Program “Kalesang Kota” digelar musisi hip-hop Ambon melalui baksos

“KalesangKota: yang dilakukan berupa aksi bersih yang dimulai dari lingkungan Jalan Mutiara Mardika dan akan dilanjutkan ke sejumlah lokasi lain di kota ini

Ambon (ANTARA) – Komunitas Kreatif Bangsa Karya bersama Less Moluccans mengonsepkan program Kalesang Kota (peduli kota) melalui aksi bakti sosial (baksos) yang dilakukan musisi hip-hop Kota Ambon.

“Kalesang Kota yang dilakukan berupa aksi bersih yang dimulai dari lingkungan Jalan Mutiara Mardika dan akan dilanjutkan ke sejumlah lokasi lain di kota ini,” kata anggota Komunitas Kreatif Bangsa Karya (KKBK), Firman Felix Santoso.

“Program ini dibuat untuk meningkatkan budaya Kalesang Kota yang dimulai dari lingkungan kita berkarya dengan Less Moluccan sebagi rumah kita di kawasan Mardika, dengan melibatkan warga lima RT di Kelurahan Rijali, bersama Satpol PP Kota Ambon dan mahasiswa KKN Unpatti,” katanya di Ambon, Provinsi Maluku, Jumat.

Ia mengatakan, program ini merupakan langkah awal dan akan berlanjut ke kawasan lain di Kota Ambon, dengan menyiapkan peta lokasi aksi bersih seluruh komunitas kreatif.

“Komunitas kreatif yang terdiri dari musisi hip-hop sebagai penggerak KKBK, dan kita harapkan Less Mollucan sudah menyiapkan wadah bagi kita dan apa yang harus kita buat ke depan agar mandiri tanpa menunggu bantuan dari pihak lain,” ujarnya.

Manajer Less Moluccan Ambon, Robert Sounawe menyatakan, Kota Ambon dalam tahapan menuju kota musik dunia dan menuju visit Ambon 2020.

Ia mengatakan guna mewujudkan semua itu, jika lingkungan belum bersih maka akan ada pandangan lain dari orang luar yang datang ke kota ini.

“Kita berfikir untuk mewujudkan Ambon sebagai kota musik harus mendapat dukungan dari semua pihak, kita komunitas hip-hop sebagai penggerak dalam KKBK berupaya untuk menciptakan sesuatu yang berbeda,” katanya.

Komunitas, lanjutnya berupaya berfikir kreatif menciptakan peluang agar kegiatan KKBK yang saat ini memasuki 39 kali ajang berjalan terus tanpa menunggu dana dari pemerintah.

“Beberapa komunitas seperti musisi reggae telah mendapat dukungan dari pemerintah melalui aksi ngamen di beberapa titik yang ditetapkan Dinas Pariwisata Ambon. Musisi hip-hop melalui KKBK  sudah 39 kali menyelenggarakan ajang dan baru pertama kali mengeluarkan konsep Kalesang Kota,” katanya.

Program ini, kata Robert, akan dilaksanakan dua kali dalam satu bulan berjalan setiap hari jumat, dan malam hari akan dilakukan penampilan musisi hip-hop di Less Mollucans berkolaborasi dengan musikalisasi puisi dan komunitas DJ.

“Prinsipnya kita mendukung Ambon menjadi kota musik dan program Visit Ambon 2020. Acara live music yang dilakukan berupa panggung hiburan dengan konsep berbeda setiap minggunya,” katanya. 

Baca juga: Rekomendasi JKK UNESCO syarat Ambon kota Musik Dunia, ujar Direktur AMO

Baca juga: Ambon harus siapkan SDM untuk jadi kota musik

Baca juga: Pemkot siapkan regulasi wujudkan Ambon kota musik dunia

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gisel merasa jalani mimpi nyanyikan “Yang Kumau”

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Gisella Anastasia mengaku seakan mewujudkan mimpi ketika mendapatkan kesempatan untuk menyanyikan ulang lagu “Yang Kumau” sebagai latar musik film “Rumput Tetangga”.

Produser eksekutif “Rumput Tetangga” Fransen Susanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, mengatakan alasan pemilihan lagu “Yang Kumau” sebagai latar musik itu menyusul kesesuaian lirik dengan cerita film.

Dalam akun instagramnya yang diunggah pada Senin (18/3), Gisel mengaku tidak melepaskan kesempatan emas untuk menyanyikan ulang lagu yang populer dibawakan Krisdayanti pada 2000 itu.

Dalam aransemen ulang itu, Gisel mendapatkan dukungan langsung dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed sebagai penulis lirik “Yang Kumau”.

“Rasanya seperti mimpi mendapat kesempatan menyanyikan lagunya mba Yanti! Saya ‘ngefans’ dari dulu kala,” ujar penyanyi berusia 28 tahun itu tentang sosok Krisdayanti dan lagu yang dikaguminya.

Gisel menyadari risiko menyanyikan ulang lagu yang sudah pernah masyhur pada era-nya seperti “Yang Kumau” itu besar.

Baca juga: Dapat peran utama, Gisel mengaku masih perlu belajar

“Rumput Tetangga” menceritakan tokoh Kirana, ibu rumah tangga yang mengalami krisis kepercayaan diri tapi memendam ambisi sebagai wanita karir.

Kirana kerap mencurahkan isi hati pada sahabatnya semasa SMA, Diana. Saat SMA, Kirana adalah sosok populer di sekolah sehingga tidak ada yang menyangka Kirana memilih jadi ibu rumah tangga.

Saat menggelar reuni SMA, Diana mengatakan kepada semua teman-temanya bahwa Kirana merupakan konsultan hubungan masyarakat alih-alih mengatakan fakta sebenarnya.

Saat reuni, Kirana pun mendatangi stan peramal misterius. Secara mengejutkan pada hari berikutnya, dia terbangun di sebuah apartemen mewah.

Kirana mendapati dirinya menjalani kehidupan baru sebagai konsultan hubungan masyarakat yang menjadi mimpinya dan bukan sebagai ibu rumah tangga.

Film yang dibintangi oleh Titi Kamal, Raffi Ahmad, Donita, Gading Marten dan Tora Sudiro itu akan tayang pada 18 April mendatang.

Baca juga: Titi Kamal jatuh cinta skenario “Rumput Tetangga”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan tujuh tahun debut, BTOB janji selalu setia pada penggemar

Jakarta (ANTARA) – Boy group BTOB merayakan tujuh tahun debut mereka di industri musik K-pop dan mereka pun berjanji akan selalu bersama para penggemar hingga 70 tahun mendatang.

Tengah malam tadi waktu Korea, seperti dilansir Soompi, Kamis, agensi BTOB, Cube Entertainment mengunggah ucapan selamat pada grup asuhan mereka melalui laman Twitter mereka.

Rapper BTOB, Peniel me-retweet unggahan Cube. Dia lalu menuliskan, “Endless BTOB_7th Debut Anniversary_I love you in the past, present and future”, dan membuat Melody –nama penggemar BTOB– ikut memberi pesan dukungan untuk idola mereka.

Sementara itu, Hyunsik berbagi swafoto grup BTOB dengan personel lengkap di Instagram Story dan menuliskan “Aku merindukanmu”.

Saat ini, sang leader BTOB Eunkwang, Changsub dan Minhyuk tengah menjalani wajib militer, sementara Peniel, Sungjae, Ilhoon, dan Hyunsik fokus pada promo solo.

BTOB mengadakan pameran bertajuk “7 Years 7 Members With Melody” mulai 7 Maret hingga 24 Maret mendatang di Seouliteum, tempat para penggemar dapat menikmati konten yang belum pernah dirilis dari pra-debut, latihan, konser, dan banyak lagi lainnya.

BTOB juga akan merayakan hari jadi mereka bersama penggemar dalam siaran langsung berjudul “Remembering our spring day with Melody, let’s be together for 70 years” di V Live hari ini pukul 18.30 waktu Korea.

Baca juga: Ilhoon BTOB segera luncurkan single baru
Baca juga: Changsub BTOB mulai jalani 21 bulan wajib militer
Baca juga: Min-hyuk BTOB akan luncurkan album solo sebelum wamil

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Westlife konser reuni di Indonesia pada Agustus

Jakarta (ANTARA) – Westlife akan menggelar konser reuni pada 7 Agustus 2019 di ICE BSD, Tangerang, menandai kembalinya boyband legendaris yang vakum selama tujuh tahun sejak 2012.

Konser yang diselenggarakan Full Color Entertainment itu akan dinamai “Westlife – The Twenty Tour 2019”, menjadi salah satu bagian dalam perayaan 20 tahun Westlife berkarya, demikian keterangan resmi yang diterima Antara, Kamis.

“Westlife – The Twenty Tour 2019” akan dimulai di Belfast pada 25 Mei hingga 5 Juli 2019 di Dublin, Irlandia. Setelah itu dilanjutkan dengan tur Asia termasuk Indonesia.

Nantinya Shane Filam, Nicky Byrne, Mark Feehily dan Kian Egan akan membawakan lagu-lagu hits seperti “Swear It Again”, “If I Let You Go”, “Flying Without Wings”, “I Have a Dream”, “Seasons in the Sun”, “Fool Again”, “My Love”, “What Makes a Man”, “Uptown Girl”, “Mandy”, “You Raise Me Up” dan lainnya. Mereka juga akan menyanyikan lagu baru yang berjudul “Hello My Love”.

Westlife mengumumkan rencana reuni pada Oktober 2018 lalu. Kemudian mereka merilis single terbaru yang berjudul “Hello My Love” dan mendapat sambutan yang baik dari penggemarnya.

Westlife terakhir melakukan konser pada 23 Juni 2012 di Croke Park Dublin, Irlandia. Konser kali ini merupakan yang pertama sejak tujuh tahun silam.

Westlife berhasil menjual lebih dari 55 juta keping album di seluruh dunia, dan menjadi satu-satunya boyband yang memiliki tujuh single yang sukses menempati posisi puncak di tangga Lagu Inggris. Secara keseluruhan Westlife memiliki 14 single lagu nomor satu setelah Elvis Presley dan The Beatles.

Sebagai salah satu grup musik yang sukses, Westlife telah berhasil menjual 5 juta tiket konser di seluruh dunia, Westlife tercatat sebagai grup musik yang sering tampil di SSE Arena, Wembley.

Penjualan konser terbaik berskala stadion terbesarnya adalah saat konser di Croke Park Stadium yang memecahkan rekor penjualan tiket yang ludes terjual hanya dalam 5 menit saja. Westlife juga tercatat sebagai grup musik yang paling sering tampil di SSE Arena, Belfast.

Tiket konser “Westlife – The Twenty Tour” mulai tersedia pada 28 Maret 2019 di tiket.com dan secara offline di gerai Full Color Entertainment di Mall Taman Anggrek serta seluruh gerai Indomaret.

Baca juga: Westlife akan kembali, siapkan album baru dan tur dunia

Baca juga: Boyzlife bawa penonton kembali ke jaman Boyzone-Westlife

Baca juga: Brian ungkap awal mula bentuk Boyzlife

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan tujuh tahun debut, BTOB janji selalu setiap pada penggemar

Jakarta (ANTARA) – Boy group BTOB merayakan tujuh tahun debut mereka di industri musik K-pop dan mereka pun berjanji akan selalu bersama para penggemar hingga 70 tahun mendatang.

Tengah malam tadi waktu Korea, seperti dilansir Soompi, Kamis, agensi BTOB, Cube Entertainment mengunggah ucapan selamat pada grup asuhan mereka melalui laman Twitter mereka.

Rapper BTOB, Peniel me-retweet unggahan Cube. Dia lalu menuliskan, “Endless BTOB_7th Debut Anniversary_I love you in the past, present and future”, dan membuat Melody –nama penggemar BTOB– ikut memberi pesan dukungan untuk idola mereka.

Sementara itu, Hyunsik berbagi swafoto grup BTOB dengan personel lengkap di Instagram Story dan menuliskan “Aku merindukanmu”.

Saat ini, sang leader BTOB Eunkwang, Changsub dan Minhyuk tengah menjalani wajib militer, sementara Peniel, Sungjae, Ilhoon, dan Hyunsik fokus pada promo solo.

BTOB mengadakan pameran bertajuk “7 Years 7 Members With Melody” mulai 7 Maret hingga 24 Maret mendatang di Seouliteum, tempat para penggemar dapat menikmati konten yang belum pernah dirilis dari pra-debut, latihan, konser, dan banyak lagi lainnya.

BTOB juga akan merayakan hari jadi mereka bersama penggemar dalam siaran langsung berjudul “Remembering our spring day with Melody, let’s be together for 70 years” di V Live hari ini pukul 18.30 waktu Korea.

Baca juga: Ilhoon BTOB segera luncurkan single baru
Baca juga: Changsub BTOB mulai jalani 21 bulan wajib militer
Baca juga: Min-hyuk BTOB akan luncurkan album solo sebelum wamil

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Program “Indonesiana” di Ambon dievaluasi Kemendikbud

Kita patut bersyukur karena proposal yang diajukan terpilih sebagai calon peserta platform Indonesiana 2019

Ambon (ANTARA) – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengevaluasi perlaksanaan kegiatan Amboina Internasional Bamboo Music Festival tahun 2018 dalam platform Indonesiana.

Evaluasi pelaksanaan program dilakukan dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Ambon Music Office (AMO) dan komunitas musik di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Rabu.

Asisten I Pemkot Ambon Mintje Tupamahu mengatakan, Pemkot Ambon menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud dalam mendukung program Amboina Internasional Bamboo Music Festival (AIBMF) tahun 2018.

“Dukungan ini tidak hanya sampai di tahun 2018, tetapi terus berlanjut demi mewujudkan program besar Ambon menuju kota musik dunia di tahun 2019,” katanya.

Ia menjelaskan, Pemkot Ambon telah mengajukan proposal AIBMF dengan tema “Suling Bambu Menjadi Alat Perdamaian” guna memajukan kebudayaan di Provinsi Maluku.

“Kita patut bersyukur karena proposal yang diajukan terpilih sebagai calon peserta platform Indonesiana 2019,” ujarnya.

Perwakilan Dirjen kebudayaan akan melakukan pendampingan persiapan AIMBF, serta berkoordinasi untuk penguatan ekosistem kebudayaan, melalui perumusan konsep kegiatan dan anggaran.

“Saya berharap para musisi dapat memberikan masukan ide kreatif agar kegiatan ini mengalami peningaktan dibandingkan tahun lalu,” katanya.

Kepala Subdit Program, Evaluasi dan Dokumentasi, Direktur Kesenian Kemendikbud, Kuat Prihatin mengapresiasi kerja Pemerintah Kota Ambon dan Ambon Music Office dalam menggelar kegiatan AIMBF 2018.

Dukungan AMO katanya, menjadi penanda ekosistem kebudayaan di Ambon berjalan dengan baik, dan menjadi modal untuk melaksanakan program Indonesiana.

“Masukan dan dukungan dari komunitas musik dan budaya di Ambon merupakan hal yang penting untuk penyenggaraan kegiatan Indonesiana di tahun ini.” katanya.

Indonesiana merupakan platform pendukung kegiatan seni budaya di Indonesia yang bertujuan untuk membantu tata kelola kegiatan seni budaya yang berkelanjutan, berjejaring, dan berkembang.

Selain itu, Indonesiana dikerjakan dengan semangat gotong royong dan dengan melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan di Indonesia.

Ia mengatakan dengan disahkannya UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan muncul kebutuhan untuk menangani kegiatan budaya secara lebih sistematis.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kemendikbud merancang sebuah inisiatif baru, yaitu kegiatan pengembangan platform Indonesiana, sebuah struktur hubungan terpola antarpenyelenggara kegiatan budaya di Indonesia yang dibangun secara gotong-royong. 

Baca juga: Rekomendasi JKK UNESCO syarat Ambon kota Musik Dunia, ujar Direktur AMO

Baca juga: Ambon harus siapkan SDM untuk jadi kota musik

Baca juga: IAIN Ambon akan buka prodi musik Islami

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Maher Zain dan Opick galang dana untuk korban bencana

Maher tamu, dia akan menyanyi, melelang nyanyian

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi asal Swedia Maher Zain bersama Opick dan Indah Dewi Pertiwi menggalang dana untuk korban bencana di beberapa wilayah Indonesia, melalui sebuah acara malam amal yang digelar Selasa ini di kompleks gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta.

Dalam acara bertajuk “Malam Amal Kemanusiaan Melayani Negeri Sepenuh Hati” yang digagas Lembaga Amil, Zakat, Infak dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) dan lembaga kemanusiaan Salam Charity itu, Maher dan rekan-rekan akan membawakan sejumlah lagu sesuai permintaan donatur yang hadir.

“Rencana malam ini selain memberikan sosialisasi (masalah bencana) yang merupakan masalah yang masih berat, masih banyak orang di pengungsian. Siapa pun yang datang, membayar kami sebut berdonasi. Maher tamu, dia akan menyanyi, melelang nyanyian,” kata CEO DNA Production, Rina Novita, selaku salah satu penyelenggara acara di Jakarta, Selasa.

Rina mengatakan Maher juga akan melelang topi dan beberapa koleksi barang pribadinya untuk kegiatan amal ini.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama Lazismu, Hilman Latief, berharap kegiatan ini bisa mengumpulkan total donasi Rp22,5 miliar. Dana ini nantinya akan diberikan pada penerima manfaat di delapan lokasi se-Indonesia yakni Lombok, Donggala, Sigi, Palu, Lampung Selatan, dan Serang.

Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk pembangunan 2000 hunian sementara tahan gempa yang dilengkapi toilet komunal dan sumur bor, serta 50 paket kelas baru di wilayah terkena bencana.

“Ada sekitar 100 mitra Lazismu dan publik yang kami undang dengan total peserta 700 orang, kami targetkan,” kata dia.

Baca juga: Album Maher Zain raih double platinum di Indonesia
Baca juga: Maher Zain sukses buat penggemar lebih hangat

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Album Maher Zain raih double platinum di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Album “ONE” milik penyanyi sekaligus produser musik asal Swedia, Maher Zain, meraih sertifikasi double platinum di Indonesia karena sukses dalam penjualan.

“Dari berbagai penjualan digital dan fisik, waktu 2017 masih ada CD-nya. Semua penjualan itu disatukan. Berdasarkan ketetapan Asosiasi Musik Indonesia, kami menghitung 1 platinum Rp1 miliar, ini double platinum di atas Rp 2 miliar,” ujar Managing Director Universal Musik Indonesia Wisnu Surjono dalam konferensi pers di Jakarta.

Dia tak merinci jumlah penjualan digital baik unduhan maupun streaming yang sudah Maher Zain raih melalui album yang dirilis pada 6 Juni 2016 itu.

Dalam kesempatan itu, Maher mengaku bersyukur atas pencapaian ini. Kendati memang tujuan utamanya memproduksi lagu adalah memberi inspirasi untuk orang lain.

“Alhamdulillah atas pencapaian ini. Namun yang lebih penting adalah pesan (dalam lagu-lagu) dan bisa memberi inspirasi pada orang lain. Saya bersyukur atas kesuksesan yang diberikan Allah,” kata dia.

Album “ONE” memiliki sejumlah lagu hits seperti “The Power”, “Medina” dan “Peace Be Upon You” yang juga tersedia dalam bahasa Indonesia dan dirilis pada Mei 2017.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengintip penampilan “The Beatles” Asia Tenggara

(Antara)-  G-Pluck adalah satu dari sedikit band Indonesia yang paling setia memainkan musik The Beatles sejak sembilan belas tahun lalu hingga detik ini. Keunikan band ini adalah kesamaan dengan The Beatles. G-Pluck memiliki perhatian tinggi terhadap detail aransemen, sound, instrument, hingga fashion dari The Beatles.  Prestasi tertinggi band ini adalah ketika tampil di International Beatleweek Festival 2008 di Liverpool, Inggris. Tahun ini G-Pluck juga diundang untuk tampil di festival yang sama sebagai perwakilan dari Asia Tenggara.

The Rain siapkan lagu “nyentrik” saat Ramadhan

Jakarta (ANTARA) – Grup musik The Rain tengah menyiapkan lagu yang diklaim bernuansa “nyentrik” untuk diluncurkan pada Ramadan.

“Saat ini, proses produksinya sudah mencapai 50 persen. Lagu itu bukan lagu religi karena kami belum pantas membuat lirik religi,” ujar vokalis The Rain Indra Prasta saat dijumpai di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/3).

Indra menjelaskan karya terbaru grup musik asal Yogyakarta itu akan berbeda dari sebelumnya. Lagu terbaru The Rain punya tempo yang lebih cepat dan  alat musik ukulele akan mewarnai lagu itu.

Bukan hanya karakter “nyentrik” dari sisi aransemen musik, komposisi lirik lagu itu juga disampaikan dengan bahasa yang lugas.

Karya The Rain yang dikenal melankolis akan berganti lebih “up beat” dengan petikan senar ukulele yang memberikan nuansa riang.

“Kami tidak mau mengandalkan lagu ‘Terlatih Patah Hati’ dan ‘Gagal Bersembunyi’ dalam setiap tur yang kami jalani. Kami senang dengan lagu itu, tapi harus ada karya baru,” katanya.

Indra mengatakan lagu baru The Rain memberikan motivasi kepada penggemarnya untuk terus menggapai harapan walau harus melewati hidup yang getir.

Produksi lagu baru The Rain sejak Januari 2019 itu, menurut Indra, bukan hal mudah menyusul kesibukan para personel lain seperti Aang Anggoro (drum), Ipul Bahri (bass) dan Iwan Tanda (gitar dan vokal).

Indra pun harus mencuri waktu di tengah-tengah kesibukannya sebagai penyiar radio swasta di Jakarta untuk merekam lagu.

“Bukan saya saja yang sibuk, personel lain juga harus membagi waktu. Kami menggarap materi lagu dengan laptop dalam perjalanan. Materi lagu itu dicicil sedikit-sedikit karena semuanya sibuk,” katanya.

Namun pada Januari 2019, seluruh personel telah sepakat untuk beralih dari kesibukan masing-masing dan fokus pada penggarapan lagu mereka itu.

“Jadwal manggung The Rain memang jalan terus dan ada saja sponsornya. Kami senang, tapi di sisi lain kami juga kerepotan mengurus jadwal,” katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pierre Fitz gandeng tiga komponis dalam “T’lah Berubah”

Jakarta (ANTARA) – Pierre Fitz memulai langkah dalam industri musik Indonesia dengan single “T’lah Berubah” yang berkolaborasi dengan tiga komponis.

“Aku udah dengar karya tiga komponis itu. Aku kaget dengan lagu mereka karena punya selera yang sesuai. Lagu mereka ada unsur musik Indonesia dan non-Indonesia,” kata Pierre pada jumpa pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/3).

Tiga komponis yang dimaksud Pierre itu adalah Bemby Noor, Tengku Syafiq, dan Mario Kacang. Mereka berperan sebagai pencipta dan aransemen lagu.

Bemby yang pernah menciptakan lagu untuk penyanyi Afgan, Rossa, dan Maudy Ayunda, mengatakan proses pembuatan lagu Pierre itu spesial.

“Lagu Pierre itu sesuai apa yang di-inginkan. Ada tema cerita yang ingin disampaikan dalam lagu itu. Saya juga sudah mendengar lagu yang dia buat di Amerika Serikat,” kata Bemby.

Pierre yang pernah bersekolah musik di Marymount California University, Los Angeles, AS juga mengatakan keputusannya untuk berkarir sebagai penyanyi di Indonesia merupakan sebuah langkah besar. Keputusan itu menyusul kehadiran keluarganya yang juga tinggal di Indonesia.

“Karena keluarga aku di sini. Aku butuh dukungan mereka dalam proses ini,” tutur pria yang menyukai musik pop era 1980-an hingga 1990-an itu.

Selain tiga komponis itu, Pierre juga menggaet produser Maya Naratama, yang sebelumnya menjadi produser dan pendiri Acha Productions di kota New York.

Lagu “T’lah Berubah” merupakan lagu yang diciptakan berdasarkan pengalaman Pierre. Lagu itu bercerita tentang orang yang punya kesempatan baru dan terlepas dari kesalahannya pada masa lalu.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/)

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BLACKPINK akan rilis mini album akhir Maret

Jakarta (ANTARA) – BLACKPINK akan kembali pada akhir bulan ini dengan menghadirkan mini album.

Ini merupakan comeback pertama BLACKPINK setelah sembilan bulan sejak merilis “DDU-DU DDU-DU”. Girlband asal Korea Selatan tersebut juga telah melakukan syuting video musik untuk single terbarunya.

“Meskipun kami belum dapat mengungkapkan tanggal kembali yang tepat, memang benar bahwa kami sedang syuting video musik untuk lagu baru minggu ini,” tulis seorang sumber dari YG Entertainment dilansir Soompi, Senin.

Produser rekaman asal Korea Selatan Yang Hyun Suk, pernah mengungkap bahwa proyek girlband itu akan berupa mini album.

“Mereka akan kembali dengan mini album yang memiliki banyak lagu baru. Saya pikir orang-orang akan sangat senang,” ujar Yang Hyun Suk.

Setelah merilis debut comeback, mereka akan tampil di Coachella pada April, kemudian memulai tur Amerika Utara pertamanya pada 17 April di Los Angeles.

Baca juga: Rekor, “Ddu-Du DDu-Du” Blackpink dapat 700 juta view di YouTube

Baca juga: Seventeen dan Blackpink akan tampil di Summer Sonic Jepang

Baca juga: Aktor Joo Won selesai wamil di hari Imlek

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minho SHINee akan hadirkan lagu solo perdana

Jakarta (ANTARA) – Choi Minho, rapper boy group SHINee akan meluncurkan lagu solo pertamanya, “I’m Home” melalui channel musik digital SM STATION, ungkap pihak SM Entertainment, melalui laman Instagram SM TOWN STATION, Senin.

Lagu “I’m Home” rencananya hadir ke tengah para penikmat musik K-pop pada 28 Maret 2019 pukul 18.00 waktu Korea.

Sebelumnya, seperti dilansir Soompi, Minho telah mendaftarkan diri di Korps Marinir Korea pada akhir Januari 2019. Minho lulus pada tes seleksi pertama.

“Benar Minho SHINee mendaftar di Korps Marinir. Dia kini menanti hasilnya, ” kata pihak SM Entertainment.

Jika lolos pada tahan seleksi terakhir, dia akan menjalani wajib militer di sana sekitar bulan April mendatang.

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dua Lipa tampil kembali di Indonesia akhir Maret

Jakarta (ANTARA) – Setelah konser pada 2017, pop star Inggris Dua Lipa akan kembali ke Indonesia pada acara “Super Party” yang digelar Lazada pada 26 Maret mendatang di ICE, BSD Tangerang.

Chief Marketing Officer Lazada Indonesia, Monika Rudijono di Jakarta pada Senin mengatakan bahwa melalui “Super Party” itu, konsumen Lazada bisa menonton Dua Lipa di ICE, BSD, pada 26 Maret 2019 pada puku 20.00-22.00 WIB.

Dalam kesempatan itu, Head of Traffic Lazada Indonesia, Haikal Bekti Anggoro mengatakan Dua Lipa mewakili para konsumen Lazada yang muda dan trendi.

Dia juga tak menampik sederet prestasi seperti Grammy Awards 2019 dan iHeart Music Awards 2019 juga menjadi alasan mengundang penyanyi asal Inggris itu.

“Siapa sih shopper-nya Lazada, biasanya yang baru awal bekerja, lulus kuliah, mereka punya aspirasi icon yang muda tapi trendi, musiknya juga bagus, berprestasi baru menang Grammy Awards, ya Dua Lipa. Makanya kami ajak Dua Lipa ke Indonesia. Dia figur yang kami rasa reprsentatif merepresentasikan siapa audience Lazada,” kata Haikal.

Baca juga: Dua Lipa dan Anne-Marie borong nominasi BRIT 2019 Award

Tak hanya Dua Lipa, dalam acara yang rencananya berlangsung selama dua jam itu, akan menghadirkan Agnez Mo, Nadine Lustre dari Filipina, Sam Conception dan Dong Nhi dari Vietnam.

Acara yang merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke tujuh Lazada itu nantinya bisa disiarkan secara live di aplikasi Lazada dan dapat disaksikan secara bersamaan di lima negara lainnya yakni Singapura, Malaysia, Filipina, Vietnam dan Thailand.

Untuk mendapatkan tiket, Anda hanya perlu mengikuti media sosial Lazada dan ikut serta dalam games yang tersedia.

“Follow media sosial Lazada. Ada games setiap hari dari situ dan bisa memenangkan tiket Dua Lipa. Tiket tidak dijual,” tutur Monika.

Baca juga: Dua Lipa kolaborasi dengan BLACKPINK di album baru

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ikmal Tobing bangga bisa menjadi juri lomba drum

Kita mempunyai banyak drumer baru yang patut untuk dibanggakan.

Depok (ANTARA) – Drummer grup band drummer dari T.R.I.A.D dan Mahadewa Ikmal Tobing bangga bisa menjadi juri dalam lomba menabuh drum secara ‘online’ karena kemampuan peserta rata-rata sangat mumpuni dalam menggebuk drum tersebut.

“Ada 185 drumer yang mengikuti lomba ini, bahkan ada yang berusia 10-12 tahun namun kemampuannya luar biasa,” kata Ikmal usai tampil 33 Cafe Shop and Resto Tanah Baru Kota Depok Jawa Barat, Sabtu (16/3).

Putra drummer kenamaan Indonesia Jelly Tobing itu mengakui kemampuan para peserta yang menjadi juara 2 dari Yogyakarta seperti melebihi drummer-drummer profesional.

“Kita mempunyai banyak drumer baru yang patut untuk dibanggakan,” katanya.

Bermain drum, lanjut Ikmal harus bisa mengatur tempo agar sebuah lagu menjadi enak untuk didengar dan dinikmati.

“Bermain drum itu tak perlu keras tapi cukup kedengaran bagaimana mengatur beat dan tone nya saja,” ujarnya.

Untuk itu Ikmal berharap para drumer baru bisa terus belajar sehingga mempunyai jam terbang tinggi sehingga nantinya bisa berkiprah lebih tinggi baik di kancah nasional maupun internasional.

“Ayah saya (Jelly Tobing) mengajari untuk menghormati drumer-drumer lainnya yang usia lebih tua walaupun mereka hanya bermain cafe-cafe. Kalau bertemu harus tetap hormat dan cium tangan dengan mereka,” jelasnya.

Sementara itu drumer kenamaan Indonesia Jelly Tobing menilai bakat generasi milenial dalam menabuh drum sangat luar biasa, sehingga diharapkan bisa bersaing dengan drumer-drumer kelas dunia.

“Saya lega dan bangga generasi milenial ini membuktikan Indonesia mempunyai potensi melahirkan drumer-drumer kelas dunia,” kata Jelly Tobing.

Menurut dia kemampuan generasi milenial dalam menabuh drum di berbagai daerah ini hampir merata semuanya. Apalagi mereka sekarang ini dengan mudah mempelajari teknik-teknik bermain drum yang baik dari media sosial.

“Sekarang ini mereka tinggal membuka Youtube bisa mencari apa saja pelajaran tentang cara bermain drum dengan mudah. Lain dengan zaman saya dulu yang hanya mengandalkan piringan hitam,” katanya.

Lewat Youtube lanjut Jelly mereka bisa merekam aksinya bermain drum dan membaginya nya ke publik untuk mendapat tanggapan masyarakat. “Kalau memang bagus nitizen tentunya memberikan apresiasi,” ujarnya.

Baca juga: Jelly Tobing: Indonesia punya potensi lahirkan drumer kelas dunia

Baca juga: Ikmal Tobing ingin pecahkan rekor main drum

Baca juga: Dewa 19 Vakum, Lahir Mahadewa
 

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jelly Tobing: Indonesia punya potensi lahirkan drumer kelas dunia

Depok (ANTARA) – Drumer kenamaan Indonesia Jelly Tobing memuji kemampuan generasi milenial memainkan drum, yang menurutnya luar biasa dan patut dibanggakan.

“Saya lega dan bangga generasi milenial ini membuktikan Indonesia mempunyai potensi melahirkan drumer-drumer kelas dunia,” kata Jelly Tobing ketika tampil di 33 Cafe Shop and Resto, Tanah Baru, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu malam (16/3).

Menurut dia, kecakapan generasi milenial dalam menabuh drum hampir merata di berbagai daerah. Apalagi, sekarang mereka dengan mudah mempelajari teknik-teknik bermain drum dari media sosial.

“Sekarang ini mereka tinggal membuka YouTube bisa mencari apa saja pelajaran tentang cara bermain drum dengan mudah. Lain dengan zaman saya dulu yang hanya mengandalkan piringan hitam,” katanya.

Mereka pun bisa merekam aksinya bermain drum dan mengunggahnya di YouTube atau platform media sosial lainnya.

“Kalau memang bagus netizen tentunya memberikan apresiasi,” ujarnya.

Pemegang rekor penggebuk drum selama 10 jam nonstop itu pun berharap para generasi milenial terus belajar dan berlatih.

“Teruslah berkarya dan berlatih agar tetap bisa menampilkan yang terbaik, karena sekarang ini kekuatan grup ada pada drum,” katanya.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Prambanan Jazz tahun ini hadirkan Panggung Milenial

Jakarta (ANTARA) – Jazz tidak lagi identik dengan generasi lama, dan oleh karenanya pada Prambanan Jazz Festival tahun ini yang akan digelar pada 5-7 Juli mendatang, penyelenggara akan menghadirkan Panggung Milenial, sajian musik dari generasi milenial dan untuk generasi milenial.

Pada edisi kelima ini, Prambanan Jazz Festival dipromotori oleh Rajawali Indonesia dan PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan & Ratu Boko (TWC). CEO Rajawali Indonesia Anas Syahrul Alimi mengatakan akan ada banyak kejutan istimewa untuk pecinta musik Indonesia dan mancanegara di Prambanan Jazz yang digelar di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, ini.

“Ini adalah momen yang sangat istimewa bagi para generasi milenial. Selain bisa menikmati keindahan Candi Prambanan, mereka bisa hangout di area festival sambil menikmati musik dari para musisi yang mewakili generasinya. Panggung Milenial sendiri akan digelar pada hari pertama penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival 2019,” kata Anas, dalam siaran pers yang diterima Antara, Sabtu.

Musisi internasional yang akan tampil di Panggung Milenial antara lain Calum Scott. Sedangkan artis lokalnya adalah Tashoora, GAC, Sisitipsi, Abby Galabby, Danilla Riyadi, Calvin Jeremy, Yura Yunita, Ardhito Pramono dan beberapa nama besar lainnya.

Dalam festival kali ini, beberapa nama besar yang akan tampil antara lain Yanni, Brian McKnight, Arturo Sandoval, Anggun C Sasmi, Jogja Hip Hop Foundation Jazz Version, Maliq D’Essentials, Rida Sita Dewi, Saxx In The City, Pusakata, Yovie & His Friends (Mario Ginanjar, Dudy Oris, Arsy Widianto, Brisia Jodie, 5 Romeo), Andien, Glenn Fredly, Tulus, Bali Lounge (Tompi, Lewis Pragasam, Rick Smith, Hari Toledo & Yongki), Ari Lasso dan lainnya.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Prambanan Jazz akan menggunakan dua panggung, yaitu Rorojonggrang Stage untuk pertunjukan spesial dan Hanoman Stage untuk festival.

“Menurut saya ini adalah momen yang sangat langka dan fenomenal. Sangat disayangkan jika tahun ini tidak hadir untuk menyaksikan Prambanan Jazz,” kata Anas.

Tiket Prambanan Jazz mulai bisa didapatkan mulai 1 April 2019. Terdapat variasi harga untuk tiket Prambanan Jazz yakni Hari Pertama Daily Pass Rp250 ribu, Hari Kedua; Diamond Rp6 juta, Platinum Rp3 juta, Gold Rp2 juta, Silver Rp1 juta, Hari Ketiga; Diamond Rp3,5 juta, Platinum Rp2,5 juta, Gold Rp1,5 juta dan Silver Rp750 ribu.

Baca juga: Manajemen waktu jadi perhatian Prambanan Jazz 2018

Baca juga: KahitRAN, Boyzone dan Diana Krall hadir di Prambanan Jazz 2018

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Metallica siapkan album baru, akan dirilis lebih cepat

Jakarta (ANTARA) – Pemain bass Metallica, Robert Trujillo, menyatakan band musik cadas itu tengah menyiapkan materi album baru yang menurut rencana akan dirilis lebih cepat ketimbang dua album sebelumnya.

Sebelumnya, fans band metal itu harus menunggu sampai lima tahun untuk menikmati album “Death Magnetic” pada 2008, kemudian menanti hingga sewindu untuk album “”Hardwired… To Self-Destruct” yang meluncur pada 2016.

Trujillo mengatakan bahwa band asal California yang terbentuk pada 1981 itu sudah mulai menyiapkan materi untuk album baru.

“Itu akan datang jauh lebih cepat daripada dua album sebelumnya… Kali ini saya pikir kami akan dapat melompat lebih cepat, ke studio dan mulai bekerja,” Trujillo dalam Podcast Music yang dilansir NME, Sabtu.

Baca juga: Korn ajak basis 12 tahun anak anggota Metallica ikut tur

Trujillo menjelaskan bahwa dua album sebelumnya dikerjakan dengan cara yang berbeda. “Death Magnetic” dibuat berdasarkan hasil kolaborasi seluruh anggota band, sedangkan “Hardwired” bersumber dari ide-ide vokalis dan gitaris Metallica James Hetfield.

Metallica biasanya menuangkan ide pada tempat khusus yang disebut “Tuning Room”. Seluruh gagasan yang dihasilkan akan dicatat dan direkam oleh tim, kemudian dikumpulkan hingga menjadi sebuah album.

“Kami punya zona yang disebut ‘The Tuning Room’, sebagai ruang untuk kami bermain bersama dan melakukan pemanasan sebelum pertunjukan,” kata Trujillo.

“Kami akan selalu datang dengan ide dan Anda bisa mendapatkan ide dalam beberapa detik yang semuanya selalu dicatat. Dan tentu saja saat di rumah, semua orang juga punya ide,” kata Trujillo.

Trujillo yang pernah bekerja sama dengan musisi heavy metal Ozzy Osbourne menyatakan bahwa album baru Metallica adalah puncak dari dua album sebelumnya.

“Kami sudah bersumpah untuk melakukannya lebih cepat. Sekarang, seberapa cepat? Saya tidak tahu. Kami tur tanpa henti. Sudah lebih dari dua tahun. Pada titik tertentu, tentu saja, kami perlu istirahat sebentar,” katanya.

Ia menimpali, “Ini semacam hal yang tepat bagi kami karena kami sudah berusaha sangat keras.”

Baca juga: Metallica raih hadiah Musik Polar 2018

Baca juga: Gitaris Metallica ikut main film biopik Ted Bundy

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rhoma Irama duet bareng Cowboys

Musisi dangdut Rhoma Irama (kiri) dan Soneta tampil bersama group dangdut asal Amerika ‘Dangdut Cowboys’ pimpinan Andrew Weintraub (kedua kiri) saat Konser Dangdut Mendunia di stasiun televisi Indosiar Jakarta, Jumat (15/03/19). Grup dangdut asal Pittsburgh Pennsylvania Amerika mengadakan tour ke Indonesia dalam rangka merayakan 70 tahun kemitraan Indonesia-AS, dan akan tampil di berbagi kota, diantaranya Probolinggo, Medan dan Jakarta. ANTARA FOTO/Zarqoni Maksum/pras.

Slank gelar konser #barengjokowi di GBK

Jakarta (ANTARA) – Slank bersama lebih dari 100 musisi akan membuat konser #barengjokowi pada 13 April 2019 di GBK, Jakarta. Konser ini merupakan bentuk dukungan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin.

Pada tahun 2014, Slank dan puluhan musisi menggelar konser “Salam Dua Jari” untuk mendukung Jokowi dan Jusuf Kalla di GBK. Konser yang digarap oleh Jay Subiyakto ini sangat besar dan mendatangkan banyak pendukung.

Kini, Slank bersama ratusan seniman akan kembali mengulang konser tersebut namun dengan konsep yang berbeda.

“Harusnya lebih besar, bentuknya seperti apa lihat saja. Karena Slank males mengulang sesuatu yang udah ada,” ujar Abdee dalam jumpa pers di Markas Slank, Jakarta, Jumat.

Bimbim mengatakan jika lagu #barengjokowi yang dinyanyikan oleh para seniman akan dikumandangkan di sana. Jokowi pun akan hadir dalam konser tersebut.

“Itu kayak pamungkasnya. Banyak musisi yang akan hadir dan pak Jokowi juga hadir. Pak Jokowi kampanye, kita main band. Kita kan mendukung dia aja, kita enggak kampanye,” kata Bimbim.

Baca juga: Sabtu, konser “Salam 2 Jari” di Gelora Bung Karno

Baca juga: “Konser Salam 2 Jari” keinginan seniman kembalikan persatuan

Baca juga: Surat terbuka relawan Salam 2 Jari untuk Presiden

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Slank luncurkan video klip #BARENGJOKOWI

Personel grup band Slank, Bimbim (kedua kanan) dan Ivanka (kanan) berjoget saat pemutaran video klip bertajuk #BARENGJOKOWI di markas Slank, Gang Potlot, Jakarta, Jumat (15/3/2019). Slank meluncurkan video klip #BARENGJOKOWI yang berkolaborasi dengan 100 seniman, influencer, olahragawan dan budayawan yang memiliki kesatuan hati untuk Indonesia. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Slank dan 100 artis rilis video klip #barengjokowi

Slank dan para seniman meluncurkan video klip #barengjokowi di Markas Slank, Jakarta, Jumat (14/3/2019) (ANTARA News/Maria Cicilia Galuh)

Jakarta (ANTARA) – Slank meluncurkan video klip #barengjokowi bersama 100 seniman, influencer, olahragawan serta budayawan sebagai bentuk selebrasi dan dukungan kepada calon presiden Joko Widodo.

“Lagu itu adalah ajakan moral, mendukung lewat cara kami yaitu musik dan lirik. Ajakan moral itu untuk melupakan keributan. Kami ingin menjaga beliau agar tetap amanah. Lagunya sendiri gue yang bikin,” kata Bimbim dalam jumpa pers di Markas Slank Duren Tiga, Jakarta, Jumat.

Grup musik yang terdiri dari Bimbim, Kaka, Ivan dan Ridho itu mengatakan lagu #barengjokowi sebenarnya dibuat untuk mengajak masyarakat membuat perbedaan, menghapus permusuhan, dan rasa saling curiga.

Para seniman, influencer, olahragawan dan budayawan yang terlibat dalam video itu antara lain  Addie MS, Cathy Sharon, Christine Hakim, Ida Royani, Desta, Inul Daratista, Iis Dahlia, Oppie Andaresta, Nia Dinata, Once Mekel, Prita Laura, Tompi, Glenn Fredly, Butet Kertarajasa dan lainnya.

“Kami tidak mendaftar teman-teman penyanyi siapa yang mau ikut dari jauh-jauh hari, tapi baru empat hari yang lalu. Kami sebarkan info siapa yang mau ikut, datang, dan langsung rekaman selama empat hari. Kami menolak teman-teman yang nyaleg, karena kami khawatir nanti tidak murni,” ujar vokalis Slank Kaka.

Kaka menambahkan pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan peluncuran video klip #barengjokowi itu tidak mendapatkan upah atau bayaran.

Grup musik berusia 35 tahun itu juga akan membawakan lagu itu dalam konser akbar di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta pada 13 April 2019 dengan sejumlah musisi yang terlibat di dalamnya.
 

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Djaduk Ferianto Tantang Mahasiswa ISI Denpasar Lebih Berani Berekspresi dalam Bermusik

Denpasar (ANTARA) – Aktor sekaligus maestro musik Djaduk Ferianto menantang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk lebih berani berekspresi dalam bermusik dan jangan takut dianggap merusak tradisi.

“Generasi milenial memang sedang menciptakan tradisi baru, tetapi sumbernya dari yang lama, dalam konteksnya interpretasi baru. Itu sah dan boleh, ‘nggak ada larangan,” kata Djaduk, saat menjadi pemateri dalam Workshop Musik Hybrid, di Kampus ISI Denpasar, Rabu.

Yang terpenting menurut Djaduk, dalam berekspresi lewat musik agar tetap cinta pada tradisi masing-masing. Hal ini sesuai dengan hakikat musik hybrid yang mengandung “pencangkokan-pencangkokan” secara kebudayaan.

“Kesenian kita, apalagi ngomong Indonesia, Indonesia itu sangat hybrid. Indonesia itu bukan orang Jawa saja, bukan orang Sumatera saja, bukan orang Bali saja, tetapi semuanya memberikan percampuran, percampuran ini yang menjadikan Indonesia. Dalam konteks musik hybrid sebenarnya ada pencangkokan-pencangkokan secara kebudayaan,” ujarnya pada acara yang diselenggarakan oleh Prodi Musik ISI Denpasar itu pula.

Dalam musik tradisi Bali pun, lanjut Djaduk, sebenarnya sudah melakukan model-model “hybrid” atau pencampuran contohnya perkembangan gamelan gong gede, gong kebyar, semarandana, dan sebagainya.

“Jadi, bukan hal yang baru sebenarnya. Adik-adik mahasiswa jangan takut kalau dianggap sedang merusak tradisi, tetap ada proses pertumbuhan atau regenerasi karena anak-anak muda harus menciptakan tradisinya,” ujarnya lagi.

Djaduk sependapat musik yang lama tetap dipelajari, dipertahankan, dan tetap terpelihara, namun yang baru tetap harus muncul.

“Ini karena rumusan dalam kebudayaan itu ada yang hilang dan ada yang tumbuh. Tradisi jangan mandek dan harus terus berkembang. Intinya, generasi milenial harus punya keberanian untuk mencoba keluar dari satu pola yang sudah mainstream,” kata pemusik kelahiran Yogyakarta itu pula.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga SSn MHum mengatakan dengan kehadiran pemusik kenamaan Djaduk Ferianto ke kampus setempat, diharapkan mahasiswa dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya yang nantinya dapat bermanfaat dalam menggarap dan memberdayakan kebudayaan yang dimiliki agar lebih maju.

Apalagi hal tersebut sejalan dengan visi ISI Denpasar untuk menjadi pusat unggulan seni yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal.

“Terobosan secara akademis harus terus kita bangun, harus dimotivasi agar produk dari karya cipta bisa menelurkan yang baru dan berbeda dari karya sebelumnya,” ujar Sudirga, didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama SE MM.

Ketua Panitia Acara Workshop I Komang Darmayuda SSn MSi mengatakan kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Musik ISI Denpasar karena Komposisi Musik Hybrid juga merupakan salah satu mata kuliah di kampus setempat.

Usai mengikuti workshop yang diselenggarakan selama dua hari, 13-14 Maret, para peserta akan mempertunjukkan karya mereka pada 15 Maret mendatang.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Piringan hitam yang tak lekang zaman

Jakarta (ANTARA) – Perkembangan era digital membawa banyak perubahan, bukan saja dari sisi teknologi, tapi juga berdampak pada industri musik di Indonesia.

Saat ini, penikmat musik begitu mudah mendengarkan lagu, cukup mengunduh aplikasi melalui smartphone kemudian memilih tembang yang ingin didengar. Padahal, sebelum adanya streaming musik online, masyarakat yang mau menikmati musik harus memiliki compact disc (CD), kaset pita, hingga vinyl atau piringan hitam.

Namun, tidak semua kalangan gemar menikmati musik secara online. Ada juga kalangan yang justru mengoleksi piringan hitam dengan sejumlah kelebihan yang ditawarkan.

Piringan hitam pun mengalami titik balik, setelah mengalami masa surut imbas teknologi digital industri musik.

Dengan kualitas suara yang hampir menyerupai data mentah, piringan hitam ini kembali diminati oleh dunia rekaman. Untuk mendengarkan rekaman piringan hitam tentunya wajib memiliki turn table, phono amplifier dan speaker.

Masing-masing ukuran piringan memiliki nilai putaran per menit (rpm) yang berbeda. Ukuran 12 inci diputar dengan kecepatan 33 rpm dan 7 inci diputar dengan kecepatan 45 rpm.

Tidak sulit mencari piringan hitam karena banyak toko musik yang mulai menjajakannnya. Tempat tujuan untuk mencari piringan hitam di Jakarta adalah Blok M Plaza, salah satunya adalah Paperpot Record.

Handika Fardi (30), pemilik Paperpot sekaligus kolektor piringan hitam mengatakan minat masyarakat terhadap piringan hitam masih tinggi.

Dia menyatakan, banyak masyarakat yang datang untuk membeli piringan hitam, bahkan pembelinya tidak menyasar kalangan lansia melainkan kaum milenial.

“Sekarang semakin banyak orang datang, dari SMP sampai yang usia 50an tahun, makin banyak pelaku seriusnya,” kata Fardi.

Fardi menceritakan piringan hitam yang ia jual selain berasal dari koleksi pribadi, juga berasal dari para kolektor yang datang menjual koleksinya. Tidak jarang, ia juga berkeliling dari rumah ke rumah kolektor untuk mendapatkan barang koleksi itu.

“Kecintaan saya sama piringan hitam, karena ada dua seni yang bisa saya nikmati, saya bisa nikmati lagunya dan covernya dan juga piringan hitam lebih awet,” kata Fardi.

Harga piringan hitam yang menjadi bisnis Fardi pun bervariasi, sesuai dengan tipe piringan hitam dan kelangkaannya, artis atau band hingga genre lagunya. Susana Paperpot di Paperpot Record, di Blok M Plaza, Jakarta, Kamis (14/3) (ANTARA News/Galih P)

Di Paperpot menjual semua jenis genre dari dalam dan luar negeri, untuk piringan hitam termurah dengan harga Rp75 ribu hingga termahal Rp2 juta, salah satunya band The Beatles album “Abbey Road” yang dibanderol dengan harga Rp600 ribu.

Salah satu pecinta piringan hitam, Rendra (27), mengatakan tidak ada patokan harga piringan hitam, karena yang menentukan adalah pola pendekatan dan komunikasi antara pedagang sehingga terjadi kesepakatan harga.

“Ketika di Yogyakarta saya mencari piringan hitam dari rumah ke rumah, sambil melakukan pendekatan secara pribadi kepada pedagang,” kata Rendra.

Rendra menceritakan sudah memiliki 1.000 keping piringan hitam, yang dikumpulkan dari berbagai tempat.

“Cari di loakan daerah Jawa Barat, Jawa Tenggah dan Yogya, ngobrol-ngobrol sama pedagangnya sampai di rumah pedagangnya, dapat piringan hitam dari koleksi pribadinya,” kata dia.

“Kualitas yang baik mendorong pendengar memilih untuk mendengarkan piringan hitam, harga enggak masalah,” kata Rendra.

Piringan hitam memberikan kepuasan tersendiri bagi para penggemarnya. Hasil suara yang jernih bisa menjadi nilai tambahan tersendiri yang dimiliki piringan hitam.

Hal itu berbeda dengan musik digital yang ter-compress sedemikian rupa untuk kebutuhan ukuran file sehingga mengurangi kualitas suara.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Galih P)
 

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Galih P
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yovie Widianto janji nyanyi jika streaming Kahitna capai satu juta

Jakarta (ANTARA) – Yovie Widianto berjanji akan menyanyi jika streaming single terbaru Kahitna “Seribu Bulan Sejuta Malam” mencapai angka satu juta.

Selama ini Yovie hanya berada di balik piano dan menciptakan lagu-lagu hits Kahitna. Para penggemarnya pun banyak yang penasaran dengan suara Yovie saat bernyanyi.

Saat tampil di berbagai pertunjukan, tidak sedikit yang memintanya untuk bernyanyi. Bahkan para vokalis Kahitna, Hedi Yunus, Mario Ginanjar dan Carlo Saba juga kerap memintanya untuk memberikan sedikit suaranya.

Tapi seperti biasanya, permintaan itu ditolak oleh Yovie.

“Nanti, kalau sudah satu juta streaming baru berani nyanyi. Nanti deh sesekali nyanyi,” kata Yovie saat jumpa pers pembuatan video klip “Seribu Bulan Sejuta Bintang” di Jakarta, Kamis.

Yovie pun meminta kepada Soulmate –sebutan penggemar Kahitna– untuk mendengarkan lagu tersebut melalui aplikasi streaming musik digital jika ingin mendengar suaranya.

“Ya menurut aku harus cepat ya Soulmate kalau mau denger suara Yovie. Kalau sudah satu juta, saya akan terpaksa nyanyi,” ujar Yovie.

Baca juga: Kahitna rilis lagu “Seribu Bulan Sejuta Malam”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kahitna rilis lagu “Seribu Bulan Sejuta Malam”

Jakarta (ANTARA) – Kahitna segera merilis lagu “Seribu Bulan Sejuta Malam” yang pernah mereka bawakan beberapa tahun lalu dan tak lagi asing di telinga para penggemar grup musik tersebut.

Penggawa Kahitna Yovie Widianto mengatakan, “Seribu Bulan Sejuta Malam” pernah dimainkan saat ulang tahun Kahitna ke-26 pada 2012. Para “Soulmate” –sebutan untuk penggemar Kahitna– juga sudah akrab dengan lagu itu.

“Sebagian Soulmate sudah tahu lagunya. Lagu ini pernah dibawakan Kahitna beberapa tahun lalu dan sering dibawakan di beberapa kesempatan tapi baru akan dirilis secara resmi besok,” kata Yovie setelah syuting video klip “Seribu Bulan Sejuta Malam” di Jakarta, Kamis.

“Seribu Bulan Sejuta Malam” bercerita tentang penantian seseorang yang terlalu lama namun tak juga mendapatkan apa yang diharapkannya. Lagu ini masih bernuansa cinta tapi dengan sentuhan musik klasik dan sedikit orkestra.

“Lagu ini saya tulis karena terinspirasi dari Natalie Cole yang klasik. Tadinya lagu ini enggak ada niat untuk diedarin hanya untuk didengarkan sendiri aja,” kata Yovie, menjelaskan.

Karena lagu yang bernuansa klasik, Kahitna pun membuat video klip dengan unsur retro. Menurut mereka, konsepnya sangat sesuai dengan lagunya.

“Dari tempatnya ngambil yang retro gitu, ada sentuhan ceritanya dan sesuai dengan lagunya,” kata Yovie.

Baca juga: Kahitna buat penonton Java Jazz 2019 galau
Baca juga: Kahitna eksplorasi kisah jomblo untuk album 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Djaduk Ferianto Tantang Mahasiswa ISI Denpasar Lebih Berani Berkespresi dalam Bermusik

Denpasar (ANTARA) – Aktor sekaligus maestro musik Djaduk Ferianto menantang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar untuk lebih berani berekspresi dalam bermusik dan jangan takut dianggap merusak tradisi.

“Generasi milenial memang sedang menciptakan tradisi baru, tetapi sumbernya dari yang lama, dalam konteksnya interpretasi baru. Itu sah dan boleh, ‘nggak ada larangan,” kata Djaduk, saat menjadi pemateri dalam Workshop Musik Hybrid, di Kampus ISI Denpasar, Rabu.

Yang terpenting menurut Djaduk, dalam berekspresi lewat musik agar tetap cinta pada tradisi masing-masing. Hal ini sesuai dengan hakikat musik hybrid yang mengandung “pencangkokan-pencangkokan” secara kebudayaan.

“Kesenian kita, apalagi ngomong Indonesia, Indonesia itu sangat hybrid. Indonesia itu bukan orang Jawa saja, bukan orang Sumatera saja, bukan orang Bali saja, tetapi semuanya memberikan percampuran, percampuran ini yang menjadikan Indonesia. Dalam konteks musik hybrid sebenarnya ada pencangkokan-pencangkokan secara kebudayaan,” ujarnya pada acara yang diselenggarakan oleh Prodi Musik ISI Denpasar itu pula.

Dalam musik tradisi Bali pun, lanjut Djaduk, sebenarnya sudah melakukan model-model “hybrid” atau pencampuran contohnya perkembangan gamelan gong gede, gong kebyar, semarandana, dan sebagainya.

“Jadi, bukan hal yang baru sebenarnya. Adik-adik mahasiswa jangan takut kalau dianggap sedang merusak tradisi, tetap ada proses pertumbuhan atau regenerasi karena anak-anak muda harus menciptakan tradisinya,” ujarnya lagi.

Djaduk sependapat musik yang lama tetap dipelajari, dipertahankan, dan tetap terpelihara, namun yang baru tetap harus muncul.

“Ini karena rumusan dalam kebudayaan itu ada yang hilang dan ada yang tumbuh. Tradisi jangan mandek dan harus terus berkembang. Intinya, generasi milenial harus punya keberanian untuk mencoba keluar dari satu pola yang sudah mainstream,” kata pemusik kelahiran Yogyakarta itu pula.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga SSn MHum mengatakan dengan kehadiran pemusik kenamaan Djaduk Ferianto ke kampus setempat, diharapkan mahasiswa dapat menggali ilmu sebanyak-banyaknya yang nantinya dapat bermanfaat dalam menggarap dan memberdayakan kebudayaan yang dimiliki agar lebih maju.

Apalagi hal tersebut sejalan dengan visi ISI Denpasar untuk menjadi pusat unggulan seni yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal.

“Terobosan secara akademis harus terus kita bangun, harus dimotivasi agar produk dari karya cipta bisa menelurkan yang baru dan berbeda dari karya sebelumnya,” ujar Sudirga, didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama SE MM.

Ketua Panitia Acara Workshop I Komang Darmayuda SSn MSi mengatakan kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi Musik ISI Denpasar karena Komposisi Musik Hybrid juga merupakan salah satu mata kuliah di kampus setempat.

Usai mengikuti workshop yang diselenggarakan selama dua hari, 13-14 Maret, para peserta akan mempertunjukkan karya mereka pada 15 Maret mendatang.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Afgan, Isyana dan Rendy Pandugo rilis single kolaborasi kedua

Jakarta (ANTARA) – Setelah merilis “Heaven”, kolaborasi tiga solois yang tergabung dalam Project AIR yakni Afgan, Isyana Sarasvati dan Rendy Pandugo menyuguhkan karya terbaru berjudul “Feel So Right”.

Lagu ini, berbeda dengan karya mereka sebelumnya yang berkonsep akustik dan berbicara soal cinta. “Feel So Right” menurut AIR lebih menonjolkan hubungan dengan diri sendiri.

Menurut Isyana, “Feel So Right” dibuat khusus untuk menyemangati semua orang agar menjadi lebih percaya diri dan nyaman dengan diri mereka sendiri.

“Ini sebenarnya buat milenial zaman sekarang yang harus survive di era digital yang kejam. Orang bebas berkomentar apapun tanpa mikirin yang dikomentarin, bahkan enggak kenal juga ikut ngomentarin. Jadi ini lagu kayak ngajak bangkit dan mengenal diri sendiri,” ujar Isyana dalam jumpa pers Zilingo #belanjaversigue di Jakarta, Rabu.

“Kalau lagu yang “Heaven” itu kan relationship dengan pasangan dan “Feel So Right” ini lebih ke relationship sama diri sendiri,” kata Afgan menambahkan.

Dari segi musik, “Feel So Right” lebih upbeat dan terkonsep dengan matang. Untuk pengerjaannya pun dilakukan hanya dalam waktu dua hari.

“Kita bertiga emang udah berembuk tema apa yang akan diangkat untuk single ini dan akhirny terbentuklah soal empowerment. Kita juga bekerjasama untuk membikin lirik dan nada, cuma dua kali pertemuan aja dan yang ini enggak serandom “Heaven”,” jelas Rendy.

Baca juga: Pilihan busana Afgan: nyaman dan sesuai kepribadian

Baca juga: Erwin Gutawa mainkan 30 lagu untuk konser Salute

Baca juga: Isyana tampil bersama kakak di panggung Java Jazz 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

YG Entertainment putuskan kontrak eksklusif Seungri BIGBANG

Jakarta (ANTARA) – YG Entertainment telah memutuskan kontrak eksklusif dengan Seungri BIGBANG. Dalam sebuah pernyataannya, YG Entertainment juga meminta maaf atas kontroversi yang terjadi pada artisnya.

Sejak awal Maret, Seungri dituduh terlibat skandal “Burning Sun” dan dugaan mengedarkan sebuah video yang direkam secara tersembunyi seorang perempuan. Kini, dia telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian Seoul dan sedang menjalani penyelidikan.

Sebagai management yang memayungi Seungri, YG Entertainment pun memberikan pertanyaan resminya, seperti dilansir E!, Rabu.

Halo, ini YG Entertainment.

Mulai dari skandal penyerangan klub baru-baru ini, yang melibatkan Seungri, kami ingin meminta maaf atas keprihatinan banyak orang, termasuk para penggemar, karena banyaknya kecurigaan dan kontroversi.

Setelah Seungri mengumumkan pengunduran dirinya pada 12 Maret, YG Entertainment telah menghormati permintaan Seungri untuk mengakhiri kontrak eksklusifnya.

Sebagai perusahaan manajemen artis, kami mengakui bahwa kami belum mengelola artis kami seperti yang seharusnya, dan kami sangat menyesal.

Akhirnya, YG Entertainment menyadari bahwa kami membutuhkan peningkatan besar, dan kami berjanji akan bekerja dengan semua eksekutif dan karyawan kami untuk dapat menerapkan peningkatan tersebut.”

Pada Senin (11/3), Seungri BIGBANG memutuskan pensiun dari dunia hiburan di tengah berbagai tuduhan kriminal yang menerpanya.

“Akan lebih baik bagiku untuk pensiun dari dunia hiburan pada saat ini,” kata dia di akun Instagramnya.

“Karena skandal ini terlalu besar, aku memutuskan untuk pensiun. Adapun penyelidikan yang sedang berlangsung, aku akan menangani penyelidikan dengan serius untuk menghapus semua tuduhan,” ujarnya.

Baca juga: Jung Joon-young akui skandal distribusi video seks

Baca juga: Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dan Bandung”, kolaborasi The Panasdalam Bank dan Danilla

Jakarta (ANTARA) – Solois Danilla Riyadi berkolaborasi dengan The Panasdalam Bank dalam lagu “Dan Bandung” yang jadi soundtrack film “Dilan 1991”.

Warner Music Indonesia dalam siaran pers, Rabu, mengatakan lagu ini menceritakan segala atmosfer Kota Bandung yang menjadi latar film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu.

Lirik yang tersurat di dalamnya bakal mengundang senyum bagi para penonton fil yang diangkat dari novel Pidi Baiq, atau mereka yang memiliki kenangan terhadap kota Bandung.

Sebuah sajak kecil karya Pidi Baiq yang terpampang di sebuah tembok jalan raya yang terletak di dekat alun-alun Bandung turut menjadi bagian dari lirik lagu ini, menguatkan aura kota Bandung yang ada di dalam lagu.

Lagu “Dan Bandung” menyampaikan segala cerita yang tertulis di kota ini, khususnya dalam latar film “Dilan 1991”.

Pendengar yang sekaligus menjadi penonton kisah Dilan dan Milea dapat dengan mudah terhubung dengan lagu ini.

Film “Dilan 1991” sedang tayang di sejumlah bioskop di Tanah Air. Sejak ditayangkan pada 27 Februari 2019, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq itu sudah meraih lebih dari 4,5 juta penonton.

Film pertamanya, Dilan 1990 mampu meraih 6,2 juta penonton.

Baca juga: Inspirasi Danilla saat bermusik

Baca juga: Danilla terjemahkan mimpi buruk ke video musik barunya

Baca juga: Sering jadi sasaran body shaming, ini tanggapan Danilla

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iwa K luncurkan single “Beda”

Jakarta (ANTARA) – Rapper legendaris Indonesia, Iwa K, meluncurkan sebuah single kolaborasi ber-genre hip hop dengan judul “Beda” bersama label rekaman Manna Records.

Iwa mengatakan single ini berisi tentang pentingnya bersikap yang didasari oleh cinta dan juga jati diri nusantara untuk memanusiakan manusia dalam menjalani keberagaman.

“Saya pribadi merasakan bahwa keberagaman adalah harta yang luar biasa yang diberikan oleh yang Maha Kuasa. Beda itu menjadi indah bila kita sanggup memahaminya,” ujar Iwa dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Rabu.

“Beda” disebutnya berbeda dari lagu-lagu Iwa sebelumnya karena musik dan beat lagu tersebut berada di luar gaya rap Iwa K.

Tantangan itu tetap membuatnya menikmati proses pembuatan lagu “Beda”.

Manna Records memilih seorang rapper muda Mario Zwinkle untuk berduet bersama Iwa K dalam single tersebut.

Bona Palma, salah satu pendiri label rekaman itu, mengatakan, “Kami melihat kehadiran Mario Z dalam lagu ini dapat memproyeksikan semangat lagu “Beda” sendiri, yaitu seorang rapper yang berbeda dari Kang Iwa, berbeda generasi, berbeda style, tetapi dengan kualitas dan kemampuan rap yang hebat. Kami yakin Mario Z adalah the next big thing di dunia rap Indonesia”.

Mario Zwinkle merasa bangga dapat berkolaborasi dengan Iwa K yang merupakan idolanya, meski ada beberapa tantangan yang harus dihadapi selama proses pembuatan lagu.

“Instrumental dan ketukan musik dalam lagu ‘Beda’ berbeda dengan apa yang biasa saya kerjakan, dan ini merupakan projek pertama saya dengan semua pihak termasuk Iwa K,” ujar Mario, berharap musiknya dapat diterima pendengar.

Single “Beda” dirilis pada 11 Maret karena pada tanggal itu pernah terbit dokumen SUPERSEMAR. Manna Records dan Iwa K hendak memberikan makna baru terhadap kata SUPERSEMAR menjadi Surat Persatuan Sebelas Maret.

Manna Records merupakan anak perusahaan dari MannaInc, sebuah perusahaan audio post-house yang fokus pada music scoring untuk iklan TV, digital, Radio dan film. Label ini didirikan oleh Bona Palma, Panji Ekaputra, Adi Siagian, dan Haruchika Setiadi.

Baca juga: Kolaborasi yang dinantikan di Java Jazz 2019

Baca juga: Iwa K akan buat konser 25 tahun berkarya

Baca juga: Daftar para artis yang tersangkut narkoba baru-baru ini

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rahasia SORE tampil konsisten

Jakarta (ANTARA) – Grup band SORE tetap tampil konsisten selama 17 tahun berkarya berkat kecintaan terhadap musik dan diramu ide-ide spontanitas yang mengalir.

“Ide muncul dan mengalir begitu saja. Tiba-tiba, kami ciptakan lagu. Ide itu seakan tidak bisa dicegah, muncul di kepala dan langsung direkam. Kami akan terus begitu, kecuali jika nanti bosan. Kami tidak tahu,” ujar gitaris SORE Reza “Echa” Dwi Putranto saat berkunjung ke redaksi Antara, Senin (11/3).
 
Kelompok musik yang terdiri dari Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Reza Dwi Putranto (gitar), dan Bembi Gusti (drum) itu mengaku tidak bisa lepas dari ide untuk selalu membuat musik, setiap hari.

“Kami terus progres. Kami konsisten tentu karena senang musik meskipun tidak menentukan konsep,” kata Echa tentang ide lagu yang mengalir.

Ade mengatakan lagu-lagu mereka tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan jika lebih dahulu menentukan konsep. “Kepikirannya nanti tiba-tiba. Konsep datang dengan cepat. Dulu mau bikin EP (mini album) “Sorealis Semprulisasi”, lantas batal. Lalu, muncul ide dengan penyanyi semua perempuan, malah jadi album “Mevrouw”,” ujar Ade.

Selama 17 tahun, SORE juga merasa perbedaan pendapat yang muncul sebagai hal wajar karena terkait ide.

“Kami tidak pernah bertengkar. Tapi, beda pendapat iya. Beda pendapat karena ide musik yang saling bertubrukan. Itu biasa lah, standard. Jika kami tidak  beda pendapat, justru itu tidak sehat,” kata Ade tentang warna 17 tahun grup SORE.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Senja bersama SORE

Jakarta (ANTARA) – “It’s been so long, it’s been so lonely so…” demikian lirik “Rubber Song”, lagu baru band SORE, mengalun di Wisma Antara, Senin (11/3) petang.

Usai membawakan lagu yang aslinya dibawakan bersama Vira Talisa, para personel SORE Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Reza “Echa” Dwi Putranto (gitar) dan Bembi Gusti (drum) membawakan tiga lagu lain dengan latar belakang langit sore Jakarta berhiaskan Monumen Nasional di kejauhan.

Lewat beberapa menit dari pukul lima sore, Awan sekilas melihat jam, lalu memutuskan saat yang tepat untuk menampilkan “Setengah Lima” dari album “Ports of Lima” yang rilis lebih dari satu dekade lalu itu.

Single teranyar “Woo Woo” yang berkolaborasi dengan penyanyi California Leanna Rachel juga turut mengalun. Video klip itu baru dirilis pada Selasa, menampilkan film pendek yang disutradarai Ismail Basbeth (“Mencari Hilal”, “Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran”, “Arini”).

Sementara, “Sssst…” jadi lagu pamungkas konser mini SORE saat berkunjung ke Antara.

Tujuh belas tahun sudah para personil SORE bermain musik bersama. Dimulai dari album “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombreros Kiddos” (2010), “Los Skut Leboys” (2015) hingga album mini “Mevrouw” yang rencananya akan dirilis tahun ini.

Tidak ada perjalanan yang selamanya mulus, perbedaan pendapat pun tak terelakkan selama belasan tahun mereka berkarya. Tapi, perbedaan pandangan bukan jadi pemicu untuk bertengkar.

“Biasanya karena ide musik yang bertubrukan. Biasa lah kayak gitu mah, standard. Kalau enggak beda pendapat juga malah enggak sehat. Kalau enggak kayak begitu, enggak mungkin 17 tahun bersama,” ujar Ade.

Semakin dewasa, mereka berusaha saling memahami satu sama lain. Karena sudah saling mengenal lama, mereka sudah bisa “membaca” tindak-tanduk rekannya tanpa banyak berkata-kata. “Saling mengerti,” imbuh Echa.

Kecintaan pada musik jadi bahan bakar SORE untuk selalu konsisten berkarya. Tanpa bisa dicegah, ide-ide secara spontan mengalir di kepala mereka, kemudian dituangkan menjadi lagu yang akan dimainkan kepada para pendengar musik yang terdiri dari berbagai kalangan usia.

Spontanitas itu juga berlaku dalam membuat karya. Dalam album mini “Mevrouw”, SORE menggandeng para penyanyi perempuan dalam lagu-lagunya.

Apakah konsep-konsep khusus akan terus diterapkan dalam album-album SORE berikutnya? SORE memilih untuk tidak merancang konsep itu dari jauh-jauh hari. Semua tergantung pada gagasan yang tercetus saat itu serta proses meramu ide yang dinamis.

Yang pasti, SORE berharap semua karya mereka dapat diterima dengan baik oleh para pencinta musik.

“Lempar ke udara moga-moga dihembus angin dan mudah-mudahan menclok di tempat yang benar,” ujar Ade.

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SORE: RUU Tata Kelola Permusikan lebih mendesak

Jakarta (ANTARA) – Tata kelola permusikan yang menekankan sertifikasi pemusik jauh lebih mendesak dibanding pembatasan karya musisi dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan, demikian disampaikan grup musik SORE.

“RUU Permusikan jelas-jelas akan membabat kreativitas anak bangsa. Kalau sertifikasi perlu, tapi dalam konteks tata kelola musik. RUU permusikannya sendiri, pada pasal 5, sebenarnya tidak perlu ada,” ujar vokalis grup SORE Ade Firza Paloh saat berkunjung ke redaksi Antara, Senin (11/3).

SORE menjadi salah satu grup musik yang pertama kali menolak RUU Permusikan dan lebih mengampanyekan penerapan sertifikasi para pemusik dalam tata kelola musik.

Sertifikasi musik, menurut Ade, penting bagi pemusik yang yang telah mengenyam pendidikan musik karena akan mempengaruhi pendapatan mereka.

“Pendidikan musik untuk mendapatkan sertifikasi itu penting misalnya bagi penyanyi kafe. Para penyanyi itu bisa mendapatkan upah yang layak dan bukan karena dimainkan para pengatur acara (event organizer),” ujar pelantun Rubber Song itu.

Ade mengatakan sertifikasi musik menjadi bentuk penghargaan bagi para pemusik yang telah belajar secara khusus soal musik. “Atau seperti string section, home section boleh ada sertifikasi tapi tidak masuk di RUU Permusikan,” ujarnya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

SORE tak punya formula untuk gaet pendengar muda

Jakarta (ANTARA) – Grup band SORE memiliki pendengar dengan usia yang beragam. Untuk menyatukan semuanya, mereka mengaku tidak pernah membuat formula khusus pada musiknya.

Eksistensi SORE di panggung musik Indonesia sudah berlangsung selama 17 tahun. Sepanjang perjalanannya, pendengar datang dan pergi. Bahkan, penggemar SORE kini lebih banyak yang berusia muda.

Echa, gitaris SORE menyadari adanya perubahan dari pendengar mereka, khususnya ketika sedang manggung. Biasanya, dia melihat penonton yang usianya tidak jauh mereka. Kini, penampakan yang ada di depan panggung lebih banyak anak mudanya.

“Pas main pertama, kita lihat yang nonton sepantaran. Makin ke sini, makin muda-muda. Berarti musik kita nyampe ke mereka,” ujar Echa saat kunjungan ke kantor redaksi Antara, Senin (11/3).

“Akhirnya kita suka mikir, ini yang gen lagu “Sssst” mungkin ya. Dengerin “Sssst” dulu baru ke album-album ke belakang. Dari sepantaran, makin muda-muda dan berbaur dari tua-muda, seru aja,” lanjutnya.

Sementara itu, Ade Firza Paloh, sang vokalis mengatakan bahwa SORE tidak pernah meramu musik tertentu dengan tujuan menggaet anak muda.

“Kita enggak pernah ada upaya untuk menggaet pendengar muda. Kita lempar flow aja, lempar ke udara moga-moga dihembus angin dan mudah-mudahan menclok di tempat yang benar,” jelas Ade.

Baca juga: Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Baca juga: Angkat tema pemberdayaan perempuan, SORE akan rilis album “Mevrouw”

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Band Sore gandeng musisi perempuan di album baru

376 Views

(Antara) – Band Sore siap kembali meramaikan musik tanah air. Mereka segera melaunching mini album berisikan enam lagu. Album berjudul ‘Mevrou’ yang menggandeng sejumlah musisi wanita itu, rencananya akan resmi rilis setelah lebaran 2019.

Angkat tema pemberdayaan perempuan, SORE akan rilis album “Mevrouw”

Jakarta (ANTARA) – Dalam waktu dekat, grup band SORE akan merilis mini album berjudul “Mevrouw”. Di sini, mereka berkolaborasi dengan para penyanyi perempuan untuk setiap lagunya.

Band yang terdiri dari Ade Firza Paloh (vokal,gitar), Awan Garnida (bass,gitar), Echa (gitar) dan Bembi Gusti (drum) ini mengatakan bahwa mereka ingin menunjukan sisi women empowerment. “Mevrouw” sendiri dalam bahasa Belanda memiliki arti sebagai nyonya.

“Kita memang punya keinginan untuk mengangkat tema female, women empowerment yang menyatakan bahwa wanita adalah makhluk yang sangat kuat. Kalau kita kan (laki-laki) kayak bocah sedangkan wanita lebih dewasa, along the way pengin angkat itu,” ujar Ade dalam kunjungannya ke Antara, Senin (11/3).

Untuk perkenalan, SORE telah merilis dua lagu yakni “Rubber Song” bersama Vira Talisa. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang mencoba keluar dari rasa kesepian dan apa yang ingin dilakukan karena hidup seperti karet.

Lalu yang kedua adalah “Woo Woo” yang berkolaborasi dengan penyanyi asal California, Leana Rachel menceritakan tentang kehidupan yang harus dicapai, namun dalam perjalanannya manusia juga penuh dengan kesalahan.

“Vira Talisa itu satu genre sama kita yang musiknya warm tapi di lagu ini lebih keras, biasanya kan soft. Terus Leana Rachel orang California, kita pengin tahu nih dia nyanyi bahasa Indonesia gimana, ternyata fasih banget bahasa Indonesia-nya. Nanti ada juga Angita, dia background-nya rock, sekarang musiknya lebih manis, paradox,” jelas Ade.

Album terakhir yang dirilis SORE adalah “Los Skut Leboys” pada 2015. Mereka berharap album “Mevrouw” mendatang bisa menjadi jembatan untuk full album SORE.

“Kita kalau mau bikin full album takut terlalu lama. Kalau ngumpulin lagi takutnya makan waktu yang kita sendiri enggak bisa kontrol. Keluarin sekarang aja dulu, enggak apa-apa kita pirit-pirit sedikit-sedikit tapi tetap berkarya,” kata Ade.

“Insya Allah jembatan menuju full album,” ujar Awan menambahkan.

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Baca juga: Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Baca juga: Menikmti “Sore” di Java Rockin’ Land

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Respon YG soal pensiunnya Seungri BIGBANG

Jakarta (ANTARA) – Pihak YG Entertainment mengungkapkan bahwa keputusan Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan adalah ide penyanyi itu sendiri.

“Pengumuman pensiun Seungri bukan keputusan yang dibuat setelah berkonsultasi dengan YG, tetapi keputusan yang dibuat sendiri,” kata seorang sumber kepada YTN, seperti dilansir Soompi, Senin (11/3).

Sumber itu mengatakan kalau Seungri merasa lebih tertekan karena rentetan kasus yang menimpanya sebelum masa wajib militernya.

“Sejujurnya, tidak ada rincian pasti tentang Seungri selama satu setengah bulan terakhir penyelidikan polisi. Seungri merasa lebih bersalah karena menyebabkan masalah pada orang-orang di sekitarnya,” kata sumber itu.

“Saat ini, tidak ada pernyataan tambahan yang dapat dibuat dari perusahaan terkait dengan ini. Belum ada yang diputuskan sehubungan dengan pemutusan kontrak eksklusifnya,” sambung dia.

Seungri beberapa waktu terakhir terkena tuduhan memberikan layanan pendamping seksual kepada investor asing hingga berbagi rekaman dan foto yang diambil secara ilegal di ruang obrolan dengan rekan-rekannya.

Baca juga: YG bantah tuduhan Seungri Bigbang sediakan PSK untuk investor

Baca juga: Seungri BIGBANG pensiun dari dunia hiburan

Baca juga: Seungri Bigbang mulai wajib militer akhir Maret

Baca juga: Konser Seungri BIGBANG di Jakarta batal

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

RUU Permusikan harus direvisi dan libatkan pekerja seni

Nanti ketika budaya kita diklaim sama orang (negara) lain baru deh marah, padahal orang-orang yang melestarikan budaya sendiri kurang diperhatikan

Jakarta (ANTARA) – Politisi Partai NasDem Wanda Hamidah menyatakan Rancangan Undang-Undang Permusikan harus direvisi dengan melibatkan para pekerja seni dan budaya.

Partai NasDem meminta agar RUU Permusikan direvisi untuk melindungi seni musik dan budaya di Indonesia mengingat hal itu modal sosial untuk memperkuat kekayaan dan identitas bangsa, kata Wanda Hamidah dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan draf RUU Permusikan yang dibahas saat ini menjadi polemik karena sejumlah pasal yang dianggap janggal. RUU tersebut, kata dia, membatasi dan menghambat proses kreasi serta justru merepresi para pekerja musik.

“Karena itu perlu direvisi agar sesuai semangat dalam melestarikan serta mengembangkan seni dan budaya,” kata Wanda.

Caleg NasDem Dapil DKI 1 itu menilai pada pasal 5 yang berisi tujuh ayat berpotensi menjadi pasal karet.

“Salah satu ayat misalnya, dalam proses kreasi musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, dilarang membuat konten pornografi, dilarang memprovokasi pertentangan antarkelompok, dilarang menodai agama, dilarang membawa pengaruh negatif budaya asing dan dilarang merendahkan harkat serta martabat manusia,” katanya.

Pasal itu, menurut Wanda, bisa dipelintir sesuai keingingan pelapor atau penegak hukum. Apalagi ada hukuman pidana bagi musisi yang melanggar aturan itu yang diatur pada pasal 50, meski belum ada keterangan berapa lama penjara atau berapa banyak denda uangnya.

“Pasal itu juga berpeluang membelenggu kebebasan berekspresi musisi. Jika pembuat lagu-lagu bernada kritik, yang mungkin berpotensi mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum maka semua bisa dipidanakan dan tentu ada pasal lainnya yang berpotensi membonsai pekerja seni,” katanya.

Pasal-pasal semacam ini lah menurutnya perlu direvisi dengan melibatkan para pekerja seni dan budayawan. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan DPR karena RUU saat ini sudah ditunda.

“Sekali lagi menurut saya, RUU permusikan perlu didorong agar bisa menciptakan iklim kondusif bagi pekerja seni dan budaya di Tanah Air,” tambahnya.

Sementara politisi NasDem lainnya, Intan Azizah menilai, Indonesia sebagai negara berbudaya timur memang tidak bisa dibatasi terkait kreasi seni.

“Kalau bicara pembatasan bermusik, memang tidak bisa. Perkembangan teknologi dalam berkesenian, apalagi musik, sangat pesat, baik dalam hal sumber daya manusianya dan teknologi,” ujar Intan.

Wanita yang dikenal berkat industri musik dan film itu melanjutkan, ada hal-hal lebih penting yang perlu dibahas, seperti royalti dan penghargaan terhadap lagu-lagu, terutama lagu tradisional.

Intan menambahkan, jangan sampai para penyanyi lagu daerah atau lagu tradisional enggan menyanyi lagi karena kurang perhatian pemerintah.

“Nanti ketika budaya kita diklaim sama orang (negara) lain baru deh marah, padahal orang-orang yang melestarikan budaya sendiri kurang diperhatikan,” katanya.

Pewarta: Suryanto
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Naik haji bareng, keinginan Sore yang belum terwujud

Jakarta (ANTARA) – Setelah menghabiskan belasan tahun bersama di dunia musik, para anggota grup band Sore masih punya keinginan yang belum terwujud.

“Naik haji bareng,” ungkap Ade Firza sang vokalis saat Sore berkunjung ke Antara, di Jakarta, Senin.

Mimpi itu belum kunjung jadi kenyataan karena jadwal belum pas.

Band yang terdiri dari Ade Firza Paloh (gitar, vokal), Awan Garnida (bass, vokal), Reza Dwi Putranto (gitar, vokal), dan Bemby Gusti Pramudya (drum, perkusi, vokal) itu baru meluncurkan lagu “Woo Woo” yang dibawakan bersama Leanna Rachel, musisi California yang berdomisili di Bali.

Sebelumnya, Sore juga berkolaborasi dengan Vira Talisa dalam lagu “Rubber Song” yang dirilis pada akhir 2018 silam.

Dua lagu baru tersebut dibawakan oleh Sore dalam penampilan khusus di Antara.

Grup yang baru tampil di Java Jazz Festival 2019 itu telah merilis beberapa album seperti “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombredos Kiddos” (2010), hingga “Los Skut Leboys” (2015).

Lagu-lagu Sore juga kerap dijadikan soundtrack film-film Indonesia seperti “Funk The Hole” di film “Janji Joni”, “No Fruits For Today” di film “Berbagi Suami” dan “Nancy Bird” untuk film “Pintu Terlarang”.

Baca juga: Sore ini, SORE menyambangi ANTARA

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sore ini, SORE menyambangi ANTARA

Jakarta (ANTARA) – Petang ini, grup musik Sore akan menyambangi Antara untuk berbincang tentang karya terbaru mereka.

Ade Firza Paloh (gitar, vokal), Awan Garnida (bass, vokal), Reza Dwi Putranto (gitar, vokal), Bemby Gusti Pramudya (drum, perkusi, vokal) baru meluncurkan lagu “Woo Woo” yang dibawakan bersama Leanna Rachel, musisi California yang berdomisili di Bali.

Sebelumnya, Sore juga berkolaborasi dengan Vira Talisa dalam single “Rubber Song” yang dirilis pada akhir 2018 silam.

Grup yang baru tampil di Java Jazz Festival 2019 itu telah merilis beberapa album seperti “Centralismo” (2005), “Ports of Lima” (2008), “Sombredos Kiddos” (2010), hingga “Los Skut Leboys” (2015).

Lagu-lagu Sore juga kerap dijadikan soundtrack film-film Indonesia seperti “Funk The Hole” di film “Janji Joni”, lagu “No Fruits For Today”d i film “Berbagi Suami” dan “Nancy Bird” untuk film “Pintu Terlarang”.

Baca juga: Sepanjang petang bersama “Sore”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

White Shoes and The Couples Company buka Festival Satu Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Band White Shoes and The Couples Company menjadi penampil pertama di konser indoor Festival Satu Indonesia, yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Minggu.

Selama sekitar 30 menit, mereka menghibur ribuan penonton yang berasal dari rentang usia beragam, tak cuma penonton muda yang jadi sasaran penyelenggaraan festival.

Lagu “Roman Ketiga”, “Masa Remadja”, “Selangkah ke Seberang” dari Fariz RM, “Vakansi”, lagu daerah “Lembe Lembe” dan “Senandung Maaf” bergaung di ruangan yang dipenuhi pendukung calon presiden Joko Widodo itu.

“Aksi Kucing” menjadi penutup dari penampilan White Shoes and The Couples Company.

Festival Satu Indonesia sudah dimulai di area outdoor Istora sejak siang lewat pertunjukan dari Elephant Kind, Polka Wars hingga Brisia Jodie.

Festival ini juga bakal diramaikan dengan penampilan musik dari Sandhy Sondoro, Dira Sugandi hingga Afgan Syahreza.

Komika Ernest Prakasa dan Ge Pamungkas akan memeriahkan sesi Inspiration Talks bersama capres Joko Widodo dan Erick Thohir.

Baca juga: Festival Satu Indonesia ajak kenali politik lewat musik
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemprov DKI persiapkan 25 tahun sister city Jakarta-Berlin

London (ANTARA) – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta selain mempromosikan obyek wisata di ibukota dalam event pameran pariwisata terbesar Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin 2019 juga mempersiapkan acara Peringatan 25 Tahun Hu bungan Kerjasama Sister City Jakarta – Berlin yang diadakan pada Juni mendatang. Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran Pemprov DKI Jakarta, Hari Wibowo kepada Antara London, Minggu mengatakan selain berpartisipasi dalam ITB Berlin, Pemprov DKI Jakarta menampilkan kesenian di paviliun Indonesia selama dua hari terakhir pelaksanaan pameran pariwisata terbesar di dunia yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 10 Maret 2019.

Delegasi Pemda DKI Jakarta ke ITB Berlin yang dipimpin Kepala Bidang Destinasi dan Pemasaran, Hari Wibowo itu terdiri dari sembilan orang serta Abang dan None Jakarta.

Sementara itu Misi kesenian dari DKI Jakarta yang menampilkan tarian Kembang Tugu serta tari Lenggok Gonjreng dan tari Yapong Betawi, berasal dari sanggar tari D’Jakfaro Entertainment terdiri dari M.Syaiful Mujab (Abang Jakarta) dan Athalla (None Jakarta) serta enam penari yaitu Adhi, Donnie Istiawan, Siti Fatimah, Oktaviani, Adira Putri, Donnie Istiawan, Adhi Ristyawab,Oktaviani Siti Fatimah Aldira Putri, didampingi Sherly Yuliana, Kasie Promosi Luar Negeri Pemda DKI Jakarta.

Abang Jakarta Muh Syaiful Mujab dan None Jakarta Atala Hardian menjadi pembawa acara selama dua hari terakhir pameran pariwisata ITB Berlin yang khusus ditujukan untuk masyarakat Jerman yang akan merencanakan liburan musim panas.

Abang dan None Jakarta selain menjadi Juru penerang tentang Jakarta di information counter juga sekaligus menjadi pembawa acara pada saat penampilan tim kesenian di panggung paviliun Indonesia.

Hari Wibowo mengatakan dalam kunjungan kerja nya ke Berlin, delegasi Pemprov DKI Jakarta juga mengadakan beberapa pertemuan untuk mempersiapkan kegiatan Peringatan 25 Tahun Hubungan Kerja sama Sister City Jakarta-Berlin yang akan dilaksanakan di Berlin pada bulan Juni mendatang.

Beberapa pertemuan antaranya dengan jajaran Walikota Berlin, pengelola venue, pihak media, dan berbagai pihak lainnya, demikian Hari Wibowo.

Baca juga: Jakarta-New South Wales bahas peluang kerja sama
Baca juga: Paviliun Indonesia di ITB Berlin tarik minat wisatawan mancanegara
Baca juga: Indonesia harapkan Rp10 triliun dari ITB Berlin

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Satu Indonesia ajak kenali politik lewat musik

Jakarta (ANTARA) – Festival Satu Indonesia, yang menghadirkan sejumlah musisi kenamaan tanah air, digelar untuk mengajak anak-anak muda mengenal politik lewat musik.

Tidak hanya itu, menurut Co-Founder Festival Satu Indonesia Amalia Ayuningtyas, acara itu juga bertujuan membangkitkan optimisme dalam memandang masa depan bangsa.

“Besarnya populasi anak muda khususnya yang akan menjadi pemilih pemula mendorong kami untuk menggelar sebuah acara yang dapat menumbuhkan optimisme agar anak-anak muda sadar betapa pentingnya peran mereka dalam menentukan arah bangsa kita ke depan,” kata Amalia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

White Shoes and The Couples Company, Elephant Kind, Polka Wars, Brisia Jodie, Sandhy Sondoro, Dira Sugandi dan Afgan Syahreza, adalah sederet nama musisi yang dijadwalkan tampil di festival yang digelar di Istora Senayan itu.

Juga turut hadir komika Ernest Prakasa dan Ge Pamungkas yang akan memeriahkan sesi Inspiration Talks bersama Erick Thohir serta Presiden Joko Widodo.

“Dengan menghadirkan performance dari berbagai musisi lintas genre, kami ingin anak muda bisa mengetahui politik melalui musik, bahasa yang sangat universal dan bisa diterima oleh semua orang. Musisi dan narasumber di sesi Inspiration Talks yang kami pilih adalah bagian dari upaya kami agar anak-anak muda mendapat inspirasi sehingga terus menjaga optimismenya,” tutur Amalia.

Amalia juga menyampaikan Festival Satu Indonesia ingin mencoba memberikan pengalaman kepada anak muda bagaimana “kampanye” yang positif, kreatif dan menyenangkan.

“Selama ini selalu ada alasan anak muda nggak mau milih. Tapi melalui acara ini anak muda bisa kenal dengan calon presidennya dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan,” ujarnya

Salah satu pengisi sesi Inspirasi Talks dalam acara ini, Erick Thohir, menganggap pentingnya gerakan-gerakan positif seperti Festival Satu Indonesia ini untuk berpartisipasi membangun bangsa ke depan.

“Dengan terlibat dalam gerakan sosial-politik yang positif, Indonesia akan maju secara progresif,” ujar Erick, seperti dikutip dari keterangan tertulis.

Festival Satu Indonesia diramaikan bazar produk-produk lokal, panggung seni, sesi Inspirasi Talks, Jokowi Bicara, dan akan ada juga diskusi santai bersama Jokowi.

Acara tersebut diprakarsai oleh Amalia dan Singgih Widiyastono. Keduanya adalah pendiri eks Teman Ahok.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Soal RUU Permusikan, jangan atur musiknya tapi tata kelolanya

RUU tujuannya mulia, melindungi musisi, tapi kenapa isinya mengekang?

Jakarta (ANTARA) – Musisi Viky Sianipar berpendapat undang-undang seharusnya mengatur tata kelola musik, bukan tentang musiknya.

Jika memang akan ada undang-undang yang mengatur industri musik di Indonesia, dia ingin pelaksanaannya harus membuat para musisi sejahtera, bukan justru membatasi kreativitas.

“RUU tujuannya mulia, melindungi musisi, tapi kenapa isinya mengekang?” ujar Viky dalam diskusi terkait RUU Permusikan di Galeri Foto Jurnalistik Antara di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Sabtu.

Pada kesempatan yang sama, musisi Kartika Jahja menyatakan RUU Permusikan memang diperlukan, namun rancangan yang saat ini jadi polemik tidak menyediakan solusi atas tantangan yang dihadapi musisi.

Baca juga: Tujuan tidak jelas, Marcell tolak RUU Permusikan

“Kalau permusikan sendiri itu, menurut saya pihak yang terkait tidak hanya industri musik saja. RUU ini mereduksi musik sebagai industri musik saja,” ujar Kartika.

Menurut dia, RUU Permusikan sudah salah sejak awal dirumuskan karena tidak melibatkan pemangku kepentingan secara luas.

Senada dengan Viky, dia mengatakan proses berkarya musisi tidak akan bisa diatur. Jika memang perlu aturan dari negara, bentuknya tidak harus berupa undang-undang.

Pada Kamis (7/3), anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah resmi menarik usulan RUU Permusikan di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.

Namun, penarikan itu masih bersifat personal karena RUU tersebut masih ada dalam prioritas tahunan Badan Legislasi.

Baca juga: Anang Hermansyah tarik usulan RUU Permusikan

Ketua Baleg DPR RI Supratman Andi Atgas mengatakan RUU ini secara resmi dapat dicabut namun harus melewati evaluasi rapat kerja kembali, karena prioritas tahunan ditentukan oleh tiga lembaga yaitu pemerintah dalam hal ini Menkum HAM, bersama legislatif yakni DPR dan DPD.

Di luar RUU Permusikan, sebenarnya sudah ada peraturan-peraturan yang mengakomodasi kepentingan para musisi Indonesia. Sayangnya, penegakan hukum belum diterapkan secara maksimal.

“(Butuh) Penegakan hukum. Sudah ada instrumennya seperti UU Hak Cipta, tapi sampai sejauh ini belum optimal. Royalti belum didistribusikan merata,” kata Wendi Putranto, dari Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan.

Wendi juga menyebut soal penerapan UU Serah Simpan dan Serah Cetak mengenai pengarsipan musik yang beredar di Indonesia. Saat ini, di Indonesia musisi yang harus mengirimkan ke Perpustakaan Nasional sebagai penyimpan arsip.

“Saat ini kita belum tahu musik sudah beredar sampai mana saja, tapi kalau ada UU itu, lembaga yang menaungi itu yang akan membeli rilisan musik di Indonesia.”

Penting juga untuk membuat peraturan terkait tantangan musisi di era digital, yang terkait dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Saat ini, ujar Wendi, fokusnya adalah mengawal hingga RUU Permusikan betul-betul dibatalkan.

Setelah RUU Permusikan resmi dicabut, akan diadakan musyawarah musik nasional untuk mendengarkan aspirasi dari pemangku kepentingan yang berkaitan dengan industri musik dari seluruh daerah di Tanah Air.

Jika nanti dari hasil musyawarah didapatkan keputusan RUU tetap dibutuhkan, proses perumusannya harus diulang dari awal, melibatkan semua pihak agar seluruh kepentingan terwakili.

“Kalau yang terjadi sekarang, RUU ini sangat Jakarta-sentris, semua yang ada di Jakarta saja. Mereka tidak melihat atau mendengar aspirasi dari berbagai macam daerah.”

Baca juga: Pengamat sebut dua alasan RUU Permusikan perlu dicabut

Baca juga: RUU Permusikan masih bergulir di Badan Legislasi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kartika Jahja: masih ada bias gender di dunia musik

Jakarta (ANTARA) – Musikus sekaligus pegiat kesetaraan gender Kartika Jahja mengatakan masih ada bias gender di dalam dunia musik, meski sudah banyak pencapaian kaum perempuandi di bidang tersebut.

“Jumlah musisi perempuan semakin banyak dan itu mesti diapresiasi, namun di balik itu semua masih ada musisi yang berhenti di umur tertentu karena perempuan diharapkan mengambil peran rumah tangga,” kata perempuan yang disapa Tika saat dijumpai di Galeri Foto Jurnalistik Antara,  Jakarta, Sabtu.

Menurut dia masih ada pandangan publik yabg membedakan antara musikus laki-laki dan perempuan. Apa yang dihasilkan musikus laki-laki cenderung dilihat dari gagasan dan karyanya, sementara perempuan lebih dipandang dari citra dan tampilannya.

Meski demikian dia menilai perempuan-perempuan memiliki banyak cara untuk mendobrak nilai-nilai yang tidak relevan dengan kesetaraan.

Namun, katanya, secara umum pasar arus utama masih melihat perempuan sebagai dekorasi. Padahal perempuan sangat penting untuk memberikan pandangan yang berbeda kepada masyarakat.

“Musik adalah kendaraan untuk membuka wawasan publik. Saya sendiri belajar politik dan pergerakan dari musik. ApaboAp narasi yang disampaikan hanya dari sudut pandang maskulin maka masyarakat akan menerima informasi yang homogen,” kata dia.

Untuk mendobrak nilai-nilai tersebut, menurut Tika, tidaklah semudah megatakan harus percaya diri dan berani, butuh kerja sama baik antara perempuan dan laki-laki untuk membuat dunia musik menjadi setara.

Selain itu edukasi yang komprehensif dan membuat literasi melek tentang isu gender kepada publik akan berdampak pada semakin setaranya ndustri musik. (*)

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pikiran dan Perjalanan”, karya terbaru dari Barasuara

Jakarta (ANTARA) – Hampir empat tahun setelah album perdana “Taifun”, Barasuara kembali dengan mempersembahkan karya baru bertajuk “Pikiran dan Perjalanan”.

Album kedua Barasuara itu mewakili semua perubahan yang terjadi pada band tersebut selama proses pembuatan album, yang diisi sembilan lagu dengan beragam cerita.

“‘Pikiran dan Perjalanan’ adalah sebuah memoir tentang kompleksitas perasaan, ekspektasi, kebahagiaan, kekecewaan dan naik turunnya kondisi mental manusia,” kata Iga Massardi sang vokalis dalam siaran pers, yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Iga mengatakan album itu bisa jadi penguat untuk orang-orang yang mendengarkan. Kumpulan lagu di dalam “Pikiran dan Perjalanan” adalah gambaran bahwa pemikiran dan jalan hidup orang akan menjadi sebuah proses belajar tanpa henti.

“Pikiran dan Perjalanan adalah kalut dan harapan yang dibungkus dalam bentuk musikal,” ujarnya.

Barasuara akan merayakan peluncuran album terbaru itu pada 13 Maret 2019. Mereka bakal membawakan seluruh materi dalam album secara langsung untuk pertama kalinya.

Barasuara yang terdiri dari Iga Massardi, Gerald Situmorang (bass), TJ Kusuma (gitar), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal) dan Marco Steffiano (drum) itu merilis album studio pertama pada 2015.

Tur pertama mereka diadakan pada 2016 di kota-kota besar di Indonesia.

Baca juga: Barasuara rilis video musik “Guna Manusia”, memotret lanskap Antartika
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nick Jonas akui sebagai orang yang memecah Jonas Brothers

Jakarta (ANTARA) – Nick Jonas mengaku sebagai orang yang telah memecah belah grup Jonas Brothers. Hal tersebut diungkapnya saat mengikuti tes pendeteksi kebohongan.

Pelantun “Jealous” ini belum lama bersatu kembali dengan saudara-saudaranya Joe Jonas dan Kevin Jonas untuk merilis musik sebagai Jonas Brothers. Grup tersebut telah vakum selama hampir enam tahun.

Dalam acara “Carpool Karaoke” di The Late Late Show with James Corden, Nick mengatakan bertanggung jawab atas perpecahan awal Jonas Brothers.

“Aku yang memecahkan band, tetapi aku mendapatkannya kembali,” ujar Nick dilansir Aceshowbiz, Sabtu.

“Itu benar, itu adalah kisah penebusan kesalahan,” kata Kevin menambahkan.

Jonas bersaudara kemudian menjalani serangkaian tes pendeteksi kebohongan, di mana mereka ditanyai pertanyaan yang sulit tentang persaudaraan mereka.

Nick sekali lagi ditanya perihal siapa yang menyebabkan band tersebut bubar. Suami Priyanka Chopra ini langsung menjawab “iya” dan terungkap jika dia mengatakan yang sebenarnya.

Namun Kevin mengatakan jika dirinya tidak pernah berpikir bahwa Nick adalah orang yang telah memecah Jonas Brothers. Sayangnya, hal tersebut terdeteksi bohong.

Nick sendiri sebelumnya pernah mengaku bahwa dia adalah orang yang memulai pembicaraan untuk membubarkan Jonas Brothers.
  Baca juga: Jonas Brothers bubar

Baca juga: Gunakan hewan untuk pernikahan, Priyanka Chopra dikecam PETA

Baca juga: Priyanka Chopra didesak mundur jadi Duta Kebaikan UNICEF

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Takeuchi Miyu eks AKB48 gabung ke label Korea

Jakarta (ANTARA) – Takeuchi Miyu, mantan anggota grup idola Jepang AKB48, melebarkan sayap ke dunia hiburan di Korea Selatan dengan bergabung ke dalam label Mystic Entertainment.

Agensi itu mengonfirmasi rumor yang selama ini beredar bahwa Takeuchi Miyu memiliki kontrak eksklusif dengan label tersebut.

“Takeuchi Miyu adalah penyanyi yang sudah terbukti di bidang tarik suara, juga menulis dan membuat komposisi lagu. Kami akan mendukung dia sepenuhnya agar bisa menampilkan sinergi yang baik dengan warna unik Mystic,” kata agensi itu seperti dilansir AllKpop, Jumat.

Takeuchi Miyu mulai dikenal publik Korea saat mengikuti acara kompetisi Produce 48 yang melibatkan partisipasi trainee agensi hiburan dari Korea Selatan serta anggota-anggota AKB48.

Takeuchi Miyu yang bergabung dengan AKB48 sejak 2009 itu menempati peringkat ke-17 di babak final Produce 48, di mana para kontestan yang masuk ke dalam 12 besar debut sebagai IZONE.

Baca juga: Diserang dua pria, Maho Yamaguchi NGT48 justru minta maaf

Baca juga: Oguri Yui AKB48 ingin jadi idol sejak kecil

Baca juga: Atsuko Maeda eks AKB48 menikah dengan aktor Ryo Katsuji

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan tahun pertama, Stray Kids siapkan EP baru

Jakarta (ANTARA) – Grup K-pop Stray Kids akan kembali dengan EP baru bulan ini untuk merayakan setahun pertama sejak debut, kata agensi JYP Entertainment seperti dilansir Yonhap, Kamis (7/3).

EP berjudul “Cle 1: MIROH” itu akan mewarnai industri K-pop mulai 25 Maret, bertepatan dengan tanggal debut mereka tahun lalu.

Anggota-anggota Stray Kids terpilih berdasarkan acara kompetisi idola pada Oktober 2017. Grup yang pernah menyambangi Jakarta ini sudah merilis EP pertama berjudul “I am NOT” tahun lalu.

Pada awal debut, mereka sudah mengeluarkan dua EP lain, yakni “I am WHO” and “I am YOU” yang semuanya diproduksi sendiri oleh anggota Stray Kids.

Mereka meraih gelar Rookie of the Year tahun lalu, membuka jalan menuju puncak di industri K-pop.

Stray Kids terdiri atas sembilan anggota: Bang Chan, Woojin, Lee Know, Changbin, Hyunjin, HAN, Felix, Seungmin and I.N.

Setelah tampil di konser Spotify on Stage 2018, JI Expo Kemayoran, Jakarta, mereka menggelar konser solo di ICE BSD, Tangerang pada Januari lalu.

Baca juga: Chang-bin Stray Kids pakai blangkon hingga I.N. push up di panggung

Baca juga: Stray Kids : STAY mantul!

Baca juga: Stray Kids tepati janjinya pada konser solo perdana di Indonesia

Penerjemah:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anang Hermansyah tarik usulan RUU permusikan

Jakarta (ANTARA) – Anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah resmi menarik usulan RUU Permusikan di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI.

Anang mengatakan dalam keterangan pers, Kamis, bahwa usulan itu ditarik setelah menimbang berbagai saran. Selain itu, ada rencana dari komunitas musik untuk mengadakan musyawarah besar.

Penarikan ini adalah tindak lanjut dari tanggapan seluruh stakeholder ekosistem musik Indonesia.

“Agar terjadi kondusifitas di seluruh stakeholder ekosistem musik di Indonesia,” ujar Anang.

RUU Permusikan memang menimbulkan polemik di Indonesia. Oleh karena itu, Anang sebagai wakil rakyat yang berasal dari dunia musik juga akan meneruskan aspirasi dari para pemangku kepentingan.

“Sama halnya saat mengusulkan RUU Permusikan juga berpijak pada aspirasi dan masukan dari stakeholder. Ini proses konstitusional yang lazim dan biasa saja,” tambah Anang.

Musisi 49 tahun ini berharap situasi di ekosistem musik kembali kondusif dan semua persoalan bisa dihadapi dengan kepala dingin.

“Persoalan yang terjadi di sektor musik di Indonesia mari kita rembuk dengan baik melalui musyawarah besar ekosistem musik di Indonesia,” tambah Anang.

Musisi asal Jember ini berharap, penyelenggaraan musyawarah besar dapat dilakukan tak lama setelah Pemilu 2019.

“Kita berembuk bersama, kita beber persoalan yang ada di sektor musik dan bagaimana jalan keluarnya,” katanya.

Menurut suami penyanyi Ashanty itu,
tantangan di industri musik Indonesia dari waktu ke waktu semakin rumit. Buah pikiran dan pendapat dari orang-orang di dalam ekosistem musik dinilai penting untuk mencari solusi dari segala tantangan yang dihadapi.

“Seperti konstruksi hukum di sektor musik kita masih 2.0, padahal saat ini eranya sudah 4.0. Di Amerika, pada 11 Oktober 2018 lalu baru disahkan Music Modernization Act (MMA), regulasi terkait dengan hak cipta untuk rekaman audiao melalui teknologi berupa streaming digital. Bagaimana dengan kita di Indonesia?” kata Anang.

Terkait hal itu, dia mengatakan belum ada aturan tentang pajak di sektor musik yang saat ini banyak memanfaatkan medium digital.

Anang juga menyoroti pentingnya keberadaan data besar (big data) untuk memuat seluruh daftar musik di Indonesia.

Anang berkata, keberadaan UU Serah Simpan Karya Rekam Karya Cetak (SSKRKC) yang mengamanatkan seluruh karya rekam diserahkan ke perpustakaan nasional, masih menimbulkan pertanyaan.

“Pertanyaannya, apakah seluruh lagu di Indonesia didata oleh perpustakaan nasional? Apakah hal tersebut telah menjawab kebutuhan di sektor musik.”

Dia juga menyinggung soal pendidikan musik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta. Dia mempertanyakan soal keselarasan kurikulum pendidikan musik dengan kurikulum vokasi di Indonesia.

Pada 2016, Badan Ekonomi Kreatif menyebut terdapat 33.482 badan usaha musik di Indonesia yang mengungkapkan standar pendapatan minimum pelaku musik sebesar di atas Rp3 juta.

“Apakah angka tersebut terkait dengan eksistensi profesi musisi? Meski kalau dilihat data Bekraf tahun 2016, kontribusi sektor musik ke Produk Domestik Bruto (PDB) hanya 0,48 persen,” papar Anang.

Namun, subsektor lainnya seperti kuliner dan televisi yang merupakan penyumbang terbesar PDB banyak memanfaatkan sektor musik, tapi tidak terefleksikan dari kontribusi PDB dari sektor musik.

“Ada disparitas tajam antara subsektor televisi dan radio (8,27 persen) dan kuliner (41,40 persen) dengan subsektor musik.”

Sebagian persoalan tersebut, kata Anang, dijawab secara bersama-sama oleh pemangku kepentingan dalam musyawarah.

Baca juga: Anang menyangkal jadi perumus draft RUU Permusikan

Baca juga: Tanggapan Anang Hermansyah soal kritikan Jerinx

Baca juga: Iqbaal Ramadhan optimistis RUU Permusikan dibuat untuk kebaikan musisi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Radio Australia, Kanada, Selandia Baru tak putar lagu Michael Jackson

Jakarta (ANTARA) – Stasiun radio di Australia, Kanada dan Selandia Baru menolak memutarkan lagu Michael Jackson atas tuduhan pelecehan seksual pada anak yang baru-baru ini kembali mengemuka.

Nova Entertainment di Sydney, Kamis, jadi grup radio terbaru yang mengumumkan mereka tidak akan memperdengarkan lagu Michael Jackson atas respons terhadap opini publik.

Keputusan itu dibuat setelah pemutaran dokumenter “Leaving Neverland” di AS yang menampilkan dua pria yang mengklaim jadi korban pelecehan seksual Raja Pop itu selama bertahun-tahun.

“Atas apa yang baru terjadi, SmoothFM saat ini tidak memutar lagu Michael Jackson,” kata media lokal mengutip direktur program Nova Paul Jackson.

Tayangan dokumenter itu belum diputar di Australia. ARN, jaringan radio terbesar kedua di Australia, mengatakan mereka “memantau sentimen pendengar pada hubungan terhadap individu artis.”

Di Selandia Baru, lagu-lagu Michael Jackson juga tidak terdengar di radio, setelah ditarik oleh dua jaringan radio terbesar di negara tersebut, MediaWorks dan NZME.

Dua perusahaan itu mendominasi radio komersial.

“Kami tidak memutuskan apakah Michael Jackson bersalah atas pedofilia, kami hanya memastikan stasiun radio kami memutarkan musik yang ingin orang dengar, ” ujar direktur konten MediaWorks Leon Wratt pada Magic FM.

Dia mengatakan keputusan itu mewakili pendengar dan keinginan mereka.

Direktur hiburan grup NZME, Dean Buchanan, mengonfirmasi bahwa lagu Michael Jackson tidak diputar di radio, meski dia menghindari bicara soal pelarangan.

Sementara itu, Radio NZ mengatakan lagu-lagu Jackson memang tidak ada di daftar lagu mereka.

Dokumenter HBO yang tayang di AS, Minggu, membuat orang kembali bertanya-tanya tentang hubungan Jackson dengan anak-anak.

Dua pria, James Safechuck dan Wade Robson, mengatakan Jackson melakukan pelecehan seksual saat mereka berusia 10 dan 7 tahun.

Sepanjang hidupnya, desas-desus itu selalu terdengar, namun tidak ada tuduhan yang terbukti.

Dokumenter yang terbagi jadi dua tayangan dengan total durasi empat jam, yang tayang perdana di Festival Film Sundance tahun ini, membuat tuduhan itu terus berlanjut satu dekade setelah sang penyanyi tewas akibat overdosis.

Jackson Estate membantah tuduhan tersebut dan menggugat 100 juta dolar AS pada HBO.

Keputusan untuk tidak memutar musik Jackson tak diragukan lagi akan semakin menodai citranya dan mengakibatkan berkurangnya royalti radio.

Tetapi belum diketahui apakah pendengar di platform digital juga bakal meninggalkan musik sang penyanyi, dan “The Essential Michael Jackson” masih merupakan album ke-65 yang paling banyak diunduh di Australia.

Sebelumnya, belasan stasiun radio Kanada mengatakan mereka tidak akan memainkan lagu ternama Jackson seperti “Billie Jean” dan “Bad” untuk saat ini.

“Kami memperhatikan komentar-komentar para pendengar, dan film dokumenter yang dirilis pada Minggu malam membuat mereka bereaksi,” kata Christine Dicaire dari Cogeco – yang mengoperasikan stasiun radio di Quebec dan Ontario – dalam sebuah pernyataan.

“Untuk saat ini, kami lebih suka mengamati situasi dengan menghapus lagu dari stasiun kami.”

Di Inggris, di mana “Leaving Neverland” akan dirilis pada hari Rabu dan Kamis, berbagai laporan mengatakan BBC juga menangguhkan musik Jackson.

Baca juga: Film dokumenter Michael Jackson “Leaving Neverland” hebohkan Sundance

Baca juga: Keluarga Michael Jackson sebut “Leaving Neverland” ibarat hukuman mati

Baca juga: Michael Jackson Estate tuntut HBO Rp1,4 triliun

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Red Velvet akan rilis versi Korea “Sayonara”

Grup K-pop Red Velvet pekan ini akan merilis versi Korea dari single digital terbaru “Sayonara” yang diluncurkan di Jepang bulan lalu.

SM Entertainment, seperti dilansir Yonhap, mengatakan single itu diluncurkan di Jepang pada 20 Februari sebagai lagu musim dingin yang liriknya mengisahkan kenangan dan kebahagiaan dari cinta yang lalu.

Red Velvet akan merilis versi bahasa Korea dari lagu itu pada Jumat (8/3) pukul 12 siang waktu Korea Selatan melalui toko musik online, seperti Melon dan Genie.

Lagu Februari itu diluncurkan menyusul kesuksesan konser Red Velvet di kota-kota Negeri Sakura, termasuk Fukuoka dan Kobe.

Bulan lalu, tiket konser Red Velvet di Amerika Utara laris terjual.

Baca juga: Konser Red Velvet rampung di AS, berlanjut ke Kanada

Baca juga: “Power Up” Red Velvet masuk 50 video klip terbaik Billboard

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rayakan album baru, The Adams gelar pertunjukan eksperimental

Jakarta (ANTARA) – Untuk merayakan peluncuran album ketiganya yang berjudul “Agterplaas”, The Adams menggelar sebuah showcase. Uniknya, para personel tidak berada dalam satu panggung, melainkan terpisah di lima tempat yang berbeda.

Setelah 13 tahun absen dari industri musik, The Adams akhirnya menelurkan album ketiga. Karena ini adalah momen yang istimewa, mereka juga pun ingin pertunjukannya juga digarap dengan konsep yang berbeda.

“Konsepnya sebenarnya sederhana sih, kayak kita lagi di tempat latihan di studio saja. Kan kalau di ruangan gitu kan, gue berdiri di mana, Ale (Saleh) dirinya di mana, kita pasti punya tempat masing-masing. Nah, tempat-tempat ini ditarik mundur, jadi kita kayak sendiri-sendiri padahal kalo dijadiin satu sama aja. Cukup eksperimental ya, ya mumpung 13 tahun lah,” jelas Ario dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Benar saja, saat showcase di mulai, penggemar The Adams akhirnya terpencar dengan tempat idolanya masing-masing. Awalnya, penonton sempat kebingungan. Namun akhirnya, mereka tetap bisa menikmati pertunjukan dari The Adams.

Para personel The Adams pun saling bersautan ketika berbicara dengan penonton dan mengundang gelak tawa. Pasalnya, hal tersebut memang menjadi pemandangan yang lucu karena mereka tidak saling melihat satu sama lain.

“Bingung ya mau nontonnya di mana. Kita mau eksperimen aja bikin pertunjukan kayak gini yang di luar kebiasaan kita,” celetuk Saleh Husein, vokalis dan gitaris The Adams.

The Adams mengenalkan lagu-lagu baru mereka seperti “Esok”, “Lingkar Luar”, “Gelap Malam”, “Sendiri Sepi”, “Sinar Jiwa”, “Pesona Persona” serta “Agterplaas”.

“Lagu berikutnya, ini lagu sangat sentimentil buat gue. Jadi gimana rasanya kalau lo kangen sama seseorang yang sudah enggak ada,” kata Saleh, sebelum memulai lagu “Dalam Doa”.

Tak hanya lagu baru, The Adams pun memuaskan kerinduan penggemarnya dengan memainkan lagu-lagu lama seperti “Waiting”, “Hello Benny” dan “Hanya Kau”. Lalu, penampilan mereka ditutup dengan hits “Konservatif” yang dinyanyikan oleh semua penonton yang hadir di Studio Palem, Kemang, Jakarta.

Baca juga: Alasan The Adams “hilang” selama 13 tahun

Baca juga: Setelah 13 tahun, The Adams akhirnya rilis album ketiga

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan The Adams “hilang” selama 13 tahun

Jakarta (ANTARA) – 13 tahun absen dari industri musik bukanlah waktu yang sebentar. The Adams mengaku jika selama ini mereka memang terlalu santai untuk membuat album.

Band yang terdiri dari Ario Hendarwan (vokal, gitar), Saleh Husein (vokal, gitar), Gigih Suryoprayogo (vokal, drum) dan Pandu Fathoni (vokal, bass) ini mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak benar-benar hilang dari panggung musik. Sesekali The Adams masih suka tampil di sebuah acara.

“Sebenarnya sih waktu kita cukup santai, semua kita kerjain sendiri. Kita cukup lama menghilang juga, manggung juga cuma setahun sekali. Tapi sebenarnya kita juga ada rencana bikin-bikin album dari 2009,” kata Saleh dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Para personel The Adams memang tidak semuanya murni terjun di dunia musik. Di antara mereka pun ada yang bekerja dibidang lain. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu kendala untuk berkumpul.

Namun, band yang mempopulerkan lagu “Konservatif” ini sadar sudah cukup lama hilang. Akhirnya mereka pun bertekad harus membuat album dengan serius.

Gue pikir energinya kita emang lagi ke situ. Ya sudah kita bikin album saja deh. Keinginan bikin album baru itu ada dari 2009 tapi ya terus hilang begitu saja. Sampai akhirnya kita kayak ada reminder-nya bahwa kita sudah hilang cukup lama, sampai ada yang nanya The Adams itu masih ada apa enggak,” jelas Ario.

Album ketiga The Adams yang berjudul “Agterplaas” bisa dibilang sebagai bukti bahwa mereka masih eksis. The Adams pun banyak bereksperimen dalam musik yang dimainkan.

“Kita bikin aja sih, enggak ada ekspektasi apa-apa. Ini jadi kayak pecah telor juga sih. Kita pakai demo yang dari 2009 juga tapi cuma beberapa aja. Kelemahan ngerjain semuanya sendiri itu, waktunya jadi enggak berbatas. Jadi cost yang paling mahal adalah di makan dan waktu,” ujar Ario.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akhiri karir, Boyzone persembahkan konser perpisahan untuk Stephen Gately

Jakarta (ANTARA) – Boyzone, boyband yang terkenal di era 90-an akan menggelar konser perpisahan di Tenis Indoor, Senayan, pada 24 Maret, yang bertajuk “Thank You and Goodnight Farewell Tour 2019”.

Konser ini akan mengakhiri perjalanam bermusik Boyband asal Irlandia itu. Mereka pun menyiapkan penampilan spesial karena penampilan itu akan dipersembahkan untuk mendiang Stephen Gately yang meninggal pada 2009 akibat kelainan jantung.

Managing Director Fullcolor Entertainment, David Ananda Marten mengatakan, “kami sangat bergembira sekali saat Boyzone bersedia konser di Indonesia dalam perjalanan yang bersejarah ini.”

“Ini akan menjadi konser yang spektakuler, karena konser ini rangkaian konser terahir mereka sebelum mereka benar-benar membubarkan diri,” ujar David kepada awak media di Jakarta, Rabu.

Dalam kesempatan yang sama, Isyana yang terpilih sebagai penyanyi pembuka dalam konser nanti mengungkapkan, bahwa ia memang mengagumi Boyzone sejak kecil karena diperdengarkan lagu-lagu tersebut oleh Ibu dan Bapaknya.

“Sejak saya masih SD kelas 2-3 kalau tidak salah dan saya bersama orang tua saya sering banget nyanyi bersama di mobil. Itu yang aku ingat sampai hari ini,” ungkapnya.

Isyana diperkirakan akan menyanyikan dua sampai empat lagu dari hitsnya sendiri untuk membuka pagelaran konser yang bersejarah bagi fans Boyzone di Indonesia.

“Aku akan kasih performance yang terbaik karena ini kesempatan enggak akan datang lagi dan aku dipercaya jadi pembuka boyband legendaris yang ikonik banget,” lanjutnya.

Perwakilan Official promotor Super Sonic, Rendy menambahkan pada konser terakhirnya ini, Boyzone meminta kepada pihak penyelenggara untuk memilih tempat yang mempunyai kapasitas yang tidak terlalu luas karena mereka ingin berada sedekat mungkin dengan penggemarnya.

“Dari pihak mereka memang mintanya lokasi yang tidak terlalu besar yang berkapsitas sekitar 5.000 dan juga sama halnya dengan penjualan tiket yang hanya terbatas agar mereka bisa lebih dekat dengan penonton, maka dari itu kita pilih Tenis Indoor, Senayan, Jakarta,” tambah Rendy.

Penjualan tiket akan dilakukan secara eksklusif melalui Traveloka, yang juga menyediakan tiket terbatas untuk Meet & Greet bagi para penggemar yang ingin berfoto dan mengucapkan selamat tinggal kepada Boyband kesayangannya.

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Setelah 13 tahun, The Adams akhirnya rilis album ketiga

Jakarta (ANTARA) – Setelah hampir 13 tahun, akhirnya The Adams meluncurkam album baru. Album ketiganya ini diberi judul “Agterplaas”.

Agterplaas merupakan bahasa Afrika Selatan yang berarti teras belakang. Pemilihan nama tersebut memang disengaja, sebab menurut Ario Hendarwan (vokal, gitar), Saleh Husein (vokal, gitar), Gigih Suryoprayogo (vokal, drum) dan Pandu Fathoni (vokal, bass), semua proses pengerjaan album tersebut dilakukan di teras belakang rumah.

Secara garis besar, “Agterplaas” bercerita tentang fase hidup para personel The Adams selama 13 tahun absen dari industri musik. Kalau dulu bercerita tentang pulang jam 9 malam dan berwisata, kini mereka lebih banyak tentang mengenang masa muda atau merindukan mereka yang sudah tiada.

“Tema besarnya perjalanan waktu dari masa ke masa, tentang transportasi, kangen pada sesuatu atau mau ngedoain orang yang udah enggak ada,” ujar Saleh dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Untuk musik, mereka mengaku kini bermain lebih “liar” dan tanpa batasan tersebut. The Adams juga mengatakan jika konsepnya kali ini membuat mereka merasa lebih nyaman.

“Kita sekarang lebih banyak twist-nya aja. Ada part yang lo enggak percaya pada tempo yang udah cukup nyaman. Enggak ada formula khusus di sini, yang pasti kita berdistorsi aja, belaga mau metal, mau rock tapi enggak jadi. Kita senang main di situ aja,” jelas Saleh.

Album “Agterplaas” berisi 11 lagu yakni “Agterplaas”, “Masa-Masa”, “Pelantur”, “Lingkar Luar”, “Esok”, “Dalam Doa”, “Gelap Malam”, “Sinar Jiwa”, “Sendiri Sepi”, “Pesona Persona” dan “Timur”.

Album baru The Adams saat ini hanya tersedia dalam bentuk box set yang berisi CD album “Agterplaas” dan DVD film “Masa-Masa: Sebuah Dokumenter Pembuatan Agterplaas” arahan Cakti Prawirabishma. Box set ini dijual dengan harga Rp450 ribu.

Baca juga: Slank segera rilis album baru

Baca juga: Park Bom segera rilis album baru, diproduseri Brave Brothers

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019