canggung tampil di depan ribuan pasang mata karena mereka rutin melakukan latihan sekali dalam sepekan.

“Kami latihan setiap hari Minggu di gedung Imigrasi Hong Kong di kawasan Admiralty,” kata Iswindarti.

Saung Angklung juga mendapatkan kesempatan tampil di Hong Kong Flower Show pada 24 Maret 2019 bersama sembilan kelompok kesenian yang sama-sama beranggotakan para TKI.

“Ada sepuluh kelompok seni yang dipilih oleh KJRI (Konsulat Jenderal RI) Hong Kong untuk tampil dalam acara tahunan tersebut,” ujarnya bangga.

Setiap Minggu, para TKI lebih banyak menghabiskan waktu liburnya di Taman Victoria yang berjarak beberapa meter dari KJRI Hong Kong, sedangkan para pekerja Filipina di kawasan Central.

Filipina dan Indonesia merupakan dua negara penyumbang tenaga kerja asing sektor informal di Hong Kong.

Baca juga: Tari Jaipong jadi ekstrakurikuler SMA di Beijing
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita persahabatan Sheila Majid dan Tohpati di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Malaysia Sheila Majid menjadi bintang tamu istimewa pada penampilan Tohpati di Java Jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu.

Hadir belakangan setelah Tohpati membawakan lima lagu instrumental, penyanyi legendaris yang namanya dikenal luas di Indonesia itu mendapat sambutan meriah dan hangat dari penonton.

Di sela pertunjukan, Sheila berkisah mengenai persahabatannya dengan Tohpati yang dimulai sejak 1996.

Tohpati menjadi music director untuk konser Sheila pada 2016 silam, juga produser untuk albumnya.

“Dia memproduseri 10 lagu di album saya, delapan di antaranya ditulis Tohpati. Jadi faktanya itu adalah album Tohpati,” seloroh Sheila dalam bahasa Inggris.

Sheila membawakan empat lagu yang sudah familier di telinga pendengar Indonesia.

“Selamanya” dari album “Gemilang” yang rilis pada 1993, dan “Antara Anyer dan Jakarta” yang dinyanyikan secara massal oleh penonton meski tanpa aba-aba.

Lalu, “Kerinduan” yang ditemani petikan gitar akustik Tohpati, juga “Sinaran” yang bertempo cepat dan dinamis, membuat penonton ramai bergoyang.

Baca juga: Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019
Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Senda gurau Tohpati di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Musisi Tohpati tak cuma menghibur penonton Java Jazz 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Minggu, lewat petikan gitarnya yang asyik dinikmati, tetapi juga lewat gurauannya di sela-sela lagu.

Hujan deras yang turun di Kemayoran menjadi bahan lelucon Tohpati saat menyapa penonton.

“Hujan di luar ya? Jadi masuk sini buat berteduh apa nonton saya?” ujar dia seraya tersenyum.

Gitaris jazz itu lalu membawakan lagu pertama, “Cendrawasih” dari album solo ketiganya “It’s Time” yang nada-nadanya membuat pendengar langsung merasa berada di tanah Papua.

“Tadi itu lagu ‘Cendrawasih’ semoga bisa bayangin burung Cendrawasih ya, jangan yang lain,” seloroh dia.

Dari “Cendrawasih”, Tohpati mengubah suasana dengan lagu “Barongsai” yang kental dengan nuansa musik China.

Setelah membawakan lagu dari album “Serampang Samba” (2002), Tohpati memainkan “Kahyangan”, “Dewata” dan “Mahabarata”.

Sesekali dia mengungkapkan cerita singkat di balik lagu yang dibawakan malam ini. “Dewata”, kata Tohpati, diambil dari album ketiga yang rilis sebelas tahun lalu.

“Saya berusaha tiap tahun mengeluarkan album, walau…enggak laku,” katanya, disambut tawa penonton yang bergemuruh.

“Tapi di Instagram (lagunya) di-cover dari Sabang sampai Merauke, bangga juga. Tepuk tangan buat saya!” ujar Tohpati penuh canda, dan ratusan penonton pun sontak bertepuk kencang.

Pertunjukan Tohpati diramaikan dengan kehadiran penyanyi Malaysia Sheila Majid yang membawakan lagu-lagunya yang terkenal, seperti “Selamanya”, “Antara Anyer dan Jakarta” serta “Sinaran”.

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019
Baca juga: Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Isyana Sarasvati mengajak sang kakak Rara Sekar untuk tampil bersamanya di panggung Java Jazz Festival 2019, Jakarta, Minggu.

Kakak adik itu pun membawakan lagu “Luruh” yang merupakan soundtrack film “Milly & Mamet” di panggung Teh Botol Sosro.

Isyana dan Rara memainkan piano bersamaan. Suara lembut dan penghayatan keduanya membuat penonton terhipnotis.

“Ini pertama kalinya kita live dengan lagu ini. Kalau kepleset dikit aja bisa bahaya,” kata Isyana di panggung.

“Mumpung ada Rara, enggak mungkin kalau dia cuma nyanyiin satu lagu. Jadi kita minta dia nyanyi lagi,” lanjutnya.

Lagu “Keep Being You” dilantunkan dengan iringan band. Keduanya lalu mengajarkan sedikit koreografi ala girlband Korea kepada penonton dan langsung disambut tawa.

Selain dua lagu itu, Isyana juga memainkan beberapa lagu lain di antaranya “Kau Adalah”, “Heaven”, “Winter Song” dan “Tetap dalam Jiwa”.

“Kita lumayan deg-degan karena dapat manggungnya sore, eh ternyata full house. Terima kasih atas energi positifnya,” ujar Isyana.

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019
Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Para penampil hari terakhir Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Hari ketiga Java Jazz 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta, masih diisi oleh sederet bintang tamu ternama dari Indonesia dan mancanegara.

Special stage malam ini akan diisi oleh TOTO, yang hanya bisa disaksikan pemegang tiket khusus.

Penonton yang datang sejak petang bisa menikmati penampilan The Soulful yang baru merilis single bersama aktor “Gading Marten”, duo Yance Manusama dan Otti Jamalus, Elfa Zulham & The Beatz Messengers, ZAD (Zendhy Kusuma, Andra Ramadhan, Denny Chasmala) serta Delia yang sudah merintis karir di dunia tarik suara sejak jadi penyanyi cilik.

Band jazz dan soul Maliq & D’Essentials akan berkolaborasi dengan Lala Karmela nyaris bersamaan dengan pertunjukan Isyana Sarasvati juga Endah N Rhesa Extended.

Menjelang malam, penonton bisa mendengarkan Kahitna, Sinead Harnett dari London, Tony Monaco Trio, Knower, Teddy Adhitya, Gretchen Parlato hingga Petra Sihombing.

Gitaris Tohpati yang merupakan salah satu musisi jazz ternama Indonesia akan manggung bersama Sheila Majid malam ini.

Suara merdu Monita Tahalea dan Danilla Riyadi juga dapat didengarkan di perhelatan festival jazz yang sudah berlangsung selama 15 kali ini.

Selain itu bakal hadir pula Zsolt Botos, Masego, Harvey Malaihollo, JMSN hingga Indro Hardjodikoro bersama Sruti Respati.

Baca juga: GoGo Penguin bicara lewat musik di Java Jazz 2019

Baca juga: Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiket ludes dalam 90 menit, BTS tambah pertunjukan di London

Jakarta (ANTARA) – BTS menambahkan jumlah pertunjukan di Stadioun Wembley, London setelah tiket konser pertamanya terjual habis hanya dalam waktu 90 menit.

Baru-baru ini BTS mengumumkan akan menggelar pertunjukan besar pada musim panas di Inggris. Konser tersebut dilaksanakan pada 1 Juni 2019. Namun karena permintaannya begitu besar, akhirnya BTS memutuskan untuk melanjutkan konsernya pada 2 Juni, dilansir NME, Minggu.

Keputusan untuk menambah jumlah pertunjukan diduga karena ada agen yang menjual kembali tiket konser tersebut dengan harga mencapai yang ribuan poundsterling.

Menurut situs Wembley Guest Support Portal, tiket pertunjukan kedua akan mulai 8 Maret 2019.

Boyband yang terdiri dari Jimin, V, RM, J-Hope, Jungkook, Suga dan Jin tahun lalu juga mengadakan dua pertunjukan di O2 Arena, London. Konser tersebut merupakan bagian dari promosi album keenam mereka yakni “Love Yourself: Tear”.

BTS membuat sejarah baru pada tahun 2018 dengan menjadi grup K-pop pertama yang masuk nominasi Grammy. Setelah melihat penampilan mereka pada acara tersebut, Dolly Parton menyatakan minatnya untuk kolaborasi dengan BTS.

“Mungkin #Jolene kolab saya berikutnya adalah dengan @BTS_twt? Bagaimana menurut kalian?,” kata Dolly beberapa waktu lalu.

Baca juga: BTS hadirkan “Armypedia” untuk menjangkau penggemar

Baca juga: BTS gagal bawa pulang piala Grammy

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Mantan vokalis band Payung Teduh, Is Pustaka tampil di panggung Java Jazz Festival 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu.

Suara merdunya rupanya dinanti-natikan oleh para penonton di panggung yang ada di area Teh Botol Sosro itu.

Is yang mengenakan kaos hitam, blazer hitam dan celana hitam ini, tampil setelah Rinni Wulandari.

Sebelum Is muncul ke panggung, intro “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” terlebih dahulu dimainkan.

Seolah sudah tahu siapa yang akan tampil selanjutnya, area sekitar panggung langsung bergemuruh.

Saat Is muncul, sontak penonton langsung bersorak dan bernyanyi bersama.

Suasana area Teh Botol Sosro Stage pun menjadi layaknya arena paduan suara massal.

Musik yang dibawakan oleh Is tidak terlalu berbeda dengan versi aslinya. Hanya terdengar lebih “ramai” dari biasanya. Meski begitu, penonton tetap menikmatinya.

“Saya sudah empat kali tampil dengan Yamaha Music Project. Saya belajar banyak dari orang-orang hebat seperti yang ada di sini. Bermusik buat saya bukan sekadar mencari kehidupan tapi saya sangat belajar dari orang-orang yang saya temui,” ujar Is di Jakarta, Sabtu.

“Lagu berikutnya, saya ingin kalian semua ikut bernyanyi,” tambah Is.

“Akad” pun dimainkan melengkapi pertunjukan solonya. Setelah itu, Is berduet dengan Rossa membawakan lagu “Sakura”.

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Baca juga: Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Is Pusakata, si merdu yang dinanti di Java Java 2019

Jakarta (ANTARA) – Mantan vokalis band Payung Teduh, Is Pustaka tampil di panggung Java Jazz Festival 2019 di JI Expo Kemayoran, Jakarta pada Sabtu.

Suara merdunya rupanya dinanti-natikan oleh para penonton di panggung yang ada di area Teh Botol Sosro itu.

Is yang mengenakan kaos hitam, blazer hitam dan celana hitam ini, tampil setelah Rinni Wulandari.

Sebelum Is muncul ke panggung, intro “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” terlebih dahulu dimainkan.

Seolah sudah tahu siapa yang akan tampil selanjutnya, area sekitar panggung langsung bergemuruh.

Saat Is muncul, sontak penonton langsung bersorak dan bernyanyi bersama.

Suasana area Teh Botol Sosro Stage pun menjadi layaknya arena paduan suara massal.

Musik yang dibawakan oleh Is tidak terlalu berbeda dengan versi aslinya. Hanya terdengar lebih “ramai” dari biasanya. Meski begitu, penonton tetap menikmatinya.

“Saya sudah empat kali tampil dengan Yamaha Music Project. Saya belajar banyak dari orang-orang hebat seperti yang ada di sini. Bermusik buat saya bukan sekadar mencari kehidupan tapi saya sangat belajar dari orang-orang yang saya temui,” ujar Is di Jakarta, Sabtu.

“Lagu berikutnya, saya ingin kalian semua ikut bernyanyi,” tambah Is.

“Akad” pun dimainkan melengkapi pertunjukan solonya. Setelah itu, Is berduet dengan Rossa membawakan lagu “Sakura”.

Baca juga: Rossa tampil “ngejazz” untuk pertama kali di panggung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Baca juga: Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Java Jazz 2019 kenang Aretha Franklin

Jakarta (ANTARA) – Java Jazz 2019 mengenang kepergian musisi Aretha Franklin, penyanyi Amerika Serikat yang kerap dijuluki “Ratu Musik Soul”, lewat penampilan kolaborasi antara Dira Sugandi dan Harvey Mason di JI Expo Kemayoran, Sabtu.

Ruangan penuh sesak oleh orang-orang yang ingin mendengarkan lagu-lagu Aretha Franklin yang dihidupkan lagi oleh Dira dan Harvey.

Dira yang mengenakan kostum pink gradasi ungu dihiasi rumbai-rumbai tampil atraktif dan memukau. Lagu-lagu terkenal Aretha dinyanyikannya, termasuk “Respect”, “Until You Come Back” dan “Freeway of Love” yang membuat penonton ikut bergoyang.

“Terima kasih Java Jazz untuk mewujudkan kolaborasi ini!” kata Dira sebelum menutup pertunjukan.

Aretha Franklin semasa hidupnya menyabet 18 Grammy dan membukukan sekitar 25 album emas.

Suaranya, yang unik, kuat dan penuh perasaan, menempatkannya sebagai penyanyi “soul” terkemuka pada 1960-an bersama Otis Redding, Sam Cooke dan Wilson Pickett.

Pada 1987, Aretha Franklin menjadi perempuan pertama yang diabadikan pada “Rock and Roll Hall of Fame” dan pada 2010 Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai penyanyi nomor satu era musik rock.

Penampilan terakhir Aretha Franklin adalah pada 7 November 2017. Saat itu, ia menyanyi di acara Yayasan AIDS Elton John.

Java Jazz 2019 hari kedua juga diramaikan oleh penampilan dari Sore dan Ron King Horn Section yang berkolaborasi dengan Aqi Singgih, Audrey Singgih, Andien, Radhini, Teddy Adhitya dan Rendy Pandugo.

Bob James Trio juga tampil memikat dengan lagu-lagu yang asyik didengarkan sembari duduk santai, sementara penampilan penuh energi dari Adrian Khalif, Adikara Fardy dan Iwa K “membakar” semangat penonton yang ikut serta menyanyikan lagu-lagu terkenal seperti “24K”, “That’s What I Like” dan “Uptown Funk”.

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Dira Sugandi tak sabar saksikan H.E.R di Java Jazz

Baca juga: R-E-S-P-E-C-T: Penghormatan terakhir untuk Aretha Franklin

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Panggung penuh bunga Raveena di Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – Raveena membuat penonton seakan berpindah tempat ke taman bunga yang cerah penuh warna di special show Java Jazz 2019, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu.

Bunga-bunga menghiasi berbagai titik di panggung; di sekitar drum, bahkan bunga-bunga matahari pun mekar dan merambat di tiang pelantang.

Penyanyi soul berdarah Amerika-India itu tampil tak kalah ceria dan lincah, membuat penampilan ini tak cuma menyenangkan di telinga, tapi asyik dilihat.

“Aku baru belajar sedikit bahasa Indonesia,” katanya dalam bahasa Inggris di sela lagu. “Aku cinta kamu!” ujarnya, yang langsung disambut teriakan gemuruh ratusan penonton.

Mengenakan gaun jingga mencolok dengan bahan ringan melambai-lambai, Raveena menari ke sana-sini, menyusuri sisi panggung.

Lagu-lagu dan suaranya yang terdengar manis membuat penonton bergoyang santai mengikuti irama.

“Johnny It’s The Last Time”, “You Give Me That”, “Temptation”, “American Boy”, “No Better”, “I Won’t Mind”, “If Only” adalah sebagian sajian yang disuguhkan malam ini.

Di setiap perpindahan lagu, Raveena selalu memuji antusiasme penonton, atau menjelaskan secara singkat lagu yang akan dinyanyikannya.

Pertunjukan malam ini adalah kali pertamanya manggung di Asia, yang disebut Raveena sebuah hal yang patut disyukuri sebagai seorang musisi karena bisa melancong ke sana-sini memperdengarkan musiknya untuk orang dari penjuru dunia.

“Suatu hal yang patut disyukuri bisa bermain musik untuk orang-orang dan ini tidak akan terwujud kalau kalian tidak mendengarkan laguku,” kata penyanyi yang sudah meluncurkan album debut EP “Shanti” pada 2017. “Thank you so much! Terima kasih banyak! Aku cinta kamu!”

Baca juga: Sore mainkan lagu-lagu “langka” di panggung Java Jazz Festival 2019

Baca juga: Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sore mainkan lagu-lagu “langka” di panggung Java Jazz Festival 2019

Jakarta (ANTARA) – Grup band Sore membawakan lagu-lagu “langka” yang mereka jarang mainkan saat manggung.

Sore membawakan “Rubber Song” sebagai pembuka aksinya di hari kedua Java Jazz Festival 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu malam.

“Untuk selanjutnya, kita mau bawain lagu yang hampir enggak pernah kita bawain,” kata Awan Garnida sang vokalis sekaligus basis. “Map Biru” lalu dimainkan.

Menurut Awan, lagu tersebut diciptakan saat Ade Firza Paloh berencana untuk kerja kantoran dibandingkan dengan ngeband.

Meski tampil di panggung kecil, yakni Bus Stage, penonton yang menyaksikan aksi dari Ade Firza Paloh, Awan Garnida, Reza Putranto dan Bemby Gusti cukup banyak. Karena tampil di panggung outdoor, mereka pun terlihat lebih santai.

“Baru kali ini nih, kita main rasa kebab. Panas dan berasep,” ujar Awan disambut tawa.

Kemudian Sore masih memainkan lagu yang diambil dari album “Los Skut Leboys” yakni “Tatap Berkalam”. Lagu tersebut bisa dibilang cukup jarang dibawakan oleh Sore saat manggung. Meski demikian, cukup hafal untuk ikut bernyanyi.

“Kalau jazz mah gitu de (Ade) enggak pakai latihan dulu. Apa yang ada di panggung langsung mainin aja,” kata Awan.

Beralih ke album “Ports of Lima”, Sore lalu membawakan “Senyum dari Selatan” dan “Karolina”. Penggemar Sore sepertinya memang sangat menantikan lagu tersebut, sebab semua ikut bernyanyi tanpa perlu menunggu aba-aba. Belum lagi ketika “Pergi Tanpa Pesan” juga dimainkan, suasana syahdu langsung menyelimuti, sangat pas dengan nuansa lagunya.

“Dengan demikian, tibalah kami mengundurkan diri. Terimakasih atas kebersamaannya malam ini. Sebagai persembahan terakhir, kami akan membawakan lagu ini,” ujar Awan dan “Sssst…” dilantunkan sebagai penutup pertunjukan.

Baca juga: Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ron King Horn Section kolaborasi dengan enam musisi di Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – BNI Project with Ron King Horn Section menjadi salah satu program dalam Java Jazz Festival 2019 hari kedua di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Sabtu.

Ron King Horn Section berkolaborasi dengan para musisi seperti Aqi Singgih, Audrey Singgih, Andien, Radhini, Teddy Adhitya dan Rendy Pandugo.

Keenam musisi tersebut membawakan lagu-lagu dari musisi internasional yang pernah tampil di Java Jazz tahun sebelumnya seperti Aqi yang membawakan lagu “Mind Trick” milik Jamie Cullum dan Andien membawakan “Throught The Fire” milik Chaka Khan.

“Dari tadi saya dengar belum ada yang tepuk tangan nih. Kali ini tepuk tangan yuk bersama saya,” ujar Andien di BNI Hall, Java Jazz 2019.

Andien kemudian menyanyikan “Breakout” milik Swing Out Sister. Andien yang saat itu mengenakan terusan putih, mengajak penonton untuk ikut bergoyang bersamanya.

Selain Andien, Aqi bersama istrinya, Audrey Singgih duet menyanyikan “Lucky” yang pernah dibawakan oleh Jason Mraz.

“Untuk aku nyanyiinnya sama kamu, bukan Teddy Adhitya,” kata Aqi sambil memeluk Audrey.

Sementara itu, Teddy Aditya membawakan “I Feel Good” milik James Brown, Audrey dengan “Iris” milik The Goo Goo Dolls serta Radhini dengan “Breathe Again” milik Toni Braxton.

Baca juga: Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Kemarin, Kodaline kolaborasi dengan Abdul hingga H.E.R yang memukau

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penampil hari kedua Java Jazz 2019, dari Raveena hingga Yura Yunita

Jakarta (ANTARA) – Perhelatan musik Java Jazz 2019 sudah memasuki hari kedua, menampilkan 100 musisi Indonesia dan luar negeri. Mereka tampil solo atau saling berkolaborasi dalam 11 panggung yang tersebar di JI Expo Kemayoran, Jakarta.

Hari ini, penonton yang sudah membeli tiket special show dapat menyaksikan penampilan musisi India-Amerika Raveena.

Selain special show, masih banyak pertunjukan lain yang bisa dinikmati, seperti Adie Unyiel and The Bawor, gitaris Allen Hinds dan L.A. Super Soul, solois Andien, Arini Kumara and Friends juga Arsy Widianto yang merupakan putra musisi Yovie Widianto.

Penonton juga bisa menyaksikan Ron King Horn Section yang berkolaborasi dengan Andien, Aqi Alexa, Audrey Singgih, Radhini, Rendy Pandugo dan Teddy Adhitya.

Ada pula Bob James Trio, Christabel Annora, Donny McCaslin, GoGo Penguin, Gretchen Parlato dan kolaborasi Dira Sugandi dengan Harvey Mason.

Musisi Indra Aziz, J-Newbies dari Jepang, James Vickery, Mac Ayres dan kolaborasi Adrian Khalif Adikara Fardy serta Iwa K bersama MLDJAZZPROJECT juga bisa ditonton.

Masih ada Moonchild, Nathan East Band of Brothers, simakDIalog, Sore, Sinéad Harnett, The Melodrama, The Suffers, Yura Yunita, Yuri Mahatma juga Yamaha Music Project feat. Is Pusakata, Rossa, Rini Wulandari.

Baca juga: Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Baca juga: Gelang TapCash alat transaksi pengunjung Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dira Sugandi gugup jelang tampil bersama Harvey Mason

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi jazz Dira Sugandi akan tampil bersama Harvey Mason dalam penampilan “A Tribute to Aretha” di Java Jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Sabtu.

Dira dan pemain jazz drum asal Amerika Harvey Mason akan memainkan lagu-lagu Aretha Franklin yang wafat pada 16 Agustus silam.

Tak sabar, bersemangat sekaligus deg-degan campur aduk di hati Dira menjelang penampilan nanti malam.

“Tahun ini spesial karena sama Harvey akan membawakan show tribute Aretha Franklin, Harvey kan pernah main juga dengan Aretha,” ujar Dira di Java Jazz 2019, Jumat (1/3) petang.

Berhadapan dengan penonton yang merupakan penggemar berat Aretha jadi salah satu alasan kegugupan Dira yang ingin bisa melampaui ekspektasi mereka.

“Tapi alhamdulillah teman-teman musisi luar sangat support, mengapresiasi dan kooperatif, membuat enggak gugup dari sejak latihan,” imbuh Dira.

Dari perhelatan Java Jazz yang sudah berlangsung 15 kali, Dira hanya absen dua kali, yakni saat mengandung dan melahirkan.

Penyanyi 39 tahun itu berpendapat Java Jazz semakin bagus dari tahun ke tahun, dan menarik lebih banyak orang dari seluruh dunia.

“Yang sangat menonjol tahun ini, line up-nya bagus banget, aku bingung mau nonton yang mana karena harus perform juga,” imbuh dia.

Java Jazz 2019 menghadirkan 100 musisi dari dalam dan luar negeri di sebelas panggung yang akan berlangsung hingga 3 Maret 2019.

Baca juga: Dengarkan Whitney Houston, Dira Sugandi masih sering menangis

Baca juga: Soimah nge-jazz bareng Dewa Budjana di JJF 2019

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aksi Dewa Budjana di Java Jazz

Gitaris Dewa Budjana (tengah) bersama penyanyi Soimah Pancawati (kiri) dan basist Mohini Dey (kanan) beraksi dalam BNI Java Jazz Festival 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 menghadirkan sederet musisi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan mulai Jumat (1/3) hingga Minggu (3/3). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Kolaborasi Kodaline dan Abdul Idol

Aksi panggung grup musik Kodaline saat tampil menghibur penggemarnya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (1/3/2019). Dalam konser bertajuk “Politics of Living Tour 2019” grup musik asal Irlandia tersebut membawakan 17 lagu hits mereka. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

Soimah nge-jazz bareng Dewa Budjana di JJF 2019

Jam 12 (malam). Sanggulan dari jam dua, enggak dipanggil-panggil…

Jakarta (ANTARA) – Rasanya seperti menempuh perjalanan penuh dinamika saat menyaksikan kolaborasi gitaris Dewa Budjana, bassist muda berbakat India Mohini Dey dan pesinden Soimah Pancawati di Java Jazz Festival (JJF) 2019, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3).

Pertunjukan yang dimulai menjelang tengah malam itu awalnya terasa santai ketika “Joged Kahyangan” dimainkan oleh Budjana yang pembawaannya tenang.

Kehadiran bassist muda asal India, Mohini Dey, semakin menyemarakkan suasana. Mohini yang tampak mungil bila dibandingkan dengan alat musik yang dimainkannya tampil ekspresif.

Tangannya menari-nari lincah membetot senar bass, mengiringi lagu “Mahandini” dan “Queen Kanya” dari album terbaru Budjana yang rilis akhir 2018 silam.

Penonton sibuk bertepuk tangan saat melihat kemampuan musisi yang pertama kali mengenal gitar pada usia tiga tahun dari ayahnya yang juga seorang bassist itu.

Penonton semakin riuh ketika Soimah Pancawati, sinden yang aktif sebagai pembawa acara penuh humor, bergabung di panggung.

Pertunjukan jadi lebih hidup karena penonton menantikan bumbu-bumbu komedi yang bakal dihadirkan Soimah di panggung.

Tawa sudah terdengar di sana-sini saat Soimah, yang mengenakan kebaya hitam dipadu rok batik mengembang, berjalan ke arah pelantang tanpa menghiraukan Budjana yang sudah siap mengajaknya untuk tos.

“Jam 12 (malam). Sanggulan dari jam dua, enggak dipanggil-panggil,” seloroh Soimah, membuat ratusan penonton terbahak.

Dengan ekspresi takjub seakan tak percaya dirinya jadi bintang tamu di perhelatan musik jazz yang sudah berlangsung 15 kali, Soimah melanjutkan, “Hebat, Soimah nge-jazz!”

Ekspresi penuh canda Soimah langsung berganti jadi serius ketika lagu “Hyang Giri” mulai mengalun, di mana sang sinden didapuk sebagai pengisi vokal.

Suaranya yang merdu terdengar harmonis dengan instrumental dalam lagu yang menceritakan kekuasaan penguasa gunung dan pencipta dunia itu.

“Sudah keren belum aku? Nge-jazz kan aku?” ujar pesinden 38 tahun itu setelah “Hyang Giri” selesai dinyanyikan.

Penampilan Dewa Budjana adalah salah satu pertunjukan paling larut di hari pertama Java Jazz 2019.

Perhelatan musik yang menampilkan 100 musisi dari dalam dan luar negeri itu masih akan berlangsung hingga 3 Maret 2019.

Para penampil yang memeriahkan Java Jazz 2019 meliputi Afgan, Andien, Isyana Sarasvati, Kunto Aji, Hanin Dhiya, Radhini, Rendy Pandugo, Endah n Rhesa Extend, Idang Rasjidi & The Syndicate, Parkdrive serta Barry Likumahuwa Tribute to Roy Hargrove.

Dari luar Indonesia, ada GoGo Penguin, Bob James Trio, Donny McCaslin, James Vickery, Louis Cole, R+R = NOW juga tiga musisi dalam special show, yakni band legendaris TOTO, pendatang baru Raveena dan peraih lima nominasi Grammy Awards tahun ini, H.E.R.

Baca juga: Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Baca juga: Addie MS – Lea Simanjuntak bawa nuansa Broadway ke Java Jazz

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kodaline nyanyikan 16 lagu, ajak penonton “karaoke” selama konser

Jakarta (ANTARA) – Lantunan lirik “I remember you and me/ Back when we were seventeen/Drinking, kissing in the street,” langsung bergema di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (1/3), ketika Kodaline membuka konsernya, sekaligus menjawab penantian penggemar yang sudah menanti sejak sore.

“Follow Your Fire” membuka pertunjukan dengan sangat manis. Tanpa perlu diminta, penonton dengan sukarela bernyanyi dengan sekeras-kerasnya layaknya berkaraoke bersama di arena konser.

“Indonesia, senang bisa berjumpa lagi dengan kalian,” sapa Steve Garrigan, sang vokalis sebelum menyanyikan “Brand New Day”.

Nama Kodaline tidaklah asing bagi penikmat musik tanah air. Malah band asal Irlandia ini memiliki cukup banyak penggemar. Hal tersebut juga terlihat dalam konsernya yang bertajuk “The Politics of Living Tour”, sebab hampir seluruh area dipadati oleh penonton.

Tak hanya itu, lagu-lagu milik Kodaline juga begitu akrab di telinga penonton. Semua lagu dinyanyikan oleh Kodaline bersama penonton tanpa jeda. Hal ini sampai membuat mereka terkejut sekaligus senang.

“Lagu berikutnya lagu romantis, ini lagunya untuk teman saya di hari pernikahannya. Ini adalah lagu yang romantis. Bisa minta cahaya kayak gini (menggunakan flash dari ponsel). Jakarta kalian sangat indah. Kalau ada yang tahu lagu ini mari kita nyanyi bareng,” kata Steve.

Lagu “The One” pun dilantunkan kemudian menyulap suasana menjadi syahdu seketika.

Steve dan penonton saling bersautan menyanyikan lagu tersebut dan diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah.

Baca juga: Kejutan konser Kodaline, Abdul Idol tampil bawakan “All I Want”

Kodaline tampaknya memang ingin ambil nafas sejenak. Lagu-lagu dengan nuansa mellow kembali dimainkan seperti “Angel” dan “I Wouldn’t Be”.

Setelah masa pendinginan berakhir, Kodaline kembali memainkan lagu yang membuat penonton ikut bergoyang seperti “Love Like This”, “One Day”, “Raging” dan “Love Will Set You Free”.

Kodaline juga memberikan kejutan untuk para penggemarnya dengan mengajak Abdul Idol tampil di panggung membawakan “All I Want”. Lagu tersebut merupakan salah satu yang paling dinantikan oleh penggemarnya.

“Abdul,” ujar Steve mengenalkan Abdul. Penonton pun memberikan dukungannya untuk menyanyikan lagu tersebut.

Konser pun ditutup dengan lagu “High Hopes”. Secara keseluruhan, Kodaline memberikan suguhan yang menarik meski durasi konsernya terasa begitu cepat, yakni kurang lebih satu jam. Wajar saja, sebab mereka memang hanya memainkan 16 lagu saja.

Baca juga: “Follow Your Fire” buka konser Kodaline di Jakarta

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terpikat H.E.R di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – H.E.R (Having Everything Revealed), penyanyi muda berbakat peraih Grammy, memanaskan panggung pertunjukan istimewa hari pertama di Java Jazz 2019, JI Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat.

Tulisan putih “H.E.R” menjadi latar belakang panggung yang minimalis. Penyanyi bernama lengkap Gabriella Wilson itu tampil dengan kacamata gelap, rambutnya yang keriting dibiarkan tergerai menutupi punggung.

Dibalut setelan busana berwarna gelap dan sepatu keds pink cerah, H.E.R. kadang berdiri di depan pelantang, kadang menyanyi sambil memetik senar gitar atau memencet tuts keyboard.

“Say It Again”, “Lights On”, “Still Down”, “Gone Away”, “Make It Rain”, “Hard Place”, “I’m Not Okay”, “U”, “Every Kind Fo Way” dan “Changes”. Ketika intro lagu “Best Part” dan “Focus” mengalun, para penonton yang mayoritas pemudi sontak berteriak kencang.

Lagu pertama yang dinyanyikan bersama Daniel Caesar — tampil di panggung yang sama di Java Jazz tahun lalu — memenangkan penghargaan Grammy 2019 untuk kategori Best R&B Performance.

Ratusan penonton yang sudah hafal lirik “Best Part” pun ikut menyumbangkan suara, menyanyi bersama.

“Kalian menyanyi dengan bagus, aku tidak tahu kalian bisa nyanyi seperti itu, Jakarta!”

Baca juga: Addie MS – Lea Simanjuntak bawa nuansa Broadway ke Java Jazz

Tanpa banyak basa-basi, walau sesekali menyampaikan cerita di balik lagu, satu demi lagu dibawakan oleh penyanyi berdarah Filipina dan Afrika-Amerika dalam tempo cepat.

“As I Am” menutup perjumpaan pertama H.E.R dengan penggemar di Indonesia, yang dijanjikan bukan kali terakhir.

“Jakarta, aku mencintaimu! Terima kasih sudah menyanyi bareng. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, aku tidak sabar ingin kembali lagi!”
  Penyanyi asal Amerika Gabi Wilson alias H.E.R beraksi dalam BNI Java Jazz Festival 2019, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 menghadirkan sederet musisi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan mulai Jumat (1/3) hingga Minggu (3/3) (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

H.E.R yang berusia 21 tahun baru mendapatkan Grammy tahun ini untuk Best R&B Performance atas lagu “Best Part” bersama Daniel Caesar dan Best R&B Album.

Penyanyi kelahiran 27 Juni 1997 yang pernah ikut acara Next Big Thing di Radio Disney pada 2009, lalu merilis single “Something to Prove” pada 2014 dengan nama aslinya. Pada 2016, dia kembali ke dunia musik dengan persona baru, H.E.R alias Having Everything Revealed.

Baca juga: Dira Sugandi tak sabar saksikan H.E.R di Java Jazz

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kejutan konser Kodaline, Abdul Idol tampil bawakan “All I Want”

Jakarta (ANTARA) – Kodaline memberikan kejutan dengan mengajak Abdul Idol berkolaborasi di atas panggung konser “The Politics of Living Tour” di Istora Senayan, Jakarta, Jumat.

Setelah berpamitan dengan penonton, Kodaline kembali hadir di panggung dan langsung membawakan hits-nya yang berjudul “All I Want”. Lagu ini sepertinya sangat dinantikan oleh seluruh penggemar Kodaline.

Ketika intro dimainkan, sekira 4.000-an penonton yang hadir langsung histeris. Tanpa menunggu lama, Kodaline pun menyanyikan bait pertama hingga reff.

Bagian selanjutnya, tiba-tiba Abdul muncul dan menyanyikan bagiannya. Tentu saja hal ini mengejutkan penonton, sebab sebelumnya pihak promotor maupun perwakilan Kodaline tidak menyebut akan menampilkan Abdul.

Abdul bernyanyi bersama Steve Garrigan dengan kekuatan penuh dan mendapat sambutan meriah dari penonton. Vokalnya tidak kalah menarik dengan Steve, dan Abdul juga mampu mengimbangi permainan Kodaline.

Aksi Abdul membawakan “All I Want” memang sudah tidak asing, sebab dia pernah membawakannya tampil di panggung Indonesian Idol 2018, yang menuai pujian dari Steve saat itu.

Pada akhir penampilan, Abdul dan Steve berpelukan. Pertunjukan pun masih berlanjut saat Kodaline membawakan “High Hopes”.

Baca juga: “Follow Your Fire” buka konser Kodaline di Jakarta

Baca juga: Kodaline suka jajanan kaki lima di Indonesia

Baca juga: Tampil di Jakarta, Kodaline pinjam gitar Rian d’Masiv

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Java Jazz Festival 2019

Penyanyi asal Amerika Gabi Wilson alias H.E.R beraksi dalam BNI Java Jazz Festival 2019, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (1/3/2019). BNI Java Jazz Festival 2019 menghadirkan sederet musisi dari dalam dan luar negeri yang diselenggarakan mulai Jumat (1/3) hingga Minggu (3/3). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pd.

“Follow Your Fire” buka konser Kodaline di Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Kodaline membuka konser “The Politics of Living Tour” di Istora Senayan, Jakarta, Jumat, dengan lagu “Follow Your Fire”.

Band asal Irlandia itu tampil sekira pukul 20.10 WIB, tanpa basa-basi mereka langsung memainkan sebuah lagu dan disambut dengan antusias oleh penggemarnya.

Seluruh ruangan Istora seolah dipenuhi paduan suara penonton. Mereka bernyanyi bersama dengan Steve Garrigan dan kawan-kawan hingga lagu tersebut berakhir.

“Indonesia, senang bisa berjumpa lagi dengan kalian,” ujar Steve, vokalis Kodaline menyapa penggemarnya di Jakarta, Selasa.

“Follow Your Fire” dirilis pada 2018. Lagu tersebut merupakan salah satu single dari album “The Politics of Living Tour”.

Setelah puas bernyanyi bersama dengan penonton, Kodaline pun melanjutkan konsernya dengan lagu “Brand New Day” dengan format akustik.

Kedatangan Kodaline di Jakarta adalah untuk yang ketiga kalinya. Namun untuk pertunjukan tunggal, ini merupakan yang pertama kalinya.

Baca juga: Kodaline suka jajanan kaki lima di Indonesia

Baca juga: Tampil di Jakarta, Kodaline pinjam gitar Rian d’Masiv

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Addie MS – Lea Simanjuntak bawa nuansa Broadway ke Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – Tema Broadway yang digadang-gadang oleh Java Jazz tahun ini betul-betul terasa saat komponis Addie MS, penyanyi Lea Simanjuntak dan Bob James berbagi panggung di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat.

Alunan musik orkestra berpadu suara merdu Lea menghidupkan lagu-lagu dari George Gershwin, komponis dan penulis lagu asal Amerika Serikat yang banyak menulis karya musik untuk teater Broadway.

Lea, yang mengenakan gaun kuning keemasan senada dengan warna rambutnya, menyanyikan “By Strauss”, “Boy What Love Has Done to Me”, “Guess Who I Saw Today” dan “I Loves You Porgy”, lagu sentimentil era 1935 yang diambil dari opera “Porgy and Bess”.

Musisi kawakan peraih Grammy, Bob James, ikut bergabung di panggung dalam dua lagu.

“Sungguh kehormatan bisa memainkan karya Gershwin bersama orkestra luar biasa ini,” ujar dia sembari menunjuk Twilite Orchestra.

Mengenakan batik biru dengan benang keemasan, musisi gaek itu duduk di bangku piano, tangannya bergerak lincah membawakan “Someone to Watch Over Me” yang dibuat Gershwin untuk musikal 1926 berjudul “Oh, Kay!”.

Musisi yang sudah tampil di Java Jazz beberapa kali itu kembali ke balik panggung usai memainkan lagu “They Cant Take That Away From Me”.

Di sela pertunjukan, Addie sempat memuji penampilan Lea yang membuatnya merasa “sedang tidak bekerja”.

“Aku menikmati suara Lea, saat kita konser dan yang nyanyi suaranya bagus, ekspresi dan penghayatannya bagus, enggak terasa kerja, tapi serasa dihibur,” ujar komponis bernama lengkap Addie Muljadi Sumaatmadja.

Lagu bernada riang “Just Another Rhumba” yang dibuat pada 1937 membuat sebagian penonton berdiri dan berjoget, sekaligus menutup penampilan malam itu.

Peter F Gontha, penggagas Java Jazz, ikut muncul di akhir pertunjukan, mengucapkan kalimat singkat penuh pujian.

“Ini adalah bukti negara kita maju, bukti manusia Indonesia maju.”

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dira Sugandi tak sabar saksikan H.E.R di Java Jazz

Jakarta (ANTARA) – Dari 100 penampil di perhelatan musik Java Jazz 2019, ada satu penyanyi yang paling menarik perhatian Dira Sugandi, yakni H.E.R.

“Pengen banget nonton H.E.R., nanti aku bakal buka (penampilan dia) dengan Indonesia Raya,” ujar Dira di JI Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat.

Penyanyi muda Gabriella Wilson yang lebih dikenal sebagai H.E.R menjadi bintang tamu dari panggung istimewa hari pertama Java Jazz 2019, Jumat.

Penyanyi 21 tahun itu baru mendapatkan Grammy tahun ini untuk Best R&B Performance atas lagu “Best Part” bersama Daniel Caesar dan Best R&B Album.

Usia belia dengan prestasi yang tak main-main membuat Dira kagum pada H.E.R.

“Masih muda, tapi jenius. Karyanya sangat easy listening,” kata Dira.

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

H.E.R juga punya ciri khas yang membedakannya dengan penyanyi-penyanyi lain, yakni cara bernyanyi yang santai dan menyenangkan saat didengar.

Dira, yang hampir tak pernah absen dari perhelatan Java Jazz, juga penasaran ingin melihat penampilan H.E.R secara langsung yang sensasinya berbeda dengan mendengarkan rekaman di album.

H.E.R yang berdarah Filipina dan Afrika-Amerika itu pernah merilis single “Something to Prove” pada 2014 dengan nama aslinya. Pada 2016, dia kembali ke dunia musik dengan persona baru, H.E.R alias Having Everything Revealed.

Baca juga: Intip daftar penampil Java Jazz 2019 hari pertama

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Slank segera rilis album baru

Jakarta (ANTARA) – Grup band Slank segera merilis album terbaru mereka, kali ini mengusung konsep art rock.

Namun belum ada informasi pasti mengenai waktu perilisannya.

“Album segera. Ini setelah (album terakhir) Februari 2017. Kemarin cek ada 10 lagu,” kata Bimbim dalam konferensi pers di markas band Slank, Potlot, Duren Tiga, Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan saat ini band-nya tinggal menyelesaikan sejumlah hal, termasuk lagu karya Abdee.

“Tinggal ada retake yang kurang-kurang. Abdee ada beberapa track. Abdee enggak ikut, (produksi di Lokananta, Solo),” kata Bimbim.

Lagu-lagu dalam album Slank ke-23 ini sebenarnya sudah rampung sejak bulan Ramadhan tahun lalu. Namun karena masalah waktu, produksi album jadi lama.

“Kaka punya ide harus dipaksa keluar Potlot. Harapan kami setelah Slank rekaman di Lokananta, banyak yang menengok (perusahaan rekaman itu), akhirnya direnovasi dan ada ide untuk membangkitkan kembali Lokananta,” papar Bimbim.

Baca juga: Bongky Marcel tuntut Slank terkait pelanggaran hak cipta

Baca juga: Slank jajal rekaman Lokananta untuk album ke-23

Baca juga: Ridho “Slank” dan Marcello Tahitoe buka bisnis kuliner citarasa Maluku

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Slank luncurkan toko resmi online pertama

Jakarta (ANTARA) – Band Slank mengumumkan kerja sama dengan platform e-commerce Shoppe untuk sejumlah hal, salah satunya pembukaan toko online pertama untuk penjualan merchandise Slank (Slank Official Store).

Country Brand Manager Shopee Indonesia, Rezki Yanuar mengatakan kerja sama ini sejalan dengan terpilihnya Slank sebagai brand Ambassador terbaru Shopee.

“Ini spesial, karena kerja sama dengan Slank bermacam-macam. Slankers bisa berbelanja barang Slank official store di Shopee, ” kata dia di Jakarta, Jumat.

Album ke-23 Slank yang segera hadir juga nantinya dijual di sana.

“Slank telah menjadi ikon industri musik Indonesia selama lebih dari 35 tahun dengan karya yang telah menginspirasi jutaan pendengarnya yang berasal dari beragam rentang usia dan lapisan masyarakat,” ujar Rezki.

Baca juga: Slank jajal rekaman Lokananta untuk album ke-23

Dalam kesempatan itu, salah satu personel Slank, Abdee mengatakan selama ini band-nya mendukung perkembangan UMKM khususnya yang didirikan para penggemarnya, dan hal itu sejalan dengan visi Shopee.

“Kami berembuk apa manfaatnya buat kami dan Slankers, saat memutuskan kerja sama,” tutur dia.

Tak hanya itu, kerja sama bersama Slank juga dalam bentuk penyelenggaraan konser Slank spesial pada 31 Maret 2019 di ICE, BSD, Tangerang.

Para penggemar berkesempatan mendapatkan undangan konser secara gratis bila berbelanja koleksi produk pilihan Slank di kampanye 31.3 Elektronik & Digital Sale dengan rentang harga Rp 10 ribu-300 ribu.

Dalam konser nanti, Slank berencana menampilkan sederet lagu hits mereka, juga kolaborasi dengan sejumlah musisi.

Baca juga: Slank segera rilis album baru

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rhythm Rebels siap hibur penonton Java Jazz

Denpasar, Bali (ANTARA) – Kelompok musik asal Bali, Rhythm Rebels siap menghibur pecinta musik yang hadir dalam gelaran Java Jazz Festival di JI Expo Kemayoran, Jakarta.

““Kami akan tampil di Panggung De Majors Java Jazz Festival malam nanti. Kami telah siap untuk menampilkan kualitas musik untuk menghibur para penonton,” kata drummer Rhythm Rebels Reza Achman, di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, dalam penampilannya di Java Jazz Festival nanti, Rhythm Rebels akan membawakan sejumlah lagu dalam durasi sekitar 45 menit.

“Untuk persiapan kami sudah melakukan latihan untuk memperbaiki dan mengembangkan kualitas bermusik kami, tidak hanya untuk Java Jazz Festival tapi untuk penampilan-penampilan kami yang lain,” katanya.

Rhythm Rebels terdiri dari dua orang personel yaitu, drummer Reza Achman dan Rizal Abdulhadi yang memainkan sejumlah instrumen alat musik tradisional.

Sebelumnya, Rhythm Rebels juga telah sukses menghibur penikmat musik di Udaipur, Rajasthan, India pada bulan Februari lalu dengan tampil di Udaipur World Music Festival.

Antida Music Productions, selaku manajemen resmi Rhythm Rebels mengakui bahwa saat ini mereka sedang gencar dalam menawarkan Rhythm Rebels dalam berbagai festival musik, baik di Indonesia maupun di kancah Internasional.

“Kami memiliki banyak jaringan festival dunia setiap musimnya, dan kami menawarkan Rhythm Rebels untuk dapat mengisi slot di setiap festival yang ada. Bulan lalu, Rhythm Rebels tampil di India yang merupakan penampilan kedua mereka di festival luar negeri setelah sebelumnya di Korea,” produser Rhythm Rebels, Anom Darsana.

Ia mengatakan, saat di India, Rhythm Rebels yang terbilang unik dari segi instrumen musik dan dengan aksi panggung yang atraktif, mendapatkan sambutan yang meriah dari ribuan penonton yang hadir dalam festival musik tersebut.”

“Bahkan founder Udaipur World Music Festival, Sanjeev Bhargava mengaku sangat menyukai dan terkesima dengan penampilan Rhythm Rebels,” ujar Anom.

Tak sebatas itu, Rhythm Rebels juga mendapat kesempatan wawancara dengan salah satu radio terbesar di India, Big FM dan juga masuk dalam majalah The Rolling Stones India.

“Hal itu dikarenakan Rhythm Rebels mempunyai keunikan di mana selain memainkan musik tradisional elektro juga memainkan alat musik India, sehingga publik India sangat terpukau.”

Terkait penampilan Rhythm Rebels di Java Jazz Festival, Anom Darsana mengaku bahwa Rhythm Rebels selain harus menguasai panggung internasional juga harus mampu menguasai panggung Indonesia dan karya mereka juga mampu diterima di tanah air Indonesia.

“Harus seimbang, tidak melulu di luar negeri, tetapi juga di Indonesia. Semua anak muda juga harus mengetahui bahwa sebuah instrumen, betapapun tradisionalnya, dapat dikembangkan dan dihadirkan menjadi hal yang menarik. Inilah inovasi” katanya.

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Baca juga: Intip daftar penampil Java Jazz 2019 hari pertama

Baca juga: Hari ini, Java Jazz hingga konser Kodaline

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Java Jazz 2019 yang akan dimulai hari ini di JI Expo Kemayoran, Jakarta, hingga 3 Maret mendatang akan menampilkan pertunjukan istimewa bagi penikmat musik.

Berbagai kolaborasi istimewa akan disuguhkan di panggung-panggung Java Jazz, menyatukan musisi Indonesia dengan internasional.

Pengunjung bisa menyaksikan penampilan Andien, Audrey Singgih, Aqi Singgih, Radhini, Rendy Pandugo, Teddy Adhitya yang akan bermain bersama Ron King Horn Section.

Selain itu, Addie MS & Twilite Orchestra juga akan berkolaborasi dengan Lea Simanjutak dan musisi peraih GRAMMY, Bob James yang akan memainkan karya Gershwin.

Tohpati akan bermain bersama dengan Sheila Majid dengan konsep akustik.

Sementara Dewa Budjana akan tampil bersama bassist asal India, Mohini Dey dan juga Soimah.

Simak juga kolaborasi Harvey Malaihollo dengan Ashira Zamita, Mikha Tambayong dan Yotari, mereka akan menampilkan konsep pertunjukkan Motown.

Pengunjung juga bisa menyaksikan kolaborasi antara musisi muda pendatang baru Nima Ilayla dengan Michael Manson, juga pertunjukan dari Adrian Khalif, Adikara Fardy dan Iwa K.

Selain itu, bakal ada penampilan dari Jaz, Ardhito Pramono dan Rendy Pandugo.

Musisi-musisi muda seperti Andini, Hanin Dhiya, Rahmania Astrini dan Trisouls juga akan tampil bersama, serta kolaborasi antara Rossa, Is Pusakata dan Rinni Wulandari dalam balutan musik hasil aransemen Ronald Steven.

Baca juga: Intip daftar penampil Java Jazz 2019 hari pertama

Baca juga: Gelang TapCash alat transaksi pengunjung Java Jazz 2019

Baca juga: Java Jazz Festival digelar 1-3 Maret 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Intip daftar penampil Java Jazz 2019 hari pertama

Jakarta (ANTARA) – Java Jazz 2019 yang sudah menginjak tahun ke-15 akan dimulai hari ini hingga 3 Maret di JI Expo Kemayoran, Jakarta, menampilkan sejumlah musisi ternama dari dalam dan luar negeri.

Dalam perayaan yang tahun ini mengusung tema “Broadway dan Motown”, sekitar seratus musisi Indonesia dan internasional tampil dalam 11 panggung untuk memuaskan dahaga penikmat musik.

Hari ini, penonton dapat menyaksikan penampilan Barry Likumahuwa tribute to Roy Hargrove, solois Rizky Febian, Ardhito Pramono, Mantra Vutura, Kunto Aji juga Twilite Orchestra yang dipimpin Addie MS berkolaborasi dengan Lea Simanjuntak dan Bob James.

Grup akustik DIAA dan penyanyi muda Hanin Dhiya juga tampil, begitu pula dengan solois Afgan, Dewa Budjana feat Soimah dan Mohini Dey, HIVI!, The Groove hingga Dira Sugandi.

Menjelang pergantian hari, penampilan khusus untuk mengenang legenda Dian Pramana Poetra bakal disemarakkan oleh Deddy Dhukun – pasangan Dian dalam 2D- , Dewi Gita, Dwiki Dharmawan, Ita Purnamasari, Mus Mujiono, Trie Utami dan Dian HP. Tidak ketinggalan Vina Panduwinata, Yuni Shara dan Yopi Latul bersama Audiensi Band.

Lagu-lagu ternama dari Dian Pramana Poetra akan dihidupkan dalam pertunjukan tersebut, meliputi “Aku Ini Punya Siapa”, “Biru”, hingga “Masih Ada”.

Untuk penampil dari luar Indonesia, ada Ron King Big Band yang tak pernah ketinggalan di pesta jazz tahunan ini, Donny McCaslin, Zsolt Botos dari Hungaria, The Suffers dan penampilan istimewa dari H.E.R yang baru memenangi album R&B terbaik Grammy.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kodaline suka jajanan kaki lima di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Grup band Kodaline mengaku begitu menikmati makanan yang ada di Indonesia. Mereka juga suka dengan makanan street food yang dijual di sini.

Band yang terdiri dari Steve Garrigan, Vinny Mau, Jr., Jason Boland dan Mark Prendergast ini sudah ketiga kalinya datang ke Indonesia.

Menurut Kodaline, semua makanan yang ada di Indonesia sangat enak. Dibandingkan makan di restoran, mereka lebih senang makan di pinggir jalan.

“Saya dan Steve menghabiskan waktu banyak di sini dan saya merasa makanan di sini luar biasa. Di manapun makannya enak. Kami pernah nyoba buah, itu sangat umum di sini. Namanya apa ya? Dragon fruit, buah naga itu enak,” ujar Vinny dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Selain buah naga, mereka juga pernah mencoba bakso dan sangat menyukai rasa kopi luwak. Selanjutnya, mereka akan mencoba makanan lain seperti nasi Padang.

“Kalau kami punya kesempatan mungkin kami bisa mencoba,” kata Vincent.

Kodaline akan melangsungkan konser di Istora Senayan, Jakarta pada 1 Maret 2019 dalam rangkaian “The Politics of Living Tour”.

Baca juga: Tampil di Jakarta, Kodaline pinjam gitar Rian d’Masiv

Baca juga: Kodaline siap tampil di Istora Senayan

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tampil di Jakarta, Kodaline pinjam gitar Rian d’Masiv

Jakarta (ANTARA) – Kodaline akan menggunakan gitar akustik yang dipinjam dari Rian d’Masiv untuk konser tunggal pertama mereka di Jakarta pada 1 Maret 2019.

Menurut Bimo Nugroho, founder Gudlive yang menjadi promotor konser, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis, Kodaline menginginkan gitar akustik dengan merek Martin & Co. 

Sayangnya, gitar tersebut sulit didapatkan.

Thanks buat Rian d’Masiv yang mau meminjamkan gitarnya. Karena kita nyarinya susah banget,” katanya.

Menurut Bimo, saat mencari gitar dengan merek tersebut hanya satu nama yang muncul yakni Rian d’Masiv. Akhirnya Bimo langsung menghubungi vokalis d’Masiv itu.

“Pas kita searching kode gitarnya, tersangkanya cuma satu yang bisa kita pinjam yakni Rian,” jelas Bimo.

Sebagai band internasional, pelantun “All I Want” itu cukup kooperatif dan santai.

Kodaline tidak menyampaikan permintaan yang aneh-aneh untuk tampil di Indonesia. Bimo mengatakan, hampir semua permintaan mereka bisa dipenuhi.

Baca juga: Kodaline siap tampil di Istora Senayan

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Band metal Korea Dreamcatcher urung manggung di Jakarta

Jakarta (ANTARA) – Grup metal asal Korea Selatan, Dreamcatcher, batal tampil perdana di hadapan penggemar mereka di Jakarta pada 20 Maret mendatang.

Promotor MyMusicTaste mengungkapkan hal itu melalui keterangan tertulisnya dan unggahan di Twitter, Kamis.

Mereka tak mengungkapkan detail alasan pembatalan konser bertajuk “DREAMCATCHER CONCERT: Invitation from Nightmare City” itu.

“Kami menyesal memberi tahu Anda bahwa DREAMCATCHER CONCERT: Invitation from Nightmare City in Jakarta batal. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” tulis mereka.

Sebagai gantinya, promotor berjanji akan mengumumkan sesuatu yang istimewa pada 3 Maret 2019 khusus untuk para penggemar Dreamcatcher di Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kaset pita, barang lawas yang masih dicari

Jakarta (ANTARA) –

Kaset pita pernah begitu populer di Indonesia pada era 1960an hingga 2000an, namun seiring berjalannya waktu, serta perkembangan teknologi digital membuat keberadaannya tergusur oleh CD dan layanan musik streaming.

Meski demikian, ternyata masih ada penikmat musik yang mencari kaset pita dari musisi idolanya. Hal ini diakui oleh pedagang kaset pita bekas di kawasan Jalan Surabaya, Jakarta Pusat.

Di lokasi ini para penikmat musik bisa mencari rilisan fisik album lagu mulai dari CD, piringan hitam, dan kaset pita. Ini juga yang membuat bisnis sejumlah pedagang di kawasan ini bisa tetap bertahan sampai sekarang.

Taufik Hidayat, salah satu pedagang kaset pita bekas di Jalan Surabaya mengatakan minat masyarakat terhadap kaset pita masih tinggi. Dia mengaku bisa menjual hingga 10 kaset pita per hari.

“Pembeli yang datang ke sini kebanyakan anak muda, tapi juga ada yang dewasa. Biasanya mereka cari lagu dari band lama,” ujarnya saat ditemui Antara, Kamis.

Album kaset band AC/DC di salah satu kios di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat (ANTARA News/Yogi Rachman)

Harga kaset pita bekas ini pun menurutnya beragam, mulai dari Rp10.000 hingga ratusan ribu rupiah tergantung dari kelangkaan album pada kaset pita. Album musik band lawas, seperti Duo Kribo, SuperKid, hingga SAS Group misalnya bisa dijual dengan harga Rp150.000 sampai Rp200.000 per kaset.

Perkembangan media sosial juga dimanfaatkannya untuk menjual kaset-kaset lagu secara online.

Pedagang kaset pita bekas lain di Jalan Surabaya, Rifai, mengatakan faktor nostalgia menjadi salah satu yang mendorong masyarakat untuk kembali membeli kaset pita bekas.

“Masih banyak yang membeli kaset pita. Selain untuk nostalgia, terkadang juga untuk koleksi,” kata Rifai yang sudah tiga tahun berjualan di Jalan Surabaya.

Keinginan memiliki rilisan fisik dari album musisi idola ini juga yang mendorong Fikri (28) untuk mencari kaset-kaset pita. Pria yang bekerja sebagai karyawan swasta ini mengaku menemukan perbedaan saat mendengar lagu dari kaset pita dan digital.

“Menurut gue, beda aja gitu dengerin lagu di kaset sama digital. Kalau dengerin lagu di kaset, gua bisa lihat lirik, thanks to di cover. Unik aja sih. Bakal jadi harta karun juga,” ucapnya.

Fikri mengaku memiliki banyak koleksi kaset-kaset pita di rumahnya. Album musik dari band era 1990an menjadi incarannya saat berburu kaset pita.

“Gua suka cari kaset Indonesia 1990an. Kebanyakan sih band-band atau penyanyi dari Potlot, kayak Slank, Kidnap, Katrina, Boomerang, Flowers, Scope dan lainnya,” jelas Fikri.

Kaset pita dan Efek Rumah Kaca

Meski sudah tidak banyak, namun beberapa musisi dalam negeri masih mengeluarkan rilisan fisik dalam format kaset pita, salah satunya adalah grup band indie Efek Rumah Kaca.

Grup yang kini beranggotakan Cholil Mahmud (vokal), Poppie Airil (bass), dan Akbar (drum) ini terakhir kali merilis kaset pita untuk album bertajuk “Purwaswara” pada tahun 2018 lalu.

“Memang dari kecil sampai remaja Efek Rumah Kaca sudah dekat sekali dengan kaset. Kita juga mau coba semua medium tak hanya rilis vinyl,” kata Poppie Airil kepada Antara.

Menurut Poppie, suara yang dihasilkan kaset pita memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan rilisan dalam format digital. Dia juga mengatakan merilis kaset pita di zaman sekarang tidak terlalu sulit. Masih banyak vendor yang bisa memproduksi kaset pita dengan kualitas yang baik.

“Memang tidak sesulit itu ternyata. Lokananta saja masih berjalan, dia juga banyak tertolong karena pembuatan kaset,” ungkapnya.

Bagi Efek Rumah Kaca dan musisi lain yang masih merilis album dalam bentuk kaset pita untuk mengejar nilai eksklusivitas. Wajar jika jumlah album dalam bentuk kaset pita yang dikeluarkan tidak terlalu banyak.

“Kalau mediumnya kaset mereka memang kejar eksklusif. Untuk lebih masif bisa dari CD atau digital,” terangnya.

Namun hal ini juga yang menjadi “bumerang” bagi Efek Rumah Kaca. Akibat jumlah kaset pita yang dirilis sedikit, namun peminatnya tinggi sehingga menjadi celah bagi oknum yang mencoba mengambil untung dengan menjualnya kembali dengan harga tinggi dibandingkan pertama dirilis.

“Kami sedikit menyesal bukan karena mengeluarkan kasetnya, tapi di pasarannya ada penimbunan dan ada yang jual dengan harga tinggi karena jumlahnya terbatas,” ucapnya.

Untuk menyiasati harga jual tinggi di pasaran, Efek Rumah Kaca pun secara berkala merilis ulang “Purwaswara” untuk para penggemar yang belum sempat memiliki album tersebut.

“Kami bikin ulang karena tahu kok harganya mahal banget. Kami bedakan dari desainnya di cover sedikit. Itu untuk menjaga supaya tidak mahal. Jadi kami selalu cetak kalau habis dicetak lagi. Sebenarnya untuk menjaga harganya,” tutupnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Yogi Rachman)

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kodaline siap tampil di Istora Senayan

Jakarta (ANTARA) – Kodaline akan tampil menghibur ribuan penggemarnya di Istora GBK, Senayan besok, 1 Maret 2019.

Konser tunggal yang bertajuk “The Politics of Living Tour” ini akan berbeda dengan aksi panggung mereka sebelumnya di Indonesia. Sebab, biasanya mereka hanya menjadi salah satu pengisi acara festival musik saja.

Bimo Nugroho, founder Gudlive selaku promotor konser ini mengatakan bahwa antusiasme penggemar Kodaline cukup besar. Dari 5500 tiket yang tersedia, 80 persennya sudah terjual.

“Ini ketiga kalinya. Pertama dan kedua mereka festival biasa. Karena sekarang mereka mau ambil single show, kita tadinya sempat ragu tapi ketika kita research ternyata peminatnya banyak. Hanya 15 menit, presale-nya sudah sold out,” ujar Bimo dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

Menurut promotor, band pelantun “All I Want” ini tidak meminta hal yang aneh kepada pihak penyelenggara. Sebab Kodaline termasuk band yang santai.

“Mereka sangat santai dan kooperatif, mereka juga sangat memahami kondisi kita. Permintaan enggak ada yang aneh. Malah kita yang terlalu berlebihan nge-treat mereka. Yang penting mereka sehat dan bisa main supaya penampilan mereka besok bisa prima,” jelas Panji salah satu promotor.

Kodaline rencananya akan membawakan 17 lagu yang diambil dari album lama dan yang paling baru.

Pihak promotor juga akan menyediakan semua kebutuhan penonton mulai dari toilet, musala sampai stand makanan dan minuman.

Saat ini penjualan tiket secara online telah ditutup. Namun, penonton masih bisa mendapatkannya secara langsung di Istora dengan harga Tribun 1 Rp700 ribu, Tribun 2 Rp600 ribu, Festival A Rp900 ribu, Festival B Rp800 ribu, VIP I Rp1,25 ribu, VIP II Rp1 juta dan Floor Rp1,15 ribu.

Baca juga: Konser musisi dunia yang patut ditunggu di tahun 2019

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Seventeen dan Blackpink akan tampil di Summer Sonic Jepang

Jakarta (ANTARA) – Dua grup K-pop ternama Seventeen dan Blackpink akan jadi salah satu penampil di festival musik tahunan Jepang Summer Sonic pada Agustus mendatang di Tokyo dan Osaka.

Seventeen yang beranggotakan 13 orang akan tampil di Maishima Sonic Park, Osaka pada 17 Agustus, hari kedua dari festival tiga hari di dua kota itu.

Dilansir kantor berita Yonhap, acara itu akan berlangsung pada 16-18 Agustus dan diisi musisi ternama dunia, termasuk Red Hot Chili Peppers, The Chainsmokers dan The 1975.

Blackpink akan tampil di Tokyo pada hari terakhir festival, mengikuti jejak dari grup K-pop lain yang sebelumnya sudah pernah menjadi bintang tamu dari festival tahunan Jepang yang terkenal itu, seperti Big Bang, BoA, Girls’ Generation dan BTS.

Dua grup K-pop itu sedang menikmati popularitasnya di Jepang, di mana Seventeen menjual lebih dari 120.000 kopi album debut Jepang pada pekan pertama Mei tahun lalu saat peluncuran.

Seventeen juga menerima dua penghargaan di 33rd Japan Gold Disc Awards, membuktikan adanya pengakuan dari pendengar Jepang.

Baca juga: Kia gandeng BLACKPINK gaet pelanggan muda

Baca juga: Musisi Taiwan ramaikan Summer Sonic Festival di Jepang

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Konser Seungri BIGBANG di Jakarta batal

Jakarta (ANTARA) – Seungri, personel termuda boy group BIGBANG membatalkan rencana konser di Jakarta yang seharusnya berlangsung pada 17 Maret mendatang.

Promotor mengumumkan pembatalan itu melalui akun Instagram @onestepforward.id, Kamis.

“Karena berbagai alasan, kami sangat menyesal bahwa ‘The Great Seungri Tour 2019 Live in Jakarta’ dibatalkan,” tulis mereka.

Promotor mengatakan mereka sedang mempersiapkan proses pengembalian uang tiket yang detailnya akan diumumkan melalui laman resmi.

“Mohon simpan tiket atau bukti konfirmasi transfer yang dibutuhkan untuk pengembalian uang.”
 

Konser satu-satunya personel BIGBANG yang belum menjalani wajib militer itu rencananya berlangsung di Livespace Lot 8, SCBD, Jakarta.

Seungri baru-baru ini dituduh menyediakan pekerja seks komersial untuk investor asing dalam bisnisnya.

Agensi hiburan YG Entertainment yang menaungi BIGBANG membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai rumor palsu. Meski demikian, polisi sedang menyelidiki kasus itu.

Baca juga: Seungri BIGBANG bakal gelar konser di Jakarta
Baca juga: YG bantah tuduhan Seungri Bigbang sediakan PSK untuk investor

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Musisi Minang Nedi Gampo tutup usia

Padang (ANTARA) – Musisi Minang Nedi Erman atau lebih dikenal dengan Nedi Gampo tutup usia pada Kamis pukul 07.30 WIB di Padang setelah sebelumnya mengalami sakit jantung.

Menurut salah seorang penyanyi Minang An Roys di Padang, saat dihubungi menyampaikan, almarhum akan dimakamkan di kampung halaman di Kabupaten Tanah Datar.

“Semua musisi Minang benar-benar kehilangan dengan berpulangnya almarhum,” kata An Roys.

Menurut dia sosok Nedi merupakan pribadi yang hangat dan lucu.

“Kami para musisi Minang benar-benar haru atas kepergian yang mendadak,” kata dia.

Nedi Gampo lahir di Batusangkar, 23 April 1965. Ia dikenal sebagai musisi Minang yang multitalenta dan kocak dalam setiap penampilannya.

Sejumlah album yang pernah dikeluarkan Nedi Gampo antara lain “Sagalo Gadang” (1993), “Pisau Silet” (1995), “Aki Suak” (1996), “Jawinar” (1998), dan “Bangku Angek” (2000).

Kemudian, “Uwia-uwia Mintah Gatah” (2001), “Dimakan Caciang” (2005), “Angguak-angguak Geleng” (2007), dan “Barangkek Kosong” (2008).

Jenazah Nedi Gampo disemayamkan di rumah duka di Perumahan Batang Kabung Asri, M-11, Simpang Lalang – Pulai, Jalan Adinegoro, Koto Tangah, Padang.

Nedi Gampo mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sumbar pada pemilu 2019 dari Partai Gerindra, daerah pemilihan 6 yang meliputi Kabupaten Tanah Datar, Padang Panjang, Sawahalunto, Sijunjung, dan Dharmasraya.
 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lagunya dilarang tayang di Indonesia, Bruno Mars buka suara

Jakarta (ANTARA) – Bruno Mars angkat bicara terkait dengan lagunya yang dibatasi penayangannya di Jawa Barat karena dianggap memiliki lirik yang mengandung konten kehidupan dewasa.

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat telah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penayangan 17 lagu barat atau berbahasa Inggris, baik dalam bentuk lagu atau video klip di wilayah ini.

17 lagu tersebut liriknya dinilai menjurus pada tema kehidupan dewasa. KPID Jawa Barat pun memberi klasifikasi waktu penyiaran yakni dari pukul 10 malam sampai 3 pagi.

Bruno Mars memiliki dua lagu yang dibatasi penayangannya yakni “That’s What I Like” dan “Versace On The Floor”. Dia pun mengomentari masalah ini melalui akun Twitter.

“WTF! Saya sedang dibicarakan di Indonesia! Lalu ada juga @edsheeran dengan lirik sakit, menyesatkan dan terasa seperti dicubit! Terimakasih Ed, terimakasih banyak,” tulis Bruno, Kamis.

“I’m in love with the shape of you?” Sungguh @edsheeran? Kau monster! dan jangan sampai saya untuk “Thinking Out Loud” (memikirkan ini berulang-ulang, menyambung pada judul lagu Ed Sheeran) Kau punya malu?,” katanya.

Bruno melanjutkan, “Dear Indonesia, saya memberikan kalian hits yang sehat “Nothin On You”, “Just The Way You Are” & “Treasure”. Jangan memasukan saya sebagai golongan seksual yang menyesatkan.”
 

Selain Bruno Mars, musisi luar negeri lain yang dibatasi penayangannya adalah Zayn Malik (“Dusk Till Dawn”, “Let Me”), Camila Cabello ft Pharrell William (“Sangria Wine”), The Killers (“Mr Brightside”), Ariana Grande (“Love Me Harder”), Marc E Bassy (“Plot Twist”) dan Ed Sheeran (“Shape of You”).

Selain itu Chris Brown ft Agnez Mo (“Overdose”), Maroon 5 (“Makes Me Wonder”), Eamon (“Fuck it I Don’t Want You Back”), Camila Cabello ft Machine (“Bad Things), 88rising (“Versace On The Floor”), DJ Khaled ft Rihanna (“Wild Thoughts”), Yellow Claw (“Till it Hurts) dan Rita Ora (“Your Song”).

Baca juga: KPID Jawa Barat batasi penayangan 17 lagu Barat

Baca juga: Pengamat keluhkan pembatasan tayang lagu barat

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Konser Padi Reborn di Kuta

Kelompok musik Padi Reborn menghibur penggemarnya saat konser bertajuk “Padi Reborn Intimate Show” di kawasan Kuta, Bali, Rabu (27/2/2019). Dalam penampilannya mereka membawakan sejumlah lagu diantaranya Kasih Tak Sampai, Menanti Sebuah Jawaban, Bayangkanlah dan Sobat. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras.

Lagunya diarang tayang di Indonesia, Bruno Mars buka suara

Jakarta (ANTARA) – Bruno Mars angkat bicara terkait dengan lagunya yang dibatasi penayangannya di Jawa Barat karena dianggap memiliki lirik yang mengandung konten kehidupan dewasa.

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat telah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi penayangan 17 lagu barat atau berbahasa Inggris, baik dalam bentuk lagu atau video klip di wilayah ini.

17 lagu tersebut liriknya dinilai menjurus pada tema kehidupan dewasa. KPID Jawa Barat pun memberi klasifikasi waktu penyiaran yakni dari pukul 10 malam sampai 3 pagi.

Bruno Mars memiliki dua lagu yang dibatasi penayangannya yakni “That’s What I Like” dan “Versace On The Floor”. Dia pun mengomentari masalah ini melalui akun Twitter.

“WTF! Saya sedang dibicarakan di Indonesia! Lalu ada juga @edsheeran dengan lirik sakit, menyesatkan dan terasa seperti dicubit! Terimakasih Ed, terimakasih banyak,” tulis Bruno, Kamis.

“I’m in love with the shape of you?” Sungguh @edsheeran? Kau monster! dan jangan sampai saya untuk “Thinking Out Loud” (memikirkan ini berulang-ulang, menyambung pada judul lagu Ed Sheeran) Kau punya malu?,” katanya.

Bruno melanjutkan, “Dear Indonesia, saya memberikan kalian hits yang sehat “Nothin On You”, “Just The Way You Are” & “Treasure”. Jangan memasukan saya sebagai golongan seksual yang menyesatkan.”
 

Selain Bruno Mars, musisi luar negeri lain yang dibatasi penayangannya adalah Zayn Malik (“Dusk Till Dawn”, “Let Me”), Camila Cabello ft Pharrell William (“Sangria Wine”), The Killers (“Mr Brightside”), Ariana Grande (“Love Me Harder”), Marc E Bassy (“Plot Twist”) dan Ed Sheeran (“Shape of You”).

Selain itu Chris Brown ft Agnez Mo (“Overdose”), Maroon 5 (“Makes Me Wonder”), Eamon (“Fuck it I Don’t Want You Back”), Camila Cabello ft Machine (“Bad Things), 88rising (“Versace On The Floor”), DJ Khaled ft Rihanna (“Wild Thoughts”), Yellow Claw (“Till it Hurts) dan Rita Ora (“Your Song”).

Baca juga: KPID Jawa Barat batasi penayangan 17 lagu Barat

Baca juga: Pengamat keluhkan pembatasan tayang lagu barat

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gelang TapCash alat transaksi pengunjung Java Jazz 2019

Jakarta (ANTARA) – Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 akan segera dilangsungkan pada 1 Maret mendatang. Pada acara yang sudah menginjak tahun ke-15 itu terdapat perubahan yang akan dirasakan pengunjung, termasuk soal tiket dan alat transaksi.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kartu TapCash yang menjadi alat pembayaran untuk membeli makanan dan minuman di dalam tempat acara akan digantikan dengan gelang.

“Tahun ini semua pengunjung akan diberikan gelang TapCash yang akan berfungsi sebagai tiket akses masuk dan alat transaksi,” ujar Tambok P Setyawati, Direktur Retail Banking BNI di Jakarta, Rabu.

Gelang tersebut masih bisa digunakan setelah Java Jazz 2019 berakhir sebagai alat pembayaran di convenient store, commuter line dan jalan tol.

Nanti, pengunjung juga dapat membeli TapCash mengisi ulang lewat vending machine yang diletakkan di area BNI Java Jazz Festival tahun ini.

Perhelatan BNI Java Jazz Festival 2019 yang akan berlangsung selama 3 hari dimulai dari Jumat, 1 Maret 2019 hingga Minggu, 3 Maret 2019 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Tahun ini, Java Jazz Festival mengangkat tema “Broadway dan Motown”.

Ajang jazz terbesar se-Asia Tenggara ini akan menghadirkan 70 musisi dalam negeri dan 40 musisi internasional seperti Afgan, Andien, Isyana Sarasvati, Kunto Aji, Hanin Dhiya, Radhini, Rendy Pandugo, Endah n Rhesa Extend, Idang Rasjidi & The Syndicate, Parkdrive serta Barry Likumahuwa Tribute to Roy Hargrove.

Sedangkan untuk musisi internasional di antaranya adalah GoGo Penguin, Bob James Trio, Donny McCaslin, James Vickery, Louis Cole, R+R = NOW dan lainnya. Lalu untuk special show ada tiga musisi yang akan tampil yakni band legendari TOTO, pendatang baru Raveena dan pemenang Grammy 2019 H.E.R.

Baca juga: Java Jazz Festival digelar 1-3 Maret 2019

Baca juga: Festival musik paling keren sepanjang 2018

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

MONSTA X teken kontrak dengan label musik Madonna

Jakarta (ANTARA) – Boy group MONSTA X telah menandatangani kontrak dengan label musik Amerika Serikat, Maverick.

Dilansir E!, Rabu, dengan begitu label yang didirikan Queen of Pop, Madonna itu menambah musisi ternama setelah Nicki Minaj, Miley Cyrus, Britney Spears, Pitney dan Aerosmith.

Pihak perusahaan nantinya akan mengelola dan mempromosikan MONSTA X di Amerika dan berencana mengikutsertakan mereka dalam Festival Musik Radio iHeart di Las Vegas akhir tahun ini.

MONSTA X akan menjadi grup K-pop pertama yang berpartisipasi dalam festival musik itu.

Hal itu juga diprediksi menjadi debut besar mereka di dunia musik.

Baca juga: Key SHINee luncurkan album “repackaged” saat wajib militer

Baca juga: Girl grup KPOP ini terkejut lihat antusiasme fans Indonesia

Baca juga: BTS hadirkan “Armypedia” untuk menjangkau penggemar

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengamat keluhkan pembatasan tayang lagu barat

Jakarta (ANTARA) – Pengamat musik Idhar Resmadi menilai keputusan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat yang mengeluarkan surat edaran pembatasan penayangan sejumlah lagu barat dianggap tak masuk akal dan aneh.

“Edaran ini cukup aneh dan enggak masuk akal. Persoalannya apa ada kejadian di lapangan sehingga membuat KPID membatasi penayangan lagu-lagu tersebut,” kata Idhar Resmadi saat dihubungi Antara, Rabu.

Ada sekitar 17 lagu yang dibatasi penyiarannya oleh KPID Jawa Barat seperti lagu “Dusk Till Down” dari Zayn Malik, “Thats What I Like” dari Bruno Mars, “Mr Brightside” dari The Killers, hingga “Overdose” dari Agnez Mo ft Chris Brown.

Lagu-lagu tersebut dianggap menampilkan judul atau lirik bermuatan seks, cabul, atau mengesankan aktivitas seks sehingga masuk klasifikasi dewasa dan hanya bisa diputar mulai pukul 22.00 sampai 03.00 WIB saja.

Penulis buku “Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya” ini pun mempertanyakan apakah ada kejadian tindak kejahatan asusila akibat mendengar lagu-lagu barat yang dibatasi penayangannya tersebut.

“Contohnya gini, apa ada kasus karena mendengarkan lagu Zayn Malik terjadi pelecehan seksual. Apakah ada satu kasus gara-gara lagu Maroon 5 atau The Killers terjadi pemerkosaan. Apalagi musik itu kan multitafsir,” ujarnya.

Menurutnya lagi, pembatasan penayangan lagu-lagu barat tersebut tidak akan berpengaruh dan memberikan dampak secara sosiologis dalam masyarakat.

“Enggak akan berdampak. Maksudnya kayak pendengar mereka punya opsi dengerin dari YouTube atau streaming. Jadi tidak terlalu berdampak secara sosiologis. Tapi secara industri bisa terjadi dampak,” katanya.

Dia pun menyarankan sebaiknya pembatasan penayangan lagu-lagu barat tersebut dicabut atau dikaji lebih dalam dengan melibatkan pelaku di industri musik.

“Menurut saya sih lebih baik dicabut. Kalau mau melibatkan dulu pelaku radio, pengamat dan pelaku musik. Yang jelas tujuannya apa. Aturannya dibuat untuk apa itu yang enggak jelas kan sekarang,” tutup Idhar.

Tanggapan masyarakat

Sebagian masyarakat pun ikut bersuara mengenai surat edaran KPID Jawa Barat yang membatasi penayangan sejumlah lagu barat, salah satunya adalah Asti (23) seorang karyawan swasta yang menganggap kebijakan tersebut tidak akan terlalu memberikan pengaruh.

“Menurut gue pemerintahnya terlalu pusing mikirin hal yang bisa dibilang enggak penting. Daripada mikirin konten dewasa di lagu bahasa Inggris, mending ramai-ramai bikin petisi soal hilangkan sinetron tidak mendidik dari tv, dan hal-hal bermanfaat lainnya,” ujarnya.

Hal berbeda disampaikan oleh Dendi (18) seorang mahasiswa yang justru mendukung penuh kebijakan KPID Jawa Barat mengenai pembatasan penayangan lagu-lagu barat yang dianggap memiliki atau menampilkan judul dan lirik bermuatan seks.

Menurutnya pembatasan penayangan tersebut bertujuan agar lagu-lagu yang masuk dalam klasifikasi dewasa tidak mudah diakses oleh anak-anak.

Namun, dia juga menyarankan perlu adanya partisipasi orang tua dalam pengawasan terhadap anak-anaknya agar tidak mudah mengakses lagu-lagu klasifikasi dewasa.

“Kalau demi kebaikan anak-anak sih enggak masalah karena yang dewasanya kan sudah bisa mendengarkan sendiri dan bisa lebih bijaksana,” kata Dendi.

Baca juga: KPID Jawa Barat batasi penayangan 17 lagu Barat

(Laporan Peserta Susdape Yogie Rachman)

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Padi Reborn siap hibur Bali

Badung, Bali (ANTARA) – Kelompok musik Padi siap menghibur para penggemarnya di Bali melalui konser bertajuk “Padi Reborn Intimate Show” yang akan diselenggarakan di kawasan Kuta, Bali, Rabu malam.

“Kami sudah siap untuk menjadikan Bali begitu indah,” ujar drummer Padi Reborn, Surendro Prasetyo atau Yoyo, saat konferensi pers menjelang konser di Kuta, Badung, Rabu.

Gitaris Padi Reborn, Satriyo Yudi Wahono yang akrab dipanggil Piyu menjelaskan, “Exclusive concert Padi Reborn Intimate Show” di Bali itu merupakan penutup dari rangkaian konser tur mereka.

“Sebelumnya kami telah menggelar tur empat kota yaitu di Jakarta, Surabaya, Balikpapan dan terakhir di Bali ini,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam konsernya di Bali nanti, Padi Reborn akan membawakan sejumlah lagu dengan durasi konser selama dua jam yang akan dikemas secara kreatif.

“Kami juga telah menyiapkan berbagai kejutan termasuk salah satunya kami akan berkolaborasi dengan personel kelompok Navicula, Gede Robi,” kata Piyu.

Sementara itu, vokalis Padi Reborn, Andi Fadly Arifuddin atau Fadly mengatakan, dirinya bersama personel lain sangat senang dan merasa mendapat kehormatan bisa tampil kembali mengihibur penikmat musik di Bali.

“Tahun lalu Padi Reborn juga sudah dua kali tampil di Bali. Tetapi untuk penampilan nanti kami akan menyajikan sesuatu yang beda dari sebelumnya. Termasuk durasi yang lebih lama karena karena sebelumnya saat konser durasinya juga termasuk singkat,” katanya.

Ssmentara itu, perwakilan Dadu Event selaku penyelenggara, Steve mengatakan, untuk tiket konser Padi Reborn di Bali tersebut dibanderol dengan harga Rp500 ribu.

“Sebenarnya harga tiket yang sedikit mahal itu untuk menjaga kapasitas lokasi konser agar tidak terlalu banyak penonton sekaligus untuk menjamin keamanan mereka. Selain itu konser ini juga berbeda dengan konser sebelumnya dengan tata panggung dan tata cahaya yang pasti akan dapat memuaskan para penggemar Padi,” katanya.

Baca juga: Padi Reborn tampil di 90’s Festival 2018

Baca juga: Vakum 7 tahun, Padi Reborn obati kerinduan penggemar Soundrenaline

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Taylor Swift akan berkolaborasi dengan Katy Perry?

Jakarta (ANTARA) – Taylor Swift dikabarkan akan merilis album baru dan nampaknya bakal menggandeng musisi lain. Rumor yang beredar, musisi yang akan berkolaborasi dengan Taylor, adalah Katy Perry.

Spekulasi itu beredar setelah Taylor mengunggah foto langit Los Angeles di akun Instagramnya, dengan tujuh emoji pohon palem di bagian caption, demikian seperti dikutip dari Aceshowbiz, Rabu.

Penggemar beranggapan foto tersebut merupakan petunjuk bahwa Taylor akan menelurkan album baru, apalagi sebelumnya mantan penyanyi country itu mengenakan jaket dengan asesoris pohon palem untuk pemotretan majalah.

Menariknya, Katy Perry baru-baru ini juga berbagi foto dirinya yang berpose di depan palem. Tak hanya itu, Capitol Records, label yang menaunginya juga memicu spekulasi yang sama karena menggunakan emoji palem di satu unggahan di Twitter.

Selain Taylor dan Katy, Ryan Tedder dari band OneRepublic juga menggunakan foto pohon palem sebagai foto cover Twitter-nya.

Meski demikian, belum ada konfirmasi mengenai rumor kolaborasi itu dan membuat para penggemar mereka semakin berspekulasi.

“Katy Taylor OMG,” kata seorang penggemar.

“Taylor x Katy OMG Yes We Won,” ujar penggemar yang lain.

Jika spekulasi itu benar, kolaborasi tersebut akan jadi yang pertama antara Katy dan Taylor.

Kedua bintang itu sudah tiga tahun lebih berseteru. Menyinggung soal masalah mereka berdua, Taylor pernah berkata bahwa Katy telah melakukan sesuatu yang buruk dan itu bukan soal lelaki.

“Dia (Katy) berusaha menguasai seluruh arena tur. Dia juga berusaha menyewa beberapa orang untuk keluar dari lingkup saya,” ujarnya.

Kini, keduanya telah berhasil melupakan masa lalu dan berdamai. Tahun lalu, Katy mengirimi Taylor ranting zaitun yang merupakan simbol perdamaian sebelum acara pembukaan “Reputation Stadium Tour” di Arizona.

Baca juga: Taylor Swift beri kejutan di Golden Globes
Baca juga: Katy Perry, penyanyi perempuan berbayaran tertinggi versi Forbes

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Strategi promosikan “Hello Dangdut” di Amerika lewat mini disco

Jakarta (ANTARA) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) akan mempromosikan musik dangdut di Amerika dengan mengikutsertakan program “Hello Dangdut” dalam Festival South by Southwest (SXSW) 2019 di Austin, Texas, pada 10-17 Maret. 

Anggota Steering Committee “Hello Dangdut”, David Tarigan mengatakan bahwa tim akan membuat semacam “mini disco” untuk memperkenalkan musik dangdut di sana. 

“Wujudnya seperti sebuah box tetapi orang bisa masuk ke dalam, seperti mini disco. Bisa dua orang di dalam. Di sana tidak hanya ada lagu, tetapi juga ada visual semacam interaktif. Jadi melihat seperti apa dangdut di Indonesia. Ada merchandise yang akan dibagikan,” kata dia di Jakarta, Selasa. 

“Hello Dangdut” juga akan memberikan informasi mengenai sejarah, pencapaian musik dangdut sejak era 1970-an di Indonesia hingga saat ini. 

Kemudian, karena masih fase pertama, David memastikan tidak menghadirkan performa para musisi dangdut secara live. Mungkin di tahun depan, tutur dia. 

“Sebisanya kami memilih lagu-lagu yang dangdut banget. Dangdut sendiri kan baru tahun 1970-an. Mungkin kita akan bawa yang seperti itu. Kami pilih supaya tidak keluar dari ide dangdut tradisional, maksudnya yang klasik. Di sana ada lagu yang diputar, lalu ada satu lagu yang membuat dia berjoged,” papar David. 

Menurut dia, pada dasarnya ini merupakan bentuk pengenalan awal pada musik dangdut untuk masyarakat Amerika. Namun, bagi kalangan yang sudah mengetahui musik dangdut, pihaknya akan membuat follow up yang lebih konkret. 

“Sebagai contoh ada label rekaman yang tertarik merilis dangdut 70-an. Kita akan tapping di sana,” kata pria yang saat berkutat di Yayasan Irama Nusantara itu. 

Selain “Hello Dangdut”, terdapat beberapa startup yakni Ars., MTarget, Nodeflux, TeleCTG, Noore Sport Hijab, Dicoding, Knock Percussion dan musisi Dhira Bongs yang juga akan berpartisipasi dalam festival sejenis. 

“SXSW menjadi gerbang alternatif baru. Pengenalan dangdut tepat lewat ajang ini. Bagaimana kami mengenalkan Hello Dangdut dan dampaknya semoga dangdut bisa menjadi alternatif (musik),” kata David. 

Baca juga: Bekraf kirim belasan pelaku industri kreatif ke AS

Baca juga: Bekraf sebut layanan OTT jawab jumlah penambahan layar bioskop

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Key SHINee luncurkan album “repackaged” saat wajib militer

Jakarta (ANTARA News) – Key, anggota grup K-pop SHINe, akan meluncurkan album repackaged bertepatan pada hari saat dia menjalani wajib militer bulan depan, kata agensi manajemen SHINee, Senin (25/2).

Rekaman berjudul “I Wanna Be” itu akan tersedia diunduh di situs streaming musik online ternama mulai 4 Maret pukul 18.00 waktu Korea Selatan, kata SM Entertainment seperti dilansir kantor berita Yonhap.

Album itu berisi 13 lagu, 10 diambil dari album solo perdananya “Face” yang dirilis November silam, ditambah tiga lagu baru.

Pada hari peluncuran, Key dijadwalkan bergabung dengan tentara untuk menjalani wajib militer. 

“Album ini adalah kado untuk penggemar, dipersiapkan jelang wajib militer Key… ini cukup untuk menikmati suaranya yang menarik dan warna musikal yang unik,” kata SM.

Album solo itu keluar setelah Key mengikuti jejak anggota tertua SHINee, Onew, menjalani wajib militer, sejenak menepi dari dunia K-pop. Selanjutnya, Minho dari SHINee juga akan mengikuti kewajiban serupa pada paruh pertama tahun ini.

Album solo Key, “Face”, menempati puncak tangga album iTunes di 12 negara dan wilayah. 

Baca juga: Lee Jong-suk wajib militer bulan depan
Baca juga: So Ji-Sub sapa penggemar di Balai Sarbini 9 Maret

 

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lady Gaga-Cooper bawakan “Shallow” bernuansa emosional di Oscar

Jakarta (ANTARA News) – Penyanyi Lady Gaga dan Bradley Cooper berkesempatan membawakan “Shallow”, lagu dalam film “A Star Is Born” dalam perhelatan Oscar 2019, Minggu (24/2). 

Keduanya memulai penampilan dari kursi bagian depan penonton. Cooper lalu mengajak Gaga ke atas panggung. 

Keduanya membuat suasana seketika menjadi sangat emosional saat saling menatap, dipisahkan sebuah piano cokelat. Cooper lalu bergabung dengan Gaga, duduk di atas bangku piano. Mereka sempat berpelukan sesaat. 

Penampilan ini menandai kali ketiga Gaga bernyanyi di panggung Oscar. Dia pertama kali tampil dalam acara itu pada tahun 2015, menyanyikan medley lagu-lagu dari The Sound of Music untuk menghormati ulang tahun ke-50 film yang dibintangi Julie Andrews itu. 

Tahun berikutnya, Gaga membawakan lagu “Til It Happens to You” untuk para penonton Oscar.

Sebagai pemenang Grammy sembilan kali, Gaga masuk nominasi Oscar tahun ini melalui film ” A Star Is Born” untuk kategori Aktris Terbaik, lalu lagu “Shallow”. 

Dia sebelumnya dinominasikan bersama Diane Warren untuk lagu “Til It Happens to You” dari film dokumenter The Hunting Ground tahun 2015. 

Sementara itu, Cooper masuk tujuh nominasi Oscar di beberapa film dan kategori selama bertahun-tahun, termasuk Film Terbaik, Aktor Terbaik, Aktor Pendukung Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik.

Baca juga: Rami Malek jatuh dari panggung usai raih piala Oscar

Baca juga: Rami Malek, Olivia Colman dan daftar pemenang Oscar 2019

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Queen bawakan We Will Rock You” di Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Band Queen bersama Adam Lambert, membuka acara Oscar 2019, yang untuk kali pertama berlangsung tanpa host, Minggu (24/2). 

Queen membawakan dua lagu selama segmen pembuka, yakni “We Will Rock You” dan “We Are the Champions”, seperti dilansir Hollywood Reporter. 

Ketika kamera menyorot ke kerumunan, para selebiriti terlihat menikmati pertunjukan, termasuk Lady Gaga, Allison Janney, Jordan Peele, Mike Myers, Musgraves Kacey, Amy Adams, Glenn Close, Alex Rodriguez dan Javier Bardem. 

Setelah Adam Lambert dan Queen membuka Oscar 2019 dengan penampilan medley yang menggetarkan, Tina Fey, Amy Poehler, dan Maya Rudolph naik ke panggung untuk mempersembahkan penghargaan aktris pendukung terbaik untuk If Beale Street Could Talk, Regina King.

“Kami bukan host, tetapi kami akan berdiri di sini terlalu lama sehingga orang-orang. akan berpikir bahwa kami menjadi host,” kata Fey.

Bulan lalu, Kevin Hart mengundurkan diri sebagai host Oscar karena masalah homofobik di masa lalu dan lelucon ofensif yang dibuat dalam aksi sebelumnya. 

Penghargaan Academy tahunan ke-91 disiarkan langsung di ABC dari Dolby Theatre di Hollywood & Highland Center di Hollywood.

Baca juga: Tak ada MC bukan masalah, Queen & Lady Gaga bawa nuansa Grammy di Oscar

Baca juga: Queen akan tampil di Oscars

Baca juga: Aktor Rami Malek sebut Queen dalam pidato kemenangan di Golden Globes

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019